ANALIS MARKET (18/01/2021) : Secara Teknikal, Pasar Obligasi Berpotensi Menguat

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi memasuki fase kenaikkan, meskipun obligasi jangka panjang masih mengalami penurunan.

Pasar obligasi masih terlihat belum terlalu bergairah, dan kami melihat justru ada potensi mengalami penurunan pada transaksi hari ini karena adanya lelang yang diadakan oleh pemerintah esok hari.

Dan seperti biasa, biasanya pasar obligasi mengalami kenaikkan imbal hasil menjelang lelang obligasi konvensional, karena tentu saja hal ini akan memberikan kesempatan bagi pelaku pasar dan investor untuk mendapatkan obligasi dengan imbal hasil yang tinggi.

Sejauh ini pasar obligasi masih mencari bentuk terbaiknya di awal tahun, capital inflow yang biasanya masuk pada bulan January, tidak terlalu terlihat January tahun ini.

Justru mengalami capital outflow, meskipun tidak serta merta keluar karena ada potensi merubah portfolio dari obligasi menjadi saham.

Namun justru yang menarik adalah kenaikkan imbal hasil obligasi justru menjadi suatu tanda yang positive bahwa pasar keuangan, baik saham maupun obligasi belum terlalu panas.

Kenaikkan imbal hasil harus berbanding sejalan dengan kenaikkan indeks saham, sehingga jarak diantara keduanya tidak boleh terlalu jauh.

Nah, total penawaran yang akan masuk besok berpotensi berada di rentang Rp 55 T – Rp 75 T, bahkan ada potensi lebih karena tentu saja hal tersebut akan memberikan optimism bagi pasar.

Namun pertanyaannya adalah, sejauh mana pasar obligasi menguat, sejauh itu pula keyakinan prospek perekonomian Indonesia dari pelaku pasar dan investor dalam jangka panjang.

Mengapa hal ini dibahas? Karena ini akan mempengaruhi yield curve bagi obligasi Indonesia.

Pekan ini akan menjadi pekan yang menantang bagi pasar obligasi, pasalnya obligasi akan menantikan pertemuan Bank Sentral Indonesia, Eropa, dan Malaysia. Meskipun secara tingkat keyakinan kami melihat bahwa tingkat suku bunga masih belum akan berubah dari berbagai Bank Sentral tersebut.

Justru yang masih dinantikan adalah kebijakan non moneter yang akan menjadi salah satu tolok ukur sejauh mana bauran kebijakan dari Bank Sentral akan mendorong fase pemulihan perekonomian.

Lebih lanjut, analis Pilarmas menilai, diperdagangan Senin (18/01) pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan melemah meskipun secara teknikal analisa pasar obligasi ada potensi menguat.

“Kami merekomendasikan beli,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (18/01/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.BYE BYE XIAOMI

