Menko Airlangga Sebut Investasi di 19 KEK Capai Rp64,4 Triliun

Foto : istimewa

Pasardana.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebutkan, nilai investasi yang telah mengalir di 19 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang ada di Indonesia mencapai Rp64,4 triliun per Oktober 2021 dan realisasi investasi pelaku usaha dan badan usaha mencapai Rp43 triliun.

Aliran investasi ini diklaim turut menyerap sekitar 23 ribu pekerja dari seluruh pelosok Indonesia.

"Kita sudah memiliki 19 KEK dan 15-nya sudah beroperasi dan investasinya sebesar Rp64,4 triliun," ungkap Airlangga di acara peresmian smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di KEK Gresik, Jawa Timur, Selasa (12/10).

Selain memberi aliran investasi dan penyerapan tenaga kerja, Airlangga juga mencatat, bahwa ada 150 perusahaan yang beroperasi di seluruh KEK.

Beberapa perusahaan melakukan aktivitas ekspor dengan nilai mencapai Rp3,8 triliun sampai Oktober 2021.

Saat ini, kata Airlangga, telah terdapat 19 KEK. Di mana KEK Gresik adalah salah satu dari 4 KEK tambahan.

Saat ini, komitmen investasi di 19 KEK berkembang menjadi Rp92,9 triliun dengan realisasi investasi pelaku usaha dan badan usaha mencapai Rp54,6 triliun.

Investasi tersebut berasal dari penambahan jumlah pelaku usaha di KEK menjadi sebanyak 167 pelaku usaha yang telah meningkatkan jumlah lapangan kerja menjadi sebanyak 27.090 orang.

KEK Gresik yang terletak di Provinsi Jawa Timur ditetapkan pada 28 Juni 2021 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2021.

KEK ini memilki lahan luas total sebesar 2.167 Ha dengan target nilai investasi dalam 5 tahun pertama sebesar Rp71 triliun.

Kegiatan utama dari KEK Gresik meliputi Industri Metal (Smelter), Industri Elektronik, Industri Kimia, Industri Energi dan Logistik.

PT Freeport Indonesia (PTFI) merupakan anchor tenant KEK Gresik dengan investasi pembangunan smelter mencapai Rp42 triliun dengan off takers ekspor maupun domestik.

Kapasitas smelter yang dibangun ini nantinya mampu mengolah 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahunnya, dan ini merupakan kapasitas single line terbesar di dunia.

“Hal tersebut tentu saja nantinya akan memberikan kontribusi positif terhadap nilai ekspor lndonesia maupun substitusi impor,” ujar Airlangga.

Selain itu, dengan pembangunan smelter di dalam negeri, akan menciptakan lapangan kerja sejumlah 40.000 orang pada masa konstruksi hingga tahun 2024.

Hal tersebut seiring dengan upaya Pemerintah yang terus mendorong pengembangan industri hilir tembaga agar memiliki nilai tambah bagi negara.

“Dengan adanya hilirisasi, kita ingin agar proses itu sebisa mungkin memberikan dampak yakni meningkatkan nilai tambah, lapangan kerja, dan kemandirian. Untuk itu mohon dukungan dari Bapak Menteri Perindustrian, untuk segera menciptakan hilirisasi industri turunan dari smelter dan Precious Metals Refinery sehingga ada off taker industri dalam negeri,” ucap Menko Airlangga.

Adapun kewajiban hilirisasi nilai tambah tembaga adalah amanah dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba).