Bank Indonesia Sebut Layanan Digital Meningkat Drastis di Tengah Pandemi

Foto : istimewa

Pasardana.id - Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi digital perbankan pada April 2020 meningkat signifikan sebanyak 37,35 persen (yoy).

Perkembangan ini mengindikasikan menguatnya kebutuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital di tengah wabah pandemi virus korona (covid-19).

"Transaksi ekonomi melalui digital meningkat pesat dan ini tentu saja memudahkan bagi masyarakat yang aktivitasnya meningkat secara virtual," kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam telekonferensi di Jakarta, Kamis, (18/6/2020).

Menurut Perry, saat ini perbankan juga berlomba memberikan kemudahan transaksi bagi nasabah mulai dari pengiriman uang hingga pembuatan rekening tanpa harus ke kantor cabang.

"Sektor keuangan apakah bank, fintech itu juga memberikan servis terbaik untuk transaksi keuangan secara digital. Bank misalnya sekarang semakin cepat, buka rekening kalau dulu harus ke bank kalau sekarang bisa lewat handphone," ucapnya. 

Adapun faktor lain yang mendukung, lanjut Perry, arahan pemerintah seperti social distancing, physical distancing sampai work from home (WFH).

Selain itu, ditambahkan Perry, saat ini sektor perbankan juga tengah berlomba untuk memberikan kemudahan transaksi kepada nasabah. Mulai dari pengiriman uang hingga pembuatan rekening tanpa harus ke kantor cabang.

"Apakah bank, fintech (financial technology) itu juga memberikan service terbaik untuk transaksi keuangan secara digital. Bank misalnya sekarang semakin cepat, buka rekening kalau dulu harus ke bank kalau sekarang bisa lewat hp," bebernya.

Ke depan, sebut Perry, Bank Indonesia akan terus meningkatkan efektivitas kebijakan sistem pembayaran di era kenormalan baru (new normal).

Khususnya untuk mendorong aktivitas ekonomi digital melalui perluasan implementasi Quick Response Indonesia Standard (QRIS) di berbagai sektor.

"Bank Indonesia juga terus mendukung efektivitas berbagai program pemerintah untuk pemulihan ekonomi nasional, seperti penyaluran bantuan sosial nontunai dan gerakan bangga buatan Indonesia melalui ketersediaan infrastruktur sistem pembayaran dan kemudahan penggunaan instrumen pembayaran," ungkap Perry.

Secara keseluruhan bank sentral mengklaim sistem pembayaran berjalan dengan lancar dan terjaga, baik tunai maupun nontunai. Adapun posisi Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) pada Mei 2020 mencapai Rp798,6 triliun, tumbuh negatif sebesar 6,06 persen (yoy).

"Kondisi ini sejalan dengan dampak menurunnya permintaan uang baik akibat kegiatan ekonomi pada masa pandemi covid-19 yang melemah maupun dampak penundaan cuti bersama Idulfitri," terang Perry.

Sejalan dengan kegiatan ekonomi yang menurun, transaksi nontunai menggunakan ATM, Kartu Debit, Kartu Kredit, dan Uang Elektronik (UE) pada April 2020 juga menurun dari minus 4,72 persen pada Maret 2020 menjadi minus 18,96 persen (yoy).

Namun demikian, transaksi UE pada April 2020 tetap tumbuh tinggi mencapai 64,48 persen (yoy) dan volume transaksi digital banking pada April 2020 tumbuh 37,35 persen (yoy).

"Perkembangan ini mengindikasikan menguatnya kebutuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital (EKD), termasuk meningkatnya akseptasi masyarakat terhadap digital payment di tengah penurunan aktivitas ekonomi selama masa PSBB," tandasnya.