Volume SBN Diperdagangan Rabu Kemarin Senilai Rp15,48 Triliun dari 39 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Kamis (14/3/2019) menyebutkan, volume perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) yang dilaporkan pada perdagangan kemarin (13/3), mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp15,48 triliun dari 39 seri Surat Utang Negara yang ditransaksikan.

Surat Utang Negara seri FR0077 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp3,79 triliun dari 55 kali transaksi di harga rata - rata 102,95% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp1,84 triliun dari 49 kali transaksi di harga rata - rata 102,61%.

Adapun untuk perdagangan Sukuk Negara, Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Sukuk Negara dengan volume terbesar, yaitu sebesar Rp338,00 miliar dari 8 kali transaksi dan diiringi dengan volume Sukuk Negara Ritel seri SR009 sebesar Rp43,13 miliar untuk 21 kali transaksi.

Sementara itu, dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan lebih kecil daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,08 dari 50 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan III Indosat Tahap I Tahun 2019 Seri A (ISAT03ACN1) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp151,00 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata - rata 100,18% dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan IV Mandiri Tunas Finance Tahap I Tahun 2019 Seri A (TUFI04ACN1) senilai Rp146,95 miliar dari 1 kali transaksi di harga  100,40%.

Adapun Obligasi Berkelanjutan II Indosat Tahap III Tahun 2018 Seri A (ISAT02ACN3) dan Obligasi Berkelanjutan II Bank BRI Tahap II Tahun 2017 Seri D (BBRI02DCN2) dengan volume masing-masing sebesar Rp100,20 miliar untuk 8 kali transaksi dan Rp102,28 miliar dari 11 kali perdagangan.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin hari Rabu, tanggal 13 Maret 2019 mengalami penguatan terbatas sebesar 1 pts (0,00%) di level 14265,00 per Dollar Amerika.

Pergerakan nilai tukar Rupiah bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan dimana terjadi penguatan pada awal sesi perdagangan namun melemah kembali di pertengahan sesi perdagangan.

Adapun pada akhir perdagangan Rupiah ditutup dengan mengalami penguatan terbatas pada kisaran 14245 hingga 14284 per Dollar Amerika.

Penguatan mata uang Rupiah ini seiring dengan pergerakan nilai tukar mata uang regional yang bergerak bervariatif terhadap mata uang Dollar Amerika.

Adapun mata uang Rupee India (INR) memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,30% dan diikuti oleh mata uang Peso Filipina (PHP) yang menguat sebesar 0,25%.

Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan tertinggi didapati pada mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,26% kemudian diikuti dengan nilai tukar mata uang Ringgit Malaysia (MYR) yang mengalami koreksi sebesar 0,14% terhadap Dollar Amerika.

Disisi lain, Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun mengalami penguatan sebesar 1,1 bps pada level 2,621%. Hal ini seiring dengan yang terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun yang mengalami penguatan sebesar 0,5 bps sehingga berada pada level 3,015%.

Penguatan imbal hasil US Treasury ini terjadi ditengah kondisi pasar saham Amerika yang ditutup dengan mengalami penguatan, dimana indeks NASDAQ ditutup menguat sebesar 69 bps sehingga berada pada level 7643,40 sejalan dengan indeks DJIA yang juga mengalami penguatan sebesar 58 bps sehingga berada pada level 25702,89.

Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun dan tenor 30 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan masing-masing di level 1,20% dan 1,73%. Adapun untuk obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun dan 30 tahun juga ikut mengalami kenaikan terbatas masing-masing di level 0,07% dan 0,74%.