Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (28/9/20260: Momentum Bearish Masih Kuat

Oleh: Ria

28 September 2026, 09:14
ANALIS MARKET (28/9/20260: Momentum Bearish Masih Kuat

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup menguat pada hari Jumat (26/09/25), di mana Dow Jones Industrial Average naik 0,93%, S&P 500 menguat 0,51% ke level 7.743,41, dan Nasdaq Composite naik 0,48%.

Kenaikan ini dipimpin oleh sektor industri, teknologi, dan kesehatan.

Microsoft menjadi salah satu pendorong utama indeks Dow dengan kenaikan 3,66%, sementara ON Semiconductor, Microchip Technology, dan Generac Holdings mencatatkan kenaikan terbesar di indeks S&P 500, masing-masing sebesar 5,54%, 5,36%, dan 5,09%.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar membaik, tercermin dari penurunan indeks VIX sebesar 5,11% ke level 14,87. Penguatan saham-saham teknologi turut mendukung minat risiko, di mana investor memantau perkembangan pasar setelah reli pada saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI). Namun, perhatian tetap tertuju pada risiko inflasi dan arah kebijakan moneter AS di tengah tingginya imbal hasil obligasi pemerintah.

GEOPOLITIK: Perkembangan geopolitik masih dipengaruhi oleh konflik AS-Iran dan ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Iran mendesak AS untuk kembali pada kesepakatan damai sementara yang sebelumnya menghasilkan gencatan senjata pada pertengahan Juni, namun kesepakatan tersebut kembali gagal beberapa minggu kemudian. Potensi kesepakatan bertahap tetap menjadi fokus pasar karena hal tersebut dapat mengurangi risiko terhadap jalur perdagangan energi global.

REGULASI & KEBIJAKAN: Komentar bernada hawkish dari para pejabat Federal Reserve meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS masih mungkin memperketat kebijakan guna meredam inflasi. Perkembangan ini juga tercermin di pasar Jepang, di mana kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah menunjukkan meningkatnya ekspektasi akan kebijakan moneter yang lebih ketat secara global.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun turun 7 basis poin (bps) menjadi 4,87%, sementara imbal hasil tenor 10 tahun berada di kisaran 5,2%, mendekati level tertinggi sejak pertengahan tahun 2000-an. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 2 tahun naik 3 bps menjadi 1,94% dan imbal hasil tenor 10 tahun mendekati 3,1%, level tertinggi sejak 1996. Di pasar valuta asing, Yen menguat ke kisaran JPY158 per Dolar AS, sementara Indeks Dolar turun ke bawah level 101.

PASAR EROPA & ASIA: Saham-saham Eropa sebagian besar bergerak naik. Indeks FTSE 100 Inggris naik tipis, didukung oleh saham sektor perbankan dan pertambangan. Indeks DAX 40 Jerman naik sekitar 0,5% menjadi 25.396 dan mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 0,4%. Indeks CAC 40 Prancis relatif stagnan di level 8.078, FTSE MIB Italia naik 0,6% menjadi 51.867, sementara STOXX Europe 600 menguat 0,35% menjadi 638,65.

-Bursa saham Asia bergerak variatif. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,3% menjadi 66.364 dan melanjutkan tren penguatan selama lima sesi berturut-turut. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,0% menjadi 24.510, sementara Shanghai Composite dan Shenzhen Component masing-masing turun 1,22% dan 2,34% pada sesi sebelumnya. Indeks BSE Sensex India naik 0,4%, STI Singapura menguat 0,49%, dan FKLCI Malaysia turun 0,04%. KOSPI Korea Selatan tercatat naik 0,90% pada sesi sebelumnya.

