Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (07/9/2026): IHSG Diperkirakan Rentan terhadap Koreksi Lanjutan

Oleh: Ria

07 September 2026, 09:41
ANALIS MARKET (07/9/2026): IHSG Diperkirakan Rentan terhadap Koreksi Lanjutan

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Jumat (26/04/09).

Dow Jones Industrial Average turun 0,51%, S&P 500 melemah 0,38%, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 0,29%.

Pelemahan terutama terlihat pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar; Apple turun 2,51%, Microsoft melemah 2,03%, dan Salesforce terkoreksi 1,97%.

Sebaliknya, Caterpillar naik 1,72%, Honeywell menguat 0,95%, dan Home Depot naik 0,94%.

Di indeks S&P 500, KLA Corporation mencatat kenaikan tertinggi sebesar 7,32%, sementara Lululemon mencatat penurunan terbesar setelah anjlok 17,39%.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung beragam. Di AS, investor tetap berhati-hati karena data ketenagakerjaan yang kuat terus memicu ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September mulai mereda setelah Gubernur The Fed, Christopher Waller, menyatakan dukungannya untuk mempertahankan suku bunga tetap jika tekanan harga terus melandai. Pergeseran ekspektasi ini kemudian memberikan dorongan bagi aset berisiko di sejumlah pasar Asia. Indeks VIX naik 1,40% ke level 14,52, meskipun angka tersebut masih menunjukkan tingkat volatilitas yang relatif rendah.

GEOPOLITIK: Risiko geopolitik tetap menjadi fokus pasar, terutama akibat ketegangan yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya risiko terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Perkembangan ini membuat investor tetap waspada terhadap potensi gangguan pada perdagangan global dan rantai pasok. Selain itu, konflik Rusia-Ukraina juga tetap menjadi faktor risiko yang perlu dicermati, karena berpotensi memengaruhi pasar komoditas dan inflasi global.

REGULASI & KEBIJAKAN: Kebijakan pemerintah Tiongkok menjadi sorotan setelah Beijing mengumumkan suntikan modal sekitar US$54 miliar ke perusahaan asuransi dan bank milik negara. China Life Insurance akan menerima 35 miliar yuan, China Taiping Insurance menerima 7 miliar yuan, sementara beberapa perusahaan lainnya juga mendapatkan tambahan modal. Kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat permodalan dan solvabilitas di sektor keuangan, sekaligus meningkatkan kemampuan perusahaan asuransi milik negara dalam mendukung stabilitas pasar modal.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun naik hampir 3 basis poin (bps) menjadi 4,79%, sementara imbal hasil tenor 2 tahun naik 2 bps menjadi 4,37%. Di pasar valuta asing, kontrak berjangka Indeks Dolar AS naik 0,25% ke level 99,13, sedangkan pasangan mata uang USD/JPY menguat 0,26% ke level 156,24. Yen berada di kisaran JPY156 per Dolar AS setelah menguat dalam dua sesi sebelumnya dan berpotensi mencatatkan kenaikan mingguan sekitar 2,5%. Di Jepang, imbal hasil JGB tenor 10 tahun turun ke kisaran 2,90%, sementara imbal hasil JGB tenor 2 tahun turun 3 bps menjadi 1,83%.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa ditutup bervariasi. Indeks FTSE 100 Inggris berakhir hampir stagnan di level 10.831, DAX 40 Jerman naik sekitar 0,2% ke 26.048 yang didorong oleh sektor otomotif, sementara CAC 40 Prancis turun 0,1% ke 8.279 dan FTSE MIB Italia melemah 0,3% ke 52.100. Indeks EU600 naik tipis 0,12% ke level 649,88.

-Pasar Asia sebagian besar menguat. Nikkei 225 Jepang naik 1,26% ke 65.021, KOSPI Korea Selatan menguat 1,64% ke 6.687, dan BSE Sensex India naik sekitar 0,5% ke 76.515. Pasar Singapura juga naik 1,0% mencapai rekor di level 5.803. Sebaliknya, indeks Shanghai Composite turun 0,30% ke level 3.930,1, Shenzhen Component melemah 0,79% ke 13.517, dan indeks FKLCI Malaysia turun 0,41% ke 1.708.

