Volume SUN Diperdagangan Kamis Kemarin Senilai Rp14,38 Triliun dari 42 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset fixed income MNC Securities yang dirilis Jumat (15/3/2019) menyebutkan, volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan   hari Kamis, tanggal 14 Maret 2019 mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp14,38 triliun dari 42 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan.

Adapun Surat Utang Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp3,71 triliun dari 113 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0068 senilai Rp1,99 triliun dari 89 kali transaksi.

Sementara itu, untuk perdagangan Sukuk Negara, Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Sukuk Negara dengan volume terbesar, yaitu sebesar Rp385,84 miliar dari 28 kali transaksi dan diiringi dengan volume Project Based Sukuk seri PBS013 dan PBS016 masing-masing sebesar Rp204,75 miliar untuk 9 kali transaksi dan Rp100 miliar dari 1 kali transaksi.

Disisi lain, Volume perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan lebih kecil daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp661,37 miliar dari 31 seri obligasi korporasi yang ditransaksikan.

Obligasi Berkelanjutan III Indosat Tahap I Tahun 2019 Seri A (ISAT03ACN1) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp206,00 miliar dari 4 kali transaksi dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank II Tahap V Tahun 2015 Seri (BEXI02CCN5) senilai Rp130,00 miliar dari 4 kali transaksi.

Selanjutnya, untuk obligasi dengan volume Rp80,00 dari 5 kali transaksi didapati pada perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Astra Sedaya Finance Tahap II Tahun 2019 Seri A (ASDF04ACN2).

Sementara itu, pada perdagangan hari Kamis tanggal 14 Maret 2019 kemarin, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami koreksi sebesar 13 pts (0,09%) di level 14278,00 per Dollar Amerika.

Pergerakan nilai tukar Rupiah mengalami penguatan di awal sesi perdagangan namun di pertengahan hingga berakhirnya sesi perdagangan rupiah melemah dan bergerak pada kisaran 14235,00 hingga 14282,00 per Dollar Amerika.

Adapun Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami pelemahan seiring dengan nilai tukar mata uang regional yang melemah terhadap mata uang Dollar Amerika.

Mata uang regional yang mengalami pelemahan tertinggi didapati pada mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 0,38% kemudian diikuti dengan nilai tukar mata uang Baht Thailand (THB) yang mengalami koreksi sebesar 0,37%.

Selanjutnya, mata uang yang mengalami pelemahan yaitu mata uang Dollar Singapura (SGD) sebesar 0,30% terhadap Dollar Amerika.

Namun, terdapat dua mata uang regional yang menguat terhadap Dollar Amerika, yaitu mata uang Rupee India (INR) dan mata uang Dollar Taiwan (TWD) yang mengalami penguatan masing-masing sebesar 0,27% dan 0,04%.

Sementara itu, Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun mengalami pelemahan sehingga berada pada level 2,62%.

Hal ini seiring dengan yang terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun yang juga mengalami pelemahan dan berada pada level 3,04%.

Pelemahan imbal hasil US Treasury ini terjadi ditengah kondisi pasar saham Amerika yang ditutup dengan mengalami perubahan arah yang bervariasi, dimana indeks NASDAQ ditutup melemah terbatas sebesar 16 bps di level 7630,91 sedangkan untuk indeks DJIA mengalami penguatan sebesar 3 bps sehingga berada pada level 25709,94.

Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan di level 1,22%, sedangkan untuk obligasi inggris dengan tenor 30 tahun mengalami penurunan di level 1,73%.

Adapun untuk obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun dan 30 tahun, keduanya mengalami penurunan terbatas masing-masing di level 0,082% dan 0,742%.