ANALIS MARKET (27/10/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, Bank Sentral Korea Selatan semakin yakin, bahwa mereka akan menaikkan tingkat suku bunganya.

Di tengah situasi dan kondisi terkait dengan pemulihan ekonomi di Korea Selatan, meskipun tertahan, namun proyeksi perekonomian tetap diperkirakan akan tumbuh 4%.

Hal inilah yang membuat Bank Sentral Korea Selatan yakin, bahwa menaikkan tingkat suku bunga adalah salah satu cara untuk mengawal pertumbuhan.

Ada kemungkinan yang sangat besar, bahwa Bank Sentral Korea Selatan akan menaikkan tingkat suku bunga pada bulan November mendatang. Sebuah kode keras sudah diberikan, dan tentunya menjadi sebuah perhatian.

Setelah dari gossip, yuk kita bahas mengenai lelang kemarin (26/10). Total penawaran yang masuk berada di Rp 69.5 T, tentu ini menjadi sebuah tanda bahwa pasar obligasi masih diminati, hanya saja, total serapan akan lebih terbatas. Obligasi jangka pendek masih menjadi primadona, selain untuk meredam volatilitas pasar nantinya ketika Taper Tantrum terjadi, namun juga sebagai bantalan dalam menghadapi penurunan secara harga.

“Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka menguat dengan potensi menguat terbatas. Kami merekomendasikan beli,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (27/10/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.COUNTER ATTACK!

Pada akhirnya pemirsa, Korea Selatan pun juga mulai terlihat mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi yang lagi lagi disebabkan oleh Covid 19, meskipun pemulihan ekonomi masih tetap berada di jalurnya, hanya saja akan sedikit melambat. Oleh sebab itu, karena pemulihan ekonomi masih berada di jalurnya, hal ini tidak akan mengubah apapun pandangan terkait dengan rencana Bank Sentral Korea untuk menaikkan tingkat suku bunganya. Pertumbuhan ekonomi turun secara QoQ pada Q3 2021 dari 0.8% menjadi 0.3%. Yang dimana, angka tersebut lebih dalam dari proyeksi para consensus sebelumnya. Namun imbal hasil obligasi Korea Selatan, tetap mengalami kenaikkan, hal ini dipandang oleh pelaku pasar dan investor bahwa Bank Sentral Korea Selatan tidak akan mengubah rencananya untuk menaikkan tingkat suku bunga pada bulan November mendatang. Bank Sentral Korea Selatan juga mengatakan bahwa hal tersebut juga terkait dengan adanya hambatan masalah rantai pasokan global yang merugikan investasi dan pembatasan pengeluaran rumah tangga akibat lockdown. Bank Sentral Korea masih optimis, bahwa dalam kurun waktu 3 bulan terakhir tahun ini, perekonomian akan tetap berada dan memenuhi ekspektasi secara tahunan untuk berada di 4%. Dengan lebih dari 70% populasi saat ini yang sudah di vaksinasi penuh, pemerintah merencanakan untuk melepaskan pembatasan dan melakukan normalisasi aktivitas secara bertahap, sehingga mendorong masyarakat untuk dapat melanjutkan aktivitas, yang diharapkan dapat mendorong konsumsi sehingga daya beli mengalami peningkatan. Pemulihan ekonomi di Korea Selatan mungkin akan kehilangan momentum pada Q4 karena adanya Covid 19 yang masih membatasi ruang gerak, namun kami yakin bahwa pada Q4 jugalah, dengan dukungan vaksinasi 70%, maka akan mendorong normalisasi aktivitas akan kembali dilakukan. Setelah memulai melakukan pengetatan kebijakan pada bulan August silam, para regulator berusaha untuk meredam kenaikkan harga asset. Gubernur Bank Sentral, Lee Ju-yeol mengatakan Bank Sentral Korea akan mempertimbangkan kenaikkan tingkat suku bunganya pada bulan November mendatang, namun dengan catatan apabila pemulihan ekonomi di Korea Selatan berjalan lebih baik. Hal ini yang memberikan kode keras dari Bank Sentral Korea Selatan bahwa ada potensi lebih dari 50% bahwa tingkat suku bunga akan kembali di naikkan pada bulan November mendatang. Apalagi pajak bahan bakar juga direncanakan akan dikurangi sehingga dorongan untuk konsumsi akan mengalami kenaikkan. Sejauh mata memandang, ekspor Korea Selatan tetap tinggi tahun ini, karena adanya permintaan dari global yang sangat kuat. Namun beberapa penutupan pabrik di Asia Tenggara menciptakan tantangan bagi Korea Selatan khususnya dalam mengamankan komponen manufacture utama, terutama dalam industry pembuatan mobil Korea. Ekspor Korea Selatan secara riil mengalami kenaikkan sebesar 1.5%, namun investasi turun 2.3%. Bank Sentral Korea Selatan juga melihat bahwa krisis energi yang terjadi di China serta perlambatan ekonomi China akan memberikan dampak terhadap ekonomi Korea. Sebagai Informasi, setiap perlambatan 1 poin persentase pertumbuhan ekonomi China, maka akan mengurangi 0.1% - 0.2% persentase ekspansi korea. Sebagai catatan, 80% ekspor Korea ke China adalah barang setengah jadi. Oleh sebab itu penting untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi yang terjadi di China, apalagi ditengah situasi dan kondisi saat ini yang dimana China masih berjibaku terkait dengan masalah energi dan pertumbuhan ekonomi. Kami menyakini bahwa Korea Selatan akan kembali menaikkan tingkat suku bunga mereka, dan ini akan menjadi kali ke 2 dalam kurun waktu 1 tahun terakhir sejak pemulihan ekonomi di China berlanjut. Apakah ini yang dinamakan kebijakan head of the curve? Ataukah memang situasi dan kondisi yang ada saat ini mendorong Bank Sentral Korea Selatan untuk menaikkan tingkat suku bunga? Inflasi sendiri berpotensi akan berada di atas 3% pada bulan October mendatang, yang dimana inflasi di level 3% terlihat pada tahun 2012 silam. Yuk kita berdoa, semoga pertumbuhan ekonomi Indonesia juga kian yahud, yang didukung oleh meningkatnya daya beli.