ANALIS MARKET (25/9/2026): Tekanan Bearish Jangka Pendek Masih Mendominasi
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street bergerak fluktuatif pada hari Kamis (26/09/24).
Saham sempat tertekan akibat kombinasi kenaikan harga minyak, lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury), dan sinyal kebijakan The Fed yang lebih hawkish.
Namun, tekanan tersebut mereda setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran sedang membahas kesepakatan bertahap untuk mengakhiri konflik.
Indeks S&P 500 ditutup relatif tidak berubah di level 7.704,13, Nasdaq Composite juga cenderung stagnan di 26.939,37, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,31% ke level 51.349,98.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung fluktuatif di tengah tiga tekanan makro utama: kenaikan harga minyak, lonjakan imbal hasil obligasi, dan sinyal hawkish dari The Fed. Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi, sementara kenaikan imbal hasil Treasury AS menekan valuasi saham. Data ekonomi AS juga menunjukkan aktivitas bisnis terus menguat pada bulan September, mencatatkan pertumbuhan tercepat sejak Juli 2021, meskipun tekanan harga meningkat dan inflasi mencapai level tertinggi sejak Oktober 2022. Kondisi-kondisi ini mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Oktober. Menurut CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) bulan depan berada di kisaran 69%, naik dari sekitar 55% pada minggu sebelumnya.
GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik tetap menjadi fokus utama pasar di tengah konflik AS-Iran. Harga minyak kembali menguat karena tidak adanya kemajuan diplomatik yang signifikan dalam upaya mengakhiri konflik. AS dan Iran masih berselisih mengenai kendali atas Selat Hormuz, meskipun Reuters melaporkan bahwa kedua belah pihak telah membahas langkah bertahap untuk mengakhiri perang, yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran dan pencabutan blokade ekonomi oleh Washington. Di sisi lain, Presiden Tiongkok Xi Jinping melakukan kunjungan kenegaraan ke AS dan bertemu dengan Presiden Donald Trump. Kedua belah pihak menyatakan komitmen untuk membahas isu-isu keamanan, perdagangan, teknologi, dan kecerdasan buatan (AI).
REGULASI & KEBIJAKAN: The Fed mengisyaratkan sikap kebijakan yang lebih hawkish setelah menaikkan suku bunga pada minggu sebelumnya—untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun—dan mengindikasikan bahwa pengetatan kebijakan lebih lanjut kemungkinan masih akan terjadi tahun ini. Gubernur The Fed Michael Barr menyatakan bahwa penyesuaian kebijakan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk memastikan inflasi turun tepat waktu, sementara Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson mengatakan bahwa pengetatan tambahan yang moderat mungkin diperlukan untuk mengatasi risiko meningkatnya inflasi yang persisten. Data ekonomi AS yang kuat dan tekanan inflasi yang meningkat semakin memperkuat ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga berikutnya.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Pasar obligasi AS kembali berada di bawah tekanan. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun naik 9,3 basis poin (bps) menjadi 5,209%, level yang belum pernah terlihat sejak Juli 2007. Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun berada di level 4,94% pada 24 September, naik 3 bps dari sesi sebelumnya, sementara imbal hasil tenor 10 tahun sempat menembus angka 5,15% sebelum turun sedikit ke kisaran 5,1%. Imbal hasil tenor 30 tahun juga naik melampaui 5,44%, level tertinggi sejak 2004. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 2 tahun naik menjadi 1,91%, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun meningkat ke kisaran 3,08%, level tertinggi sejak Agustus 1996. Yen Jepang melemah hingga melampaui level JPY158 per Dolar AS, sementara Indeks Dolar AS (DXY) naik ke angka 101,2 dan mencatatkan penguatan selama empat sesi berturut-turut.
PASAR EROPA & ASIA: Saham-saham Eropa melemah seiring lonjakan tajam harga minyak dan aksi jual di pasar obligasi global yang meningkatkan kekhawatiran terkait inflasi dan suku bunga. Indeks FTSE 100 Inggris turun, sementara indeks DAX 40 Jerman melemah sekitar 0,6% ke level 25.256, level terendah sejak 24 Juli. Indeks CAC 40 Prancis turun 0,5% ke level 8.081, sementara indeks STOXX Europe 600 turun 0,55% ke 636,42. Bursa saham Asia bergerak variatif. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,76% ke 65.514 setelah kembali dibuka usai libur panjang, didorong oleh kenaikan saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Sebaliknya, indeks Shanghai Composite turun 1,22% ke 3.888,4 dan Shenzhen Component melemah 2,34% ke 13.317 di tengah ketidakpastian mengenai perpanjangan gencatan senjata dagang AS-Tiongkok. Indeks BSE Sensex India turun sekitar 1,7% ke 73.580,5, sementara Hang Seng Hong Kong turun 0,3% ke 24.761. Sebelumnya, indeks KOSPI Korea Selatan naik 0,90% ke 7.081 pada hari Rabu, melanjutkan penguatan selama empat sesi berturut-turut.
