Volume SBN Diperdagangan Senin Kemarin Senilai Rp18,77 Triliun dari 43 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Selasa (06/8/2019) menyebutkan, volume perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) yang dilaporkan pada perdagangan kemarin (05/8), yaitu senilai Rp18,77 triliun dari 43 seri.

Surat Berharga Negara (SBN) dengan volume perdagangan seri acuan tercatat senilai Rp10,37 triliun.

Adapun Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp5,44 triliun dari 134 transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0077 senilai Rp3,56 triliun dari 60 kali transaksi.

Sedangkan Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp900,00 miliar dari 9 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Project Based Sukuk seri PBS016 senilai Rp286,00 miliar dari 4 kali transaksi.

Sementara itu, volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan senilai Rp2,66 triliun dari 38 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan III Indosat Tahap II Tahun 2019 Seri A (ISAT03ACN2) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp1,08 triliun dari 40 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Sukuk Ijarah Berkelanjutan III Indosat Tahap II Tahun 2019 Seri A (SIISAT03ACN2) senilai Rp293,00 miliar dari 20 kali transaksi.

Adapun perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap III Tahun 2018 Seri A (ADMF04ACN3) senilai Rp214,00 miliar dari 2 kali transaksi.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah ditutup melemah sebesar 70,00 pts (0,49%) di level 14255 per Dollar Amerika.

Pelemahan Rupiah tersebut bergerak sepanjang sesi perdagangan.

Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin bergerak pada kisaran 14188 hingga 14280 per Dollar Amerika.

Pelemahan nilai tukar Rupiah pada perdagangan kemarin terjadi di tengah melemahnya sebagian besar nilai tukar mata uang regional.

Mata uang Renminbi China (CNH) mengalami pelemahan tertinggi pada mata uang regional yaitu sebesar 1,54% diikuti oleh pelemahan mata uang Won Korea Selatan (KRW) dan Rupee India (INR) masing-masing sebesar 1,40% dan 1,26%.

Adapun mata uang Yen Jepang (JPY) dan Baht Thailand (THB) yang mengalami penguatan sebesar 0,56% dan 0,05% terhadap Dollar Amerika. 

Di sisi lain, Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup melemah di level 1,687% dan untuk tenor 30 tahun juga turun di level 2,245%.

Hal ini seiiring dengan kondisi pasar saham Amerika Serikat yang mengalami koreksi, dimana indeks saham utamanya mengalami penurunan hingga sebesar 347 bps (NASDAQ) dan 290 bps (DJIA).

Adapun imbal hasil surat utang Inggris dan Jerman juga ikut mengalami penurunan, masing - masing di level 0,502% dan –0,522%.