Faktor Kesehatan, Mendag Pastikan 2020 Tidak Ada Minyak Goreng Curah

Foto : istimewa

Pasardana.id – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meluncurkan program wajib kemas minyak goreng. Progam ini sebagai bentuk mewujudkan Indonesia bebas minyak goreng curah pada 1 Januari 2020.

"Resmi sudah pada Januari 2020 tidak ada lagi minyak goreng curah sampai ke pelosok desa, warung, dan pasar harus dalam kemasan," kata Enggar di Jakarta Pusat, Minggu, (6/10/ 2019).

Program ini telah berjalan sejak 2014 melalui penerbitan kebijakan minyak goreng kemasan mulai diberlakukan pada 1 April 2017.

Namun, implementasi kebijakan ditunda lantaran produsen minyak goreng belum siap memperluas unit pengemasan, dan menumbuhkan industri pengemasan di daerah.

"Sejalan dengan penerapan SNI (Standar Nasional Indonesia) wajib minyak goreng, kebijakan wajib kemas minyak goreng akan diberlakukan pada 1 Januari 2020 tanpa ada masa transisi. Seluruh pelaku usaha wajib menjual minyak goreng kepada konsumen dalam keadaan terkemas dan memenuhi ketentuan yang berlaku," jelas Enggar.

Dirinya juga mengatakan, kebijakan wajib kemas minyak goreng ini merupakan bagian dari program strategis pemerintah dalam peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Kebijakan ini mendorong masyarakat agar mengonsumsi minyak goreng kemasan, karena lebih terjamin mutu dan keamanannya.

Diungkapkan Enggar, minyak goreng curah berbahaya bagi kesehatan. Sebab, pengelolaannya tidak higienis.

"Banyak sekali (minyak) dari restoran, dari warung, dari segala macam diolah. Sehingga terlihat bening itu pun seolah-olah bening, biasanya diletakkan di drum, di tempat-tempat yang warnanya hitam," ujar Enggar.

Kemendag berkewajiban memastikan produk yang dikonsumsi masyarakat memenuhi unsur kesehatan. Para produsen perlu memenuhi persyaratan dalam kemasan dan harga tidak boleh berubah.

"Minyak goreng dalam kemasan itu upaya pemerintah bersama swasta bersama dengan para pengusaha, untuk bisa menjamin minyak goreng kelapa sawit itu sehat higienis. Bukan minyak bekas, bukan minyak yang terkontaminasi berbagai penyakit," tandas Enggar.