KOMODITAS: Harga komoditas bergerak bervariasi, dengan harga minyak mengalami penurunan. Minyak Brent turun sekitar 2,14% menjadi US$104,3/barel, sementara WTI melemah sekitar 2,33% ke kisaran US$92/barel setelah Iran mendesak AS untuk kembali ke kesepakatan damai sementara. Harga emas berada di kisaran US$4.285/ons, naik 0,24% pada hari Jumat, namun masih mencatatkan penurunan mingguan lebih dari 2% akibat penguatan Dolar AS dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Treasury. Harga tembaga turun 0,34% menjadi sekitar US$6,69/lb akibat penguatan Dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury. Harga batu bara termal Australia berada di bawah US$143,75/ton, sementara harga timah naik menjadi US$54.010/ton. Nikel turun 0,88% menjadi sekitar US$16.385/ton, di tengah potensi pengetatan pasokan setelah smelter di Kawasan Industri Morowali berencana memangkas produksi nickel pig iron akibat kekurangan air yang dipicu oleh El Nino.

AGENDA HARI INI:

-Jepang (JP): Risalah Rapat Kebijakan Moneter BoJ.

-India (IN): Produksi Industri (YoY) Agustus dan Produksi Manufaktur (YoY) Agustus.

-Meksiko (MX): Neraca Perdagangan Agustus.

-Amerika Serikat (US): Indeks Manufaktur Dallas Fed September.

-Brasil (BR): Laporan BCB Focus Market Readout.

INDONESIA: Pemerintah memperbarui aturan mengenai pengelolaan surplus dan defisit kas pemerintah pusat melalui PMK Nomor 67 Tahun 2026, yang berlaku efektif mulai 8 September 2026 dan menggantikan PMK Nomor 44 Tahun 2024. Aturan baru ini memperjelas bahwa surplus kas dapat dikelola untuk menghasilkan pendapatan negara dan/atau manfaat lainnya, dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan likuiditas pemerintah. Dana dapat ditempatkan di bank umum maupun instrumen SBN, termasuk pembelian langsung (outright) di pasar sekunder, Reverse Repo SBN, Reverse Repo Syariah SBSN, dan Wakalah Bi Al-Istitsmar SBSN. Selain itu, BI mencatat peningkatan aset keuangan syariah pada kuartal II-2026, sejalan dengan pertumbuhan pembiayaan syariah dan sektor rantai nilai halal Indonesia yang tumbuh 5,50% secara tahunan (year-on-year). Tingkat literasi ekonomi syariah juga meningkat dari 16,30% pada tahun 2019 menjadi 50,18% pada tahun 2025. BI menekankan penguatan ekosistem ekonomi syariah melalui pengembangan rantai nilai halal, perluasan pembiayaan syariah, serta peningkatan literasi dan inklusi ekonomi dan keuangan syariah.

-IHSG ditutup turun 0,90% ke level 6.241,89 pada perdagangan hari Jumat (25/09), dengan investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp440,38 miliar di pasar reguler, sehingga akumulasi jual bersih sejak awal tahun (year-to-date) mencapai sekitar Rp104 triliun. Aliran dana asing terutama masuk ke saham BBCA, AMRT, TPIA, MDIA, dan AMMN, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada saham TLKM, DEWA, BMRI, BBRI, dan ASII. Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah melemah mendekati Rp17.950 per Dolar AS seiring menguatnya dolar dan meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed.

-Secara teknikal, IHSG ditutup lebih rendah dan masih berada di bawah EMA10, EMA20, dan EMA50, sehingga tekanan bearish jangka pendek tetap dominan. IHSG juga telah turun di bawah level Fibonacci retracement 61,80% di angka 6.290,10, sementara indikator RSI (14) berada di level 37,18 dan masih di bawah angka 50, yang mengindikasikan momentum bearish masih cukup kuat meskipun belum memasuki zona jenuh jual (oversold).

“Dalam jangka pendek, IHSG berisiko menguji area support di kisaran 6.186–6.113, dengan level support berikutnya di sekitar 6.029. Sebaliknya, untuk terjadi rebound, IHSG perlu kembali ke atas level 6.290 terlebih dahulu, kemudian menembus area 6.328–6.368 yang berada di dekat EMA10, EMA20, dan EMA50,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Senin (28/9).

Berita Terkini

See More