Volume SUN Diperdagangan Selasa Kemarin Senilai Rp11,37 Triliun dari 39 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Rabu (31/7/2019) mengungkapkan, volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin (30/7), mengalami kenaikan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya (29/7).

Volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp11,37 triliun dari 39 seri Surat Utang Negara yang dilaporkan dimana volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp4,25 triliun.

Adapun Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp2,88 triliun dari 109 kali transaksi.

Obligasi Negara seri acuan dengan tenor 10 tahun tersebut diperdagangkan pada harga rata - rata 106,97%.

Sedangkan Surat Perbendaharaan Negara Syariah seri SPNS01112019 menjadi Surat Berharga Syariah Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp327,00 miliar dari 1 kali transaksi dengan harga di level 98,58%.

Dari perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan pada perdagangan di hari Selasa tanggal 30 Juli 2019 senilai Rp1,33 triliun dari 48 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan III Bank BTN Tahap II Tahun 2019 Seri C (BBTN03CCN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp400,00 miliar dari 8 kali transaksi dan diikuti oleh Sukuk Ijarah TPS Food II Tahun 2016 (SIAISA02) dan Obligasi Berkelanjutan III Bank BTN Tahap II Tahun 2019 Seri A (BBTN03ACN2) masing-masing senilai Rp200,00 miliar dari 3 kali transaksi dan Rp93,00 miliar dari 2 kali perdagangan. 

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup pada level 14025,00 per dollar Amerika yang melemah sebesar 5,00 pts dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya.

Pelemahan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar Amerika bergerak cukup fluktuatif sepanjang sesi perdagangan.

Dibuka melemah kemudian sempat bergerak menguat di tengah sesi dan kembali melemah hingga akhir sesi perdagangan.

Adapun nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran 14018—14039 per Dollar Amerika.

Pelemahan rupiah tersebut diikuti oleh sebagian besar mata uang regional yang bergerak menguat, dimana yang memimpin penguatan mata uang regional yaitu Peso Filipina (PHP) sebesar 0,49% dan diikuti oleh mata uang Baht Thailand (THB) dan Renminbi China (CNY) yang masing-masing menguat sebesar 0,37% dan 0,19%.

Sementara itu, pelemahan mata uang regional terbesar didapati pada mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,19% dan diikuti oleh mata uang Rupiah Indonesia (IDR) sebesar 0,04% terhadap Dollar Amerika.

Di sisi lain, Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan mengalami penurunan masing-masing pada level 2,058% dan 2,58%.

Adapun penurunan imbal hasil US Treasury tersebut seiring dengan penurunan indeks saham utamanya. Untuk indeks NASDAQ terpantau mengalami pelemahan sebesar 24 bps di level 8273,61 dan indeks DJIA turun sebesar 9 bps di level 27198,02.

Sementara itu, imbal hasil dari Surat Utang Jerman (Bund) untuk tenor 10 tahun ditutup mengalami penurunan di level –0,40% sedangkan untuk surat utang Inggris (Gilt) mengalami kenaikan imbal hasil di level 0,635%.