KOMODITAS: Harga komoditas bergerak bervariasi. Kontrak berjangka emas untuk pengiriman Desember turun 1,39% menjadi US$4.476,74/oz, sementara harga minyak Brent naik 0,42% menjadi US$95,92/barel dan WTI relatif stagnan di angka US$91,27/barel. Harga batu bara menguat 1,12% hingga melampaui US$145/ton, mencapai level tertinggi dalam 11 minggu. CPO Malaysia naik 0,51% ke kisaran MYR4.900/ton, sedangkan harga timah menguat 1,33% menjadi US$54.952/ton. Harga nikel turun 0,41% ke kisaran US$16.835/ton, meskipun masih mendapat dukungan dari potensi pengetatan pasokan.

AGENDA HARI INI:

-Indonesia (ID): Cadangan Devisa bulan Agustus.

-Jerman (DE): Produksi Industri bulan Juli (MoM).

-Inggris Raya (GB): Indeks Harga Rumah Lloyds bulan Agustus (MoM dan YoY), serta pidato Kanselir John Healey.

INDONESIA: Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau telah memengaruhi operasional penerbangan di sejumlah wilayah. Kementerian Perhubungan mencatat tujuh bandara menghentikan sementara operasional penerbangan hingga pukul 08.59 WIB pada 7 September 2026, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, Radin Inten II, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Budiarto, Pondok Cabe, dan M. Taufik Kiemas. Gangguan ini berpotensi menekan aktivitas transportasi, pariwisata, dan distribusi barang jika dampak erupsi serta abu vulkanik berlangsung lebih lama.

-Di tengah gangguan ini, pemerintah melanjutkan restrukturisasi BUMN dengan menutup 290 perusahaan—menghemat sekitar Rp50 triliun—dan menargetkan penutupan 700 BUMN lainnya pada akhir tahun 2026, dengan proyeksi penghematan efisiensi mencapai Rp100 triliun. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan efisiensi dan profitabilitas BUMN, yang semakin diperkuat oleh percepatan hilirisasi sumber daya alam.

-Sementara itu, dari sisi fiskal, pemerintah memperketat disiplin anggaran untuk menjaga defisit APBN 2026 tetap di bawah 3% dari PDB. Hingga bulan Juli, defisit tercatat sebesar 0,9% dari PDB, didukung oleh penerimaan yang lebih baik, sementara belanja yang tidak produktif akan dipangkas. Efisiensi ini berdampak positif bagi kredibilitas fiskal dan berpotensi meredakan tekanan pada imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN), meskipun pemangkasan yang berlebihan dapat mengurangi dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi.

-IHSG ditutup turun 0,47% di level 6.636,48 pada hari Jumat (4/9), setelah bergerak di kisaran 6.633,92 – 6.704,13. Investor asing mencatat jual bersih (net sell) sebesar Rp317,01 miliar di Pasar Reguler, dengan akumulasi pembelian terbesar pada saham TINS, CUAN, PTRO, AADI, dan BUMI, sedangkan tekanan jual terbesar terjadi pada saham DSSA, ASII, BBCA, ANTM, dan ISAT. Di tengah pelemahan IHSG, nilai tukar Rupiah justru menguat ke kisaran Rp17.650/US$, bertahan di bawah level Rp17.700 selama dua sesi berturut-turut. Penguatan ini sejalan dengan melemahnya Dolar AS setelah pasar kembali menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan ini, menyusul komentar yang lebih dovish dari para pejabat The Fed.

-Secara teknikal, pergerakan indeks berbalik melemah, yang dapat mengindikasikan adanya pembalikan arah (reversal) jangka pendek. Indikator RSI (14) turun kembali ke level 64, menunjukkan bahwa momentum bullish kembali melemah. IHSG diperkirakan rentan terhadap koreksi lanjutan menuju level support terdekat di 6.595 / 6.551 / 6.525. Sementara itu, jika mampu rebound, IHSG berpotensi kembali ke level resistance di 6.681 / 6.704 dan melanjutkan pergerakan untuk menutup area gap di 6.723.

“Kami menyarankan strategi untuk tetap memegang posisi (hold) atau melakukan pembelian secara selektif saat harga turun (buy on weakness) selama IHSG mampu bertahan di atas area support, namun investor perlu meningkatkan kewaspadaan jika indeks menembus level support tersebut,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Senin (07/9).

Berita Terkini

See More