ANALIS MARKET (25/10/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi kembali mengalami kenaikkan, tapi akan menjadi jauh lebih sulit pada pekan ini.

Pasalnya, pada pekan ini ada 2 pertemuan Bank Sentral yang akan membuat situasi dan kondisi menjadi cukup sulit.

Bank Sentral yang akan mengadakan arisan adalah Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Jepang. Keduanya sedang mengalami pemulihan ekonomi.

Jepang pun data PMI Manufacturing, Services, dan Composite bagus sekali. Bahkan berada di atas 50, meskipun pertanyananya sederhana, apakah ini konsisten atau tidak.

Sejauh ini, kami menyakini bahwa situasi dan kondisi masih belum akan membuat Bank Sentral Jepang melakukan sesuatu yang lebih terkait dengan pemberian stimulus, karena pemerintahan baru di Jepang juga masih dalam keadaan tanda tanya.

Oleh sebab itu, Bank Sentral Jepang ada kemungkinan masih akan menahan pemberian stimulusnya hingga ada kepastian yang lebih pasti terkait dengan program baru dari pemerintahan Jepang.

Nah kalau Bank Sentral Eropa, mereka tampaknya semakin yakin untuk memasuki musim Taper Tantrum. Oleh sebab itu, ada kemungkinan langkah langkah nyata akan digambarkan pada pertemuan Bank Sentral Eropa nanti.

Well, yuk kita nantikan bersama, bagaimana sikap dari Bank Sentral Eropa itu sendiri.

“Pagi ini pasar obligasi diperkirakan masih akan dibuka menguat dengan potensi menguat terbatas. Kami merekomendasikan beli,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (25/10/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.SEBUAH KOMENTAR