KOMODITAS: Harga komoditas terutama dipengaruhi oleh perkembangan konflik AS-Iran dan ekspektasi kebijakan The Fed. Harga minyak Brent naik 2,94% menjadi sekitar US$106/barel, sementara minyak mentah berada di kisaran US$94/barel (naik 2,07%) setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran sedang mempertimbangkan kesepakatan bertahap yang dapat membuka kembali Selat Hormuz dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Harga emas turun 0,32% ke sekitar US$4.273/ons di tengah ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed. Harga tembaga naik 0,38% menjadi sekitar US$6,70/pon, namun tetap berada di bawah rekor tertingginya. Batu bara termal Australia turun 0,48% menjadi US$145/ton. Harga timah berada di kisaran US$53.898/ton, sementara nikel naik 0,30% menjadi sekitar US$16.530/ton di tengah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) Malaysia naik tipis sebesar 0,08% menjadi sekitar MYR4.772/ton.
AGENDA HARI INI:
-Jerman (DE): Indeks Keyakinan Konsumen GfK bulan Oktober.
-Amerika Serikat (AS): Pesanan Barang Tahan Lama (Durable Goods Orders) MoM bulan Agustus.
INDONESIA: Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter melalui lima pilar untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian global. Kelima pilar tersebut mencakup optimalisasi kebijakan fiskal dan moneter untuk mendukung pertumbuhan, penguatan ketahanan sektor eksternal dan arus modal asing, penguatan likuiditas pasar uang dan perbankan, pengendalian inflasi melalui TPIP dan TPID, serta pengembangan pasar keuangan untuk memperlancar transmisi kebijakan dan memperluas sumber pembiayaan. Koordinasi juga mencakup strategi pembiayaan pemerintah dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), termasuk dalam penyusunan strategi pembiayaan tahun 2027.
-Selain itu, pemerintah sedang menyusun rancangan besar (grand design) pendidikan nasional untuk mengoptimalkan anggaran pendidikan sebesar Rp824 triliun pada tahun 2027. Evaluasi ini akan mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, serta mengintegrasikan berbagai program seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Unggulan Garuda, sekolah reintegrasi, dan beasiswa LPDP. Pemerintah juga akan mengevaluasi efektivitas anggaran berdasarkan indikator-indikator seperti Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM), dan skor PISA.
-IHSG ditutup turun 1,20% ke level 6.298,61 pada perdagangan hari Kamis (24/09). Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp1,42 triliun di pasar reguler, menjadikan akumulasi jual bersih sejak awal tahun (YTD) mencapai Rp104,39 triliun. Arus dana asing terutama masuk ke saham ASII, MEDC, COIN, ASLI, dan TINS, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada saham BMRI, BBRI, TLKM, BUMI, dan ANTM. Nilai tukar Rupiah melemah ke kisaran Rp17.900 per Dolar AS, tertekan oleh penguatan Dolar AS, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury), dan ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed. Di dalam negeri, tekanan juga datang dari melemahnya keyakinan konsumen, melambatnya belanja rumah tangga, serta meningkatnya kekhawatiran fiskal akibat kenaikan harga minyak dan potensi pelebaran defisit anggaran.
-Secara teknikal, IHSG ditutup lebih rendah dan tetap berada di bawah EMA10, EMA20, dan EMA50, sehingga tekanan bearish jangka pendek masih mendominasi. Saat ini, IHSG berada di sekitar level retracement Fibonacci 61,80% pada angka 6.290,10, sementara resistance terdekat berada di kisaran 6.377–6.423. Indikator RSI (14) berada di level 40,09—masih di bawah level 50—yang mengindikasikan bahwa momentum bullish belum terbentuk. Jika level 6.290 kembali ditembus, tekanan koreksi dapat berlanjut menuju kisaran 6.253–6.219 atau 6.186. Sebaliknya, pemulihan harga (rebound) memerlukan pergerakan IHSG kembali ke atas level 6.377–6.423, dengan level 6.451 sebagai resistance berikutnya.
“Kami merekomendasikan sikap wait and see untuk saat ini atau penerapan strategi trailing stop,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (25/9).