Kabar yang tidak terduga datang dari Pemerintah Amerika Serikat yang dimana tidak disangka tak dinyana, Perusahaan China yang kita kenal dengan Xiaomi pada akhirnya harus masuk ke dalam daftar hitam perusahaan yang di blacklist oleh Amerika karena diduga Xiaomi memiliki hubungan dengan Angkatan Militer milik China yang dimana juga memiliki sangkut paut dengan kasus Laut China Selatan. Ini merupakan salah satu kasus terakhir sebelum pada akhirnya Presiden Trump turun dari jabatannya yang akan memberikan tekanan terhadap Pemerintahan Joe Biden mendatang. Xiaomi merupakan salah satu perusahaan dari China yang ditambahkan kedalam daftar perusahaan yang memiliki hubungan dengan Angkatan Militer China atau Kementrian Pertahanan China. Hal tersebut tentu saja membuat pembatasan untuk investasi Xiaomi kedepannya. Kementrian Perdagangan juga masih melakukan pertentangan terhadap China National Offshore Oil Corp terkait dengan penjelajahan dibawah air menggunakan teknologi Amerika tanpa izin. Meskipun demikian, China National Offshore Oil Corp sudah mengatakan bahwa mereka menyangkal hal tersebut, dan pada akhirnya tetap saja China National Offshore Oil pun harus masuk ke dalam daftar hitam yang dimana sudah terdapat lebih dari 60 perusahaan China yang masuk ke dalam daftar hitam. Juru bicara Kementrian Luar Negeri China, Zhao Lijian mengatakan bahwa tindakan pemerintahan Trump memberikan sebuah gambaran kepada masyarakat dunia dan komunitas internasional tentang apa itu unilateralisme, standar ganda, dan intimidasi. Pihak China akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk memastikan hak dan kepentingan yang sah dan tentu saja sesuai hukum untuk perusahaan China, dan tentu saja China akan mendukung perusahaan China dalam menegakkan hak dan kepentingan mereka di mata hukum. Sejauh ini juru bicara Xiaomi, Cnooc, dan Comac belum memberikan komentar apapun. Sejauh ini apa yang dilakukan oleh Trump terhadap China tentu saja mendapatkan pertentangan dari Biden dan pejabat partai Demokrat lainnya karena tanggung jawabnya nanti akan beralih kepada Presiden baru. Dan tentu saja apa yang dilakukan oleh Trump akan memberikan kesulitan yang lebih besar ketika Amerika dan China melakukan negosiasi kembali. Biden dan sekutunya telah berjanji untuk mengembangkan strategi yang lebih koheren untuk melawan China, meskipun sejauh ini masih belum jelas apakah akan ada perubahan kebijakan atau tidak dalam waktu dekat. Sebagai informasi, mungkin Trump menekan Xiaomi karena Xiaomi telah melewati posisi Apple dalam hal penjualan smartphone di dunia pada kuartal ke 3 lalu yang dimana ternyata Xiaomi juga berhasil melampaui penjualan dari Huawei. Huawei pun bukannya tidak mendapatkan tekanan, justru mendapatkan tekanan yang lebih berat ketimbang Xiaomi terutama dalam beberapa bulan terakhir. Apabila larangan yang diberikan oleh Pemerintah Amerika tidak segera di cabut, maka ada kemungkinan Xiaomi akan dihapus dari bursa Amerika dan akan dihapus dari indeks benchmark global. Sebelumnya China Mobile Ltd, China Telecom Corp, China Unicom Hong Kong Ltd telah dihapus oleh MSCI Inc minggu lalu, sedangkan S&P dan Dow Jones akan menghapus CNOOC dari daftar mereka. Efeknya apa? Efeknya tentu saja penurunan saham Xiaomi sebesar 10%, tidak hanya itu saja supplier dari Xiaomi pun mengalami penurunan cukup dalam bahkan lebih dalam dari Xiaomi yaitu sebesar 14%. Tindakan sembrono dan agresif China di Laut China Selatan dalam penggunaan kekayaan intelektual dan teknologi yang bersifat sensitive membuat ancaman secara tidak langsung kepada pihak Amerika. Wilbur Ross mengatakan bahwa Cnooc telah bertindak sebagai penindas yang dimana telah mengintimidasi negara tetangga China dan Angkatan Militer China terus mendapatkan keuntungan dari kebijakan kebijakan yang memiliki tujuan yang kurang baik. Sejauh ini dalam era kepemimpinan Presiden Trump, sudah ada 44 perusahaan China yang secara efektif dimiliki oleh Angkatan Militer China dibawah Undang Undang yang dimana hal tersebut memberikan wewenang kepada Presiden Amerika untuk memberikan sanksi kepada perusahaan tersebut. Trump sebelumnya telah menandatangani perintah pada bulan November lalu untuk melarang pemberian dana investasi dari Amerika terhadap perusahaan China yang dimiliki oleh pemerintah atau Angkatan Militer China, alih alih sebagai pemberian tekanan terhadap Pemerintah China. Kementrian Perdagangan Amerika telah membuat daftar hitam untuk melakukan pemberian Batasan terhadap lebih dari 100 bisnis yang memiliki hubungan dengan China, Venezuela, dan Rusia. Dan hal tersebut juga termasuk melarang Perusahaan Amerika untuk memasok supplier apabila tidak memiliki license. Xiaomi sebagi sebuah brand yang terkenal dengan kehandalan dalam teknologi namun dengan harga yang terjangkau tentu saja hal ini membuat situasi dan kondisinya menjadi sangat sulit. Dan tidak mungkin penggunaan Google Mobile Services akan di berhentikan, yang akan membuat hp Xiaomi menjadi seperti hp Huawei. Namun Huawei sendiri pada akhirnya mengembangan Huawei Mobile Services yang dilengkapi dengan Petal Search untuk mencari applikasi yang tidak tersedia di Huawei Mobile Services. Tentu ini akan menjadi salah satu hambatan terbesar bagi Xiaomi yang bergantung terhadap Google Mobile Services. Namun bukan Xiaomi namanya kalau menyerah begitu saja, oleh sebab itu ada kemungkinan besar Xiaomi pun akan mengembangkan ekosistemnya sendiri untuk menggantikan Play Store kedepannya khususnya dalam ketergantungannya terhadap Google Mobile Services.

