Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (15/10/2026): Buy on Weakness

Oleh: Ria

15 Oktober 2026, 09:00
ANALIS MARKET (15/10/2026): Buy on Weakness

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih rendah pada hari Rabu (26/10/14), setelah data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan memicu kekhawatiran mengenai arah kebijakan moneter dan valuasi saham teknologi.

Indeks S&P 500 turun 1,1%, Nasdaq Composite melemah 2%, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 49 poin.

Saham sektor semikonduktor menjadi penekan utama setelah ASML menyatakan kesulitan dalam memenuhi permintaan peralatan manufaktur chip, di tengah persaingan yang kian meningkat dari produsen asal Tiongkok. Nvidia turun 3,2%, Broadcom melemah 3,1%, Micron terkoreksi 4,1%, dan AMD anjlok 5,7%.

Di sektor keuangan, Bank of America turun 4,8% akibat pendapatan dari aktivitas perdagangan yang berada di bawah ekspektasi, sementara Morgan Stanley melemah 2,7%.

Sebaliknya, BlackRock menguat 0,7% seiring dengan meningkatnya arus masuk dana ke dalam bisnis manajemen asetnya.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar global cenderung berhati-hati karena investor dihadapkan pada kombinasi tekanan inflasi, volatilitas saham teknologi, dan ketidakpastian geopolitik. Data IHK (Indeks Harga Konsumen) AS bulan September menunjukkan kenaikan bulanan sebesar 0,6%, angka tertinggi dalam lima bulan terakhir, sementara inflasi inti tercatat sebesar 2,6% secara tahunan (YoY) dan 0,3% secara bulanan (MoM). Perkembangan ini meningkatkan sensitivitas pasar terhadap prospek suku bunga dan valuasi aset berisiko. Di sektor teknologi, kekhawatiran mengenai besarnya belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) semakin menguat di tengah persaingan yang terus berkembang dari produsen cip asal Tiongkok. Sementara itu, ketidakpastian mengenai kebijakan moneter Jepang serