Kemandirian Ekonomi Sulit Tercapai Akibat Minimnya Pengamanan Pasar

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Institute for Development of Economic and Finance (Indef) menilai, kemandirian ekonomi sulit tercapai lantaran minimnya pengamanan pasar domestik dari serbuan impor.

Derasnya aliran impor barang konsumsi dan melemahnya daya saing industri domestic, salah satunya disebabkan oleh minimnya kebijakan pengamanan pasar domestik yang tercermin dari kuantitas Non Tariff Measures (NTMs).

"Jika dibandingkan dengan kebijakan NTMs Amerika Serikat (AS) atau Tiongkok maka Indonesia jauh lebih sedikit dengan hanya memiliki 272 jenis NTMs. Sementara AS dan Tiongkok masing-masihg sebanyak 4.780 dan 2.194 NTMs," kata Peneliti Indef, Ahmad Heri Firdaus di Jakarta, kemarin.

Indef, jelas Ahmad, mencatat, ketergantungan Indonesia terhadap barang impor dari waktu ke waktu semakin tinggi. Hal ini terlihat dari impor pangan yang menunjukkan adanya peningkatan yang semakin signifikan selama 2015 dan 2016, utamanya di semester I-2016.

Ditambahkan, volume impor migas juga menunjukkan adanya peningkatan di sepanjang 2016. Bahkan, Indonesia semakin diserbu oleh produk industri negara lain di mana tercermin dari melonjaknya impor barang konsumsi yang meningkat 12,80 persen di Januari-September 2016.

"Pada Januari-Desember 2014 dan Januari-Desember 2015, impor bahan pangan strategis Indonesia untuk beras itu nilainya kurang lebih USD300 ribuan. Sementara di Januari-Juli 2016, nilai impor untuk beras sudah USD447 ribu. Ini sudah tinggi sekali," terang Ahmad Heri.

Meskipun demikian, Bank Indonesia melaporkan, bahwa neraca pembayaran Indonesia diperkirakan mencatat surplus yang lebih baik dengan defisit transaksi berjalan yang lebih rendah. 

Untuk keseluruhan triwulan III 2016, defisit transaksi berjalan diperkirakan berada di bawah 2% dari PDB terutama didukung oleh surplus neraca perdagangan sejalan dengan membaiknya harga ekspor komoditas primer dan menurunnya impor nonmigas.

Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 2,09 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan surplus triwulan II 2016 yang sebesar 1,92 miliar dolar AS.

Di sisi lain, aliran masuk portfolio asing ke pasar keuangan Indonesia hingga September 2016 telah mencapai 12,1 miliar dolar AS, lebih tinggi dari aliran masuk portfolio asing untuk keseluruhan tahun 2015.

"Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia akhir September 2016 tercatat sebesar 115,7 miliar dolar AS, atau setara 8,9 bulan impor atau 8,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," demikian laporan BI yang dirilis kemarin.