OJK : Program Pengampunan Pajak Beri Sentimen Positif Bagi Pelaku Pasar Keuangan Nasional

foto : istimewa

Pasardana.id - Program amnesti pajak yang berlaku hingga 31 Maret 2017, memberikan sentimen positif yang signifikan bagi pelaku pasar keuangan nasional.

"Nilai dan frekuensi transaksi di pasar modal mengalami peningkatan," jelas Pelaksana Tugas Deputi Komisioner Manajemen Strategis IB OJK, Slamet Edy Purnomo, dalam keterangannya, di Jakarta, Rabu (20/7/2016).

Dijelaskan, tekanan eksternal akibat hasil referendum Inggris yang memutuskan keluar dari Uni Eropa (Brexit), tidak memberikan dampak negatif yang persisten bagi pasar keuangan domestik, seperti yang dialami oleh negara maju.

Meski situasi perekonomian global masih mengalami gejolak, namun pasar modal Indonesia sepanjang Juni 2016 mencatatkan net buy oleh nonresiden sebesar Rp22 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp8,8 triliun di pasar saham.

"Net buy non-resident di pasar modal merupakan arus masuk bulanan terbesar sejak Maret 2015," ujar Slamet.

Ia menambahkan, maraknya kegiatan di pasar modal membuat terjadinya penguatan terus menerus (rally) pada indeks harga saham, yang pada penutupan Selasa (19/7) mencapai 5.172 atau menguat 5,94 persen, yang tertinggi sejak Juni 2015.

Sementara itu, pasar SBN pada Juni 2016 menguat dengan penurunan imbal hasil (yield) rata-rata untuk seluruh tenor sebesar 20 basis poin (bps). Arus modal masuk ikut mempengaruhi pergerakan nilai tukar yang mengalami apresiasi sebesar 1,85 persen atau ditutup pada level Rp13.088 per dolar AS.

Fungsi intermediasi lembaga jasa keuangan juga membaik hingga Mei 2016, dengan laju pertumbuhan kredit dan peningkatan dana pihak ketiga, masing-masing 8,34 persen dan 6,53 persen (yoy). Begitu juga, pertumbuhan pembiayaan yang menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Slamet juga memastikan rasio kecukupan modal (CAR) perbankan terus meningkat dan berada pada level 22,41 persen pada Mei 2016. Risk-based Capital perusahaan asuransi juga berada jauh di atas ambang batas yang dipersyaratkan.

Menyikapi kondisi tersebut, jelas dia, Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, stabilitas sektor keuangan Indonesia berada dalam kondisi normal untuk mendukung program amnesti pajak yang berlaku hingga 31 Maret 2017.

"OJK memproyeksikan kondisi perekonomian dapat tumbuh lebih baik, terutama dengan memanfaatkan momentum positif kebijakan amnesti pajak," jelasnya.

Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia 2016 diperkirakan berada dalam kisaran 4,9 persen-5,2 persen, didukung juga oleh pertumbuhan kredit yang diproyeksikan berada pada kisaran 10 persen-12 persen.