2.PEKAN YANG PANJANG

Pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu cukup diwarnai berbagai sentiment. Mulai dari naiknya consumer confidene pada bulan Desember dari 92.0 menjadi 96.5, Penurunan Retail Sales November -16.3% YoY, dimulainya distribusi vaksin yang melibatkan tokoh – tokoh diberbagai kalangan dan surplusnya neraca perdagangan sebesar US$ 21 miliar. Surplusnya neraca perdagangan tersebut tidak direspon positif oleh pelaku pasar dimana IHSG ditutup dalam zona merah. Kami melihat saat ini pelaku pasar telah melakukan perhitungan dimana kenaikan harga sejak Senin telah merefleksikan data tersebut. Tentu ini cukup baik bagi perekonomian Indonesia dimana surplus neraca pada 2020 merupakan nilai tertinggi sejak tahun 2011. Nilai ekspor tercatat naik +8.39% MoM dan +14.63% YoY, sedangkan impor tercatat turun -0.47% MoM dan naik 14% YoY. Menurut data BPS, Sepanjang Desember Indonesia mengalami surplus perdagangan dari Amerika sebesar US$ 1,23 miliar, sebaliknya Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan dengan China sebesar US$ 1,12 miliar, Australia defisit sebesar US$260,2 juta dan Brasil sebesar US$203,3 miliar. BPS mencatat, impor dari China ke Indonesia pada Desember 2020 meningkat sebesar US$550,1 juta. Berdasarkan pangsa pasarnya, China masih memegang porsi tertinggi, yaitu 34,28% dari total impor pada periode tersebut. Sejalan dengan itu, pangsa ekspor nonmigas tertinggi juga masih ke China, dengan porsi sebesar 21,39% dari total ekspor. Untuk pekan ini kami melihat pergerakan IHSG akan lebih terbatas, mengingat pasar akan mencermati strategi BI dalam menjaga stabilitas moneter. Selain itu peresmian SWF dapat menjadi trigger positif bagi pergerakan saham emiten konstruksi. Namun yang menjadi menarik adalah tentu saja pelantikan Joe Biden yang akan memberikan sebuah harapan baru bagi Amerika dan tentu saja bagi dunia. Pelantikan Joe Biden sendiri merupakan salah satu yang bersejarah karena dirinya akan menjabat sebagai Presiden ditengah situasi dan kondisi yang sangat sulit akibat wabah virus corona. Ini merupakan situasi terburuk sejak Presiden John F Kennedy menjabat kala itu. Oleh sebab itu pidato Biden akan sangat dinantikan oleh dunia. Jadi minggu ini akan memiliki 3 perhatian yang menarik tentuya yang menjadi trigger pergerakan IHSG. Dan tentu saja hal tersebut akan menjadi sebuah tanda sector mana saja yang berpeluang untuk kita masuki.