Ketua The Fed, Jerome Powell mengatakan bahwa dirinya prihatin dengan kenaikkan inflasi yang terus menerus mengalami kenaikkan di level tertingginya, sementara Powell harus menyampaikan terkait dengan program Taper Tantrumnya. Namun Powell sendiri berjanji untuk tetap bersabar dalam menaikkan tingkat suku bunga, sehingga semua kembali lagi kepada data yang ada. Powell mengatakan bahwa risikonya sudah sangat jelas saat ini bahwa situasi dan kondisi yang ada saat ini, berpotensi besar untuk terjadi dengan durasi waktu yang lebih lama, persisten, dan didukung oleh inflasi yang lebih tinggi. Powell sendiri mengatakan bahwa kebijakan The Fed yang ada saat ini sudah berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengelola dan memperkirakan hasil yang lebih baik. Powell sendiri setuju untuk mulai mengurangi pembelian obligasi di pasar, namun Powell sendiri tidak pernah berfikir untuk menaikkan tingkat suku bunga saat ini. Powell dan rekan rekannya di The Fed akan menetapkan sebuah kebijakan Taper Tantrum yang diperkirakan akan diumumkan pada pertemuan The Fed pada tanggal 2 – 3 November mendatang. Disana tentu kita akan mendengar lebih banyak cerita tentang kapan timeline Taper Tantrum akan dilakukan dan berapa besar nilai yang akan dikurangkan dari posisi saat ini yang berada di $120 miliar, $80 miliar dari US Treasury dan $40 miliar dari hipotek. Pengurangan pembelian obligasi akan menjadi sebuah langkah pertama The Fed dalam menaikkan tingkat suku bunga dan mengurangi stimulus yang ada saat ini. Powell mengatakan bahwa dirinya juga terlihat lebih cemas terkait dengan inflasi yang terus meningkat pada akhir pekan kemarin, karena nilai inflasi di pasar keuangan telah naik ke level tertingginya dalam beberapa decade terakhir. Kecemasan Powell terhadap inflasi jauh lebih besar dari pada ketenagakerjaan yang selama ini justru menjadi perhatian bagi Powell. Powell sendiri selalu menyakini bahwa inflasi hanya akan berlangsung sementara, dan akan berkurang dengan sendirinya. Penguatan inflasi sendiri terjadi karena adanya pembukaan kembali perekonomian, namun terganggungya pasokan dan krisis energi yang terjadi justru membuat situasi dan kondisi lebih lama bagi inflasi untuk mengalami penurunan. Pelaku pasar dan investor sendiri juga cemas terkait dengan inflasi yang terus bergerak mengalami kenaikkan sehingga membuat mereka berharap bahwa tingkat suku bunga dapat segera di naikkan untuk menjaga perekonomian tidak terlalu panas dengan mengatur jumlah uang yang beredar. Saat ini memang benar inflasi merupakan salah satu yang dikejar oleh The Fed untuk mendorong perekonomian, dan lagipula The Fed sendiri memiliki target inflasi 2% supaya hal tersebut dapat di capai. Dan pada kenyataannya target itu sekarang terpenuhi lebih dari perkiraan sebelumnya. Pengakuan The Fed akan inflasi yang tidak kunjung turun, akan menjadi salah satu point yang diharapkan oleh investor supaya mereka mengharapkan bahwa The Fed bertindak untuk menjaga inflasi terkendali. Respon The Fed saat ini sangat dibutuhkan oleh pasar, setelah sebelumnya Powell selalu mengatakan bahwa inflasi terkendali. Powell mengatakan bahwa inflasi masih berpeluang untuk mengalami penurunan, ketika permasalahan terhadap pasokan berkurang seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya. The Fed sendiri melihat ada risiko yang sangat serius apabila inflasi terus bergerak menguat ke titik yang lebih tinggi, oleh sebab itu The Fed akan merespon hal tersebut dengan menggunakan tools yang mereka miliki untuk menjaga stabilitas harga sembari mempertimbangkan implikasi inflasi sebagai tujuan kerja The Fed. Berbicara ketenagakerjaan, saat ini masih sangat banyak masyarakat Amerika yang belum bekerja, dan hal tersebut masih berada di bawah level pada saat pandemic. Akselerasi perekrutan tenaga kerja terlihat melambat pada bulan August dan September ketika Covid 19 Delta Version datang kembali menghantui pergerakan ekonomi. The Fed mengatakan saat ini masih terlalu dini bagi The Fed untuk memperketat kebijakan, karena akan berakibat memperlambat pertumbuhan ketenagakerjaan. Namun demikian apapun yang akan dilakukan oleh The Fed nantinya, pengaruhnya akan terjadi pada potensi output perekonomian. Ditempat terpisah, Menteri Keuangan Janet Yellen mengatakan bahwa dirinya memperkirakan inflasi akan tetap berada di titik tertinggi pada semester pertama 2022 mendatang, namun Yellen sendiri menegaskan bahwa inflasi masih terkendali. Inflasi diperkirakan masih akan tetap tinggi pada semester ke 2 mendatang karena masih terjadinya gangguan pasokan, pasar tenaga kerja yang membaik. Inflasi yang tinggi saat ini hanyalah rasa sakit yang sementara. Yellen mengatakan bahwa saat ini Amerika masih memegang penuh akan kendali inflasi, meskipun banyak masyarakat Amerika yang belum pernah melihat inflasi seperti ini untuk jangka waktu yang lama. Selain inflasi, Yellen sendiri mengomentari promosi yang akan diberikan oleh Yellen kepada Powell untuk tetap menjabat pada jabatan ke duanya. Yellen mengatakan bahwa regulasi keuangan sangat kuat dibawah kepemimpinan Powell. Selama pandemic terjadi pun, system keuangan kami berjalan sangat baik, karena adanya peningkatan likuiditas modal, management risiko, dan pengujian tingkat stress yang sangat baik. Dan itu semua dijaga selama Powell memimpin. Ditengah perhatiannya terhadap inflasi, Yellen juga menaruh perhatian terhadap plafon utang saat ini. Yellen meminta bahwa secepatnya plafon utang di Amerika dapat dinaikkan, karena adanya potensi default ditengah situasi dan kondisi yang ada saat ini. Amerika sendiri masih membutukan deficit pada tahun 2021 karena adanya bantuan untuk membantu masyarakat dari Covid 19. Saat ini deficit fiscal mencapai $2.77 triliun, dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang dimana nilainya berada lebih tinggi yaitu $3.1 triliun. Deficit menyempit dari sebelumnya 15% pada tahun 2020, sekarang menjadi 12.4% pada tahun 2021. Perjalanan masih akan panjang, pekan ini akan mencuri perhatian karena ada pertemuan dari Bank Sentral Jepang dan Eropa. Apapun itu, tentu kita mengharapkan yang terbaik dari pertemuan keduanya.