Volume SUN Diperdagangan Senin Kemarin Senilai Rp5,49 Triliun dari 42 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Selasa (13/8/2019) menyebutkan, volume perdagangan Surat Utang Negara (SUN) yang dilaporkan pada perdagangan awal pekan kemarin (12/8), mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya.

Volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp5,49 triliun dari 42 seri Surat Utang Negara yang dilaporkan dimana volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp2,45 triliun.

Adapun Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,16 triliun dari 43 kali transaksi.

Obligasi Negara seri acuan dengan tenor 10 tahun tersebut diperdagangkan pada harga rata - rata 106,30%.

Sedangkan Project Based Sukuk seri PBS022 menjadi Surat Berharga Syariah Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp157,20 miliar dari 12 kali transaksi dengan harga rata - rata pada level 104,53%.

Sementara itu, dari perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan pada perdagangan di hari Senin senilai Rp1,96 triliun dari 55 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Sukuk Mudharabah Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry I Tahun 2018 Seri B (SMLPPI01B) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp600,00 miliar dari 16 kali transaksi dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan II Bank Maybank Indonesia Tahap II Tahun 2018  (BNII02CN2) senilai Rp123,32 dari 3 kali transaksi. 

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup pada level 14250,00 per dollar Amerika melemah sebesar 56,00 pts dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya.

Data ekonomi domestik turut mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, dimana pada perdagangan hari Senin, rupiah mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika sepanjang sesi perdagangan.

Dibuka melemah pada level 14205,00 per dollar Amerika, nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran 14205 - 14251 per dollar Amerika.

Adapun pelemahan nilai tukar Rupiah tersebut diikuti oleh pelemahan sebagian besar mata uang regional.

Mata uang yang memimpin pelemahan mata uang regional yaitu mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,50% dan diikuti oleh Rupiah Indonesia (IDR) sebesar 0,39%.

Sedangkan mata uang dengan penguatan terbesar didapati pada mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 0,60% yang diikuti penguatan Renminbi China (CNY) sebesar 0,05% terhadap Dollar Amerika.

Sedangkan dari perdagangan surat utang global, imbal hasil surat utang global bergerak mengalami kenaikan.

Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan pada level 1,654% yang diikuti juga pada tenor 30 tahun yang naik pada level 2,142%.

Adapun kenaikan imbal hasil US Treasury tersebut terjadi di tengah melemahnya indeks saham utama Amerika yaitu pada indeks NASDAQ mengalami penurunan sebesar 120 bps di level 7863,41 dan indeks DJIA turun sebesar 148 bps di level 25897,71.

Sementara itu imbal hasil dari Surat Utang Jerman (Bund) ditutup menguat pada level –0,593% dan untuk surat utang Inggris (Gilt) juga ditutup melemah di level 0,483%.