Volume SUN Diperdagangan Selasa Kemarin Senilai Rp21,22 Triliun dari 33 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Rabu (10/4/2019) menyebutkan, volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin (09/4) mengalami peningkatan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu tercatat senilai Rp21,22 triliun dari 33 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa pelaku pasar cukup aktif melakukan transaksi di pasar sekunder.

Surat Utang Negara seri FR0068 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp4,42 triliun dari 103 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp4,19 triliun dari 116 kali transaksi kemudian diikuti dengan perdagangan Obligasi Negara FR0077 sebesar Rp4,16 triliun dari 37 kali transaksi.

Adapun dari perdagangan sukuk negara, Project Based Sukuk dengan seri PBS013 mengalami volume terbesar senilai Rp364,00 miliar dari 5 kali transaksi dan diikuti oleh seri PBS014 sebesar Rp300,00 miliar untuk 1 kali perdagangan.

Sementara itu, dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan lebih besar daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,59 triliun dari 38 seri obligasi korporasi yang ditransaksikan.

Obligasi Berkelanjutan II Adhi Karya Tahap I Tahun 2017 (ADHI02CN1) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp482,00 miliar dari 12 kali transaksi di harga rata - rata 100,00% dan diikuti oleh  Obligasi Berkelanjutan II Bank Maybank Indonesia Tahap IV Tahun 2019 Seri A (BNII02ACN4) senilai Rp213,00 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata - rata 100,02%.

Sementara itu, volume untuk Obligasi Berkelanjutan II Tower Bersama Infrastructure Tahap I Tahun 2016 (TBIG02CN1) sebesar Rp200,00 miliar dari 6 kali perdagangan dan Sukuk Mudharabah Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry I Tahun 2018 Seri B (SMLPPI01B) sebesar Rp140,00 miliar dari 4 kali transaksi.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin menguat sebesar 34 pts (0,24%) di level 14133,00 per Dollar Amerika dimana penguatan nilai tukar Rupiah terjadi disepanjang sesi perdagangan pada kisaran 14132,00 hingga 14155,00 per Dollar Amerika.

Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami penguatan seiring dengan penguatan nilai tukar mata uang regional.

Adapun yang memimpin penguatan mata uang regional didapati pada mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,59% dan diikuti oleh penguatan Baht Thailand (THB) dan Rupiah Indonesia (IDR) masing—masing sebesar 0,25% dan 0,24%. Sementara itu, mata uang Won Korea Selatan (KRW) dan mata uang Yen Jepang (JPY) juga ikut menguat sebesar 0,22% dan 0,16% terhadap Dollar Amerika.

Adapun pada perdagangan kali ini, tidak ada yang mengalami pelemahan pada mata uang regional.

Disisi lain, imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun mengalami penurunan sehingga masing—masing berada pada level 2,502% dan 2,913%.

Kondisi tersebut seiring dengan kondisi pasar saham Amerika yang melemah dimana indeks DJIA ditutup melemah sebesar 72 bps di level 26150,58 dan indeks NASDAQ juga ikut mengalami pelemahan sebesar 56 bps di level 7909,28.

Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun mengalami penurunan imbal hasil dilevel 1,103% sedangkan untuk tenor 30  tahun mengalami penguatan di level 1,639%.

Adapun untuk imbal hasil obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun dan 30 tahun mengalami kenaikan terbatas masing-masing di level -0,004% dan 0,631%.