Volume SUN Diperdagangan Selasa Kemarin Senilai Rp28,98 Triliun dari 39 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian MNC Securities yang dirilis Rabu (13/2/2019) menyebutkan, volume perdagangan Surat Utang Negara (SUN) yang dilaporkan pada perdagangan kemarin (12/2) mengalami peningkatan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya (11/2), yaitu tercatat senilai Rp28,98 triliun dari 39 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa pelaku pasar cukup aktif melakukan transaksi perdagangan.

Adapun Surat Utang Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp9,29 triliun dari 115 kali transaksi di harga rata - rata 101,63% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0077 senilai Rp6,13 triliun dari 93 kali transaksi di harga rata - rata 102,13%.

Sementara itu, dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan lebih kecil daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp783,35 miliar dari 37 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank IV Tahap III Tahun 2018 Seri A (BEXI04ACN3) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp150,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 100,33% dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan I Bank Mandiri Tahap III Tahun 2018 (BMRI01CN3) senilai Rp143,70 miliar dari 6 kali transaksi di harga rata - rata 100,25%. 

Riset juga menyebutkan, pada perdagangan kemarin (12/2), nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika kembali mengalami pelemahan sebesar 31 pts (0,22%) di level 14069,00 per Dollar Amerika.

Pergerakan nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 14039,00 hingga 14165,00 per Dollar Amerika.

Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami pelemahan seiring dengan pergerakan nilai tukar mata uang regional yang bergerak bervariatif terhadap mata uang Dollar Amerika.

Adapun mata uang Rupee India (INR) mengalami penguatan tertinggi sebesar 0,59% diiringi dengan mata uang Renminbi China (CNY) yang juga mengalami penguatan sebesar 0,25%.

Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan tertinggi didapati pada mata uang Rupiah Indonesia (IDR) sebesar 0,22% kemudian diikuti dengan nilai tukar mata uang Yen Jepang (JPY) yang mengalami koreksi sebesar 0,15%.

Selanjutnya, mata uang yang mengalami pelemahan yaitu mata uang Ringgit Malaysia (MYR) dan Dollar Taiwan (TWD) masing-masing mengalami pelemahan sebesar 0,12% dan 0,06% terhadap Dollar Amerika.

Sementara itu, Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun mengalami penguatan sebesar 129 bps yang berada pada level 2,69%.

Hal yang sama juga terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun yang mengalami penguatan sebesar 109 bps yang berada pada level 3,02% ditengah kondisi pasar saham Amerika yang ditutup dengan mengalami penguatan dimana indeks DJIA ditutup menguat sebesar 149 bps sehingga berada pada level 25425,76 seiring indeks NASDAQ yang ikut mengalami penguatan sebesar 146 bps sehingga berada pada level 7414,62.

Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun mengalami pelemahan di level 1,184% sedangkan obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun mengalami kenaikan terbatas di level 0,132%.

Adapun untuk obligasi Inggris (Gilt) dan obligasi Jerman (Bund) dengan tenor 30 tahun, keduanya mengalami kenaikan masing-masing pada level 1,689% dan 0,755%.