Volume SUN Diperdagangan Jumat Lalu Senilai Rp11,769 Triliun dari 41 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Senin (08/4/2019) mengungkapkan, volume perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) yang dilaporkan pada perdagangan Jumat (05/4) kemarin, tercatat senilai Rp11,769 triliun dari 41 seri Surat Berharga Negara.

Obligasi Negara seri FR0068 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,79 triliun dari 44 transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp1,54 triliun dari 51 kali transaksi.

Adapun Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp710,88 miliar dari 16 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Project Based Sukuk seri PBS012 senilai Rp199,00 miliar dari 17 kali transaksi.

Disisi lain, volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan senilai Rp1,26 triliun dari 50 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan IV Mandiri Tunas Finance Tahap I Tahun 2019 Seri A (TUFI04ACN1) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp256,00 miliar dari 10 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan I Bank Victoria Tahap II Tahun 2018 (BVIC01SBCN2) senilai Rp120,00 miliar dari 3 kali transaksi.

Obligasi Berkelanjutan II Maybank Finance Tahap II Tahun 2019 Seri A (BIIF02ACN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan ketiga terbesar senilai Rp101,95 miliar dari 15 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan III Bank OCBC NISP Tahap I Tahun 2018 Seri A (NISP03ACN1) senilai Rp100,00 miliar dari 2 kali transaksi.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah ditutup menguat sebesar 50,00 pts (0,35%) di level 14133,00 per Dollar Amerika.

Pergerakan nilai tukar Rupiah tersebut mengalami penguatan di sepanjang sesi perdagangan dan bergerak pada kisaran 14130,00 hingga 14180,00 per Dollar Amerika.

Penguatan nilai tukar Rupiah ini pada perdagangan kemarin terjadi di tengah beragamnya arah perubahan nilai tukar mata uang regional.

Adapun yang memimpin penguatan mata uang regional didapati pada mata uang Rupiah Indonesia (IDR) sebesar 0,35% dan diikuti oleh penguatan mata uang Peso Filipina (PHP) dan Dollar Singapura (SGD) masing—masing sebesar 0,18% dan 0,07%.

Sedangkan untuk mata uang yang mengalami pelemahan terbesar didapati pada mata uang Baht Thailand (THB) sebesar 0,29%, diikuti oleh mata uang Rupee India (INR) dan mata uang Ringgit Malaysia (MYR) masing-masing sebesar 0,19% dan 0,15% terhadap mata uang Dollar Amerika.

Disisi lain, imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin menunjukkan penurunan.

Hal ini terlihat dari Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan penurunan masing—masing di level 2,49% dan 2,90%.

Namun, penurunan US Treasury tersebut terjadi ditengah menguatnya pasar saham Amerika, dimana indeks saham utamanya mengalami penguatan hingga sebesar 59 bps di level 7938,69 (NASDAQ) dan penguatan sebesar 15 bps di level 26424,99 (DJIA).

Sementara itu, imbal hasil surat utang Inggris (Gilt) dan surat utang Jerman (Bund) dengan tenor 30 tahun, keduanya terlihat mengalami kenaikan, masing - masing di level 1,66% dan 0,64% setelah pasar saham di kawasan Eropa juga mengalami penguatan.

Bahkan imbal hasil dari surat utang Jepang juga menunjukkan kenaikan hingga ke level -0,032%.