Volume SUN Diperdagangan Senin Kemarin Senilai Rp5,52 Triliun dari 44 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Riset MNC Securities yang dirilis Selasa (12/2/2019) menyebutkan, volume perdagangan Surat Berharga Negara (SUN) Senin (11/2) kemarin, tercatat mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya (08/2), yakni senilai Rp5,52 triliun dari 44 seri Surat Utang Negara yang dilaporkan.

Adapun untuk volume perdagangan Surat Utang Negara dengan volume tertinggi didapati pada seri FR0078 sebesar Rp2,509 triliun dari 48 kali transaksi dan kemudian dilanjutkan dengan Surat Utang Negara dengan seri FR0077 dan FR0065 masing-masing sebesar Rp1,826 triliun dari 28 kali perdagangan dan Rp1,462 triliun dari 28 kali transaksi.

Sedangkan untuk perdagangan Sukuk Negara, volume Sukuk Negara Ritel terbesar didapati pada seri SR008 senilai Rp563,49 miliar dari 12 kali transaksi dan diiringi oleh volume Project Sukuk Negara seri PBS016 senilai Rp270,00 miliar untuk 2 kali transaksi.

Sementara itu, pada perdagangan Senin (11/2) kemarin, volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan lebih kecil dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, senilai Rp625,66 miliar dari 47 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi Berkelanjutan II Bank CIMB Niaga Tahap I Tahun 2016 Seri B (BNGA02BCN1) senilai Rp101,00 miliar dari 2 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan surat utang korporasi seri Obligasi Berkelanjutan II Bank BRI Tahap I Tahun 2016 Seri B (BBRI02BCN1) dan seri  Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap II Tahun 2018 Seri C (ADMF04CCN2) masing-masing senilai Rp60,00 miliar dari 3 kali transaksi dan Rp50,00 miliar untuk 1 kali transaksi.

Volume perdagangan yang lebih kecil juga didapati seri Obligasi I Indonesia Infrastructure Finance Tahun 2016 Seri A (IIFF01A) dengan volume perdagangan sebesar Rp45,00 miliar untuk 1 kali transaksi.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami pelemahan sebesar 73 pts (0,52%) di level 14038,00 per Dollar Amerika.

Pergerakan nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 13940,00 hingga 14048,00 per Dollar Amerika.

Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami pelemahan seiring dengan pelemahan sebagian besar nilai tukar mata uang regional terhadap mata uang Dollar Amerika.

Adapun yang mengalami penguatan tertinggi didapati pada mata uang Baht Thailand (THB) sebesar 0,31% diiringi dengan mata uang Rupee India (INR) yang juga mengalami penguatan sebesar 0,18%.

Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan paling tinggi didapati pada mata uang Renminbi China (CNY) sebesar 0,66% kemudian diikuti dengan nilai tukar mata uang Rupiah Indonesia (IDR), mata uang Yen Jepang (JPY), mata uang Dollar Taiwan (TWD) yang mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika masing-masing sebesar 0,52%, 0,43%, dan 0,23%.

Sementara itu, imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup mengalami penguatan sebesar 75 bps yang berada pada level 2,65%, hal yang sama juga terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun yang mengalami penguatan sebesar 40 bps yang berada pada level 2,99% ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak bervariasi.

Indeks NASDAQ ditutup menguat sebesar 13 bps sehingga berada pada level 7307,90 sedangkan untuk indeks DJIA ditutup dengan mengalami pelemahan sebesar 21 bps sehingga berada pada level 25053,11.

Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun mengalami penguatan di level 1,18% seiring dengan kenaikan obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun di level 0,12%.

Adapun untuk obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 30 tahun mengalami kenaikan pada level 1,688% namun, untuk obligasi Jerman bertenor 30 tahun mengalami koreksi sehingga berada pada level 0,742%.