Saham Marjin Kurang, Rekening Reguler Dipakai Transaksi Marjin

foto : istimewa

Pasardana.id - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menunggu lampu hijau dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk menambah saham-saham yang dapat ditransaksikan dengan fasilitas marjin.

Rencananya akan ada 190-200 saham yang masuk dalam daftar transaksi marjin, dari 61 daftar saham marjin per November 2016.

Dengan penambahan daftar saham marjin, diharapkan tidak terjadi lagi rekening reguler digunakan untuk transaksi marjin.

Hal itu disampaikan Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa, Alpino Kianjaya di Jakarta, Jumat (18/11/2016).

"Saat ini masih banyak terjadi T+3 (pembiayan oleh anggota bursa) karena banyak investor beli saham dengan fasilitas marjin tapi sahamnya tidak masuk daftar marjin," ungkap dia.

Ia menambahkan, usulan tambahan saham marjin berdasarkan basis perhitungan yang bergerak berdasarkan nilai transaksi, frekwensi dan volume saham.

"ÂJadi bisa 190, bisa 200 dan bisa diatas 200 saham, tergantung kinerja sahamnya," terang dia.

Namun dia mengingatkan, jika tambahan saham marjin itu telah berlaku, maka anggota bursa pelaku transaksi marjin harus memiliki sistem mitigasi risiko yang kokoh, arus kas dan MKBD (Modal Kerja Bersih di Sesuaikan).

"Kalau AB mau menalangi transaksi maka modalnya harus kuat," ujar dia.

Alpino juga mengingatkan, sistem mitigasi risiko menjadi hal utama, karena jika saham marjin tersebut nilainya turun, maka rasio nasabah itu harus diperhatikan, jika rasio nasabah tersebut melampaui profil risikonya, maka harus dilakukan jual paksa.

"Kalau tidak top-up maka harus di jual jaminannya," terang dia.

Sedangkan peraturan transaksi marjin, jelas dia, marjin dapat diberikan hingga 50% dari nilai jaminan. Misalnya, nilai jaminan nasabah Rp 200 juta maka dapat dilakukan pembiayaan hingga Rp 400 juta.

Peraturan kedua, lanjut Alpino, tentang marjin call misalnya, rasionya berubah dari 50% menjadi 65% karena alasan saham turun maka sistem AB tersebut harus dapat langsung menghentikan transaksi beli nasabah tersebut.

"Nasabah itu harus top up atau jual sahamnya sehingga rasionya kurang dari 50%," terang dia.