Akselerasi 19 Kawasan Ekonomi Khusus Terus Berjalan, Nilai Investasi Capai Rp92,2 Triliun

Foto : istimewa

Pasardana.id - Pemerintah terus mengakselerasi pengembangan 19 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) demi masuknya investasi, sehingga mendorong terbukanya lapangan kerja.

Dari jumlah tersebut, delapan KEK industri telah beroperasi, dan tiga sisanya bersama delapan KEK Pariwisata masih dalam proses pembangunan.

"Tiga KEK lainnya masih dalam tahap pembangunan, yaitu Batam Aero Technic (BAT), Tanjung Api-api, dan Gresik," kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Eko SA Cahyanto di Jakarta, Senin (6/12).

Sementara itu, delapan KEK industri yang telah beroperasi itu adalah KEK Arun Lhokseumawe, KEK Sei Mangkei, KEK Galang Batang, KEK Kendal, KEK MBTK (Maloy Batuta Trans Kalimantan), KEK Palu, KEK Bitung, dan KEK Sorong.

Eko menjelaskan, ekspor produk yang berasal dari KEK terus terus meningkat. Pada tahun lalu, nilai ekspor KEK Sei Mangkei mencapai Rp5,18 triliun.

Angka ini terus bertambah seiring dengan berlanjutnya produksi oleokimia dari kawasan tersebut. Sedangkan, KEK Palu mencatatkan pendapatan ekspor sebesar Rp79,9 miliar.

“Kinerja ekspor produk yang berasal dari KEK terus berjalan dan terus meningkat. Hal ini menandakan bahwa kebijakan pemerintah masih on the right track,” ungkap Eko.

Di sisi lain, KEK juga membantu penciptaan lapangan kerja sehingga akan mendorong pemerataan ekonomi di berbagai wilayah. KEK Kendal misalnya, menyerap tenaga kerja terbanyak hingga mencapai 8.690 orang.

Diikuti KEK Galang Batang dengan jumlah penyerapan tenaga kerja sebanyak 4.531 orang. Secara keseluruhan, jumlah tenaga kerja yang telah terserap dengan hadirnya kawasan ekonomi khusus tersebut mencapai lebih dari 27 ribu orang.

Lebih lanjut, dari 19 KEK yang telah ditetapkan oleh pemerintah, terdapat total komitmen investasi sebesar Rp 92,9 triliun dan yang telah terealisasi mencapai Rp 54,6 triliun.

"Investasi terbesar diterima KEK Galang Batang dengan jumlah Rp12,8 triliun, disusul kemudian oleh KEK Sei Mangkei sebesar Rp5,2 triliun, dan KEK Kendal sebesar Rp2 triliun," ungkap dia.

Nilai komitmen tersebut semakin bertambah dengan hadirnya investasi PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Industri JIIPE Gresik yang telah melaksanakan peletakan batu pertama pembangunan smelter pada 11 Oktober 2021 lalu.

Dengan nilai investasi pembangunan smelter mencapai Rp42 triliun, PTFI melakukan pembangunan fasilitas pemurnian tembaga baru dengan desain kapasitas single line terbesar di dunia yang nantinya mampu mengolah 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahunnya dan akan menyerap sebanyak 40 ribu tenaga kerja.

"Smelter tersebut memerlukan pasokan gas yang stabil dan harga yang kompetitif yang telah disediakan oleh JIIPE sebagai pengelola kawasan industri," tandas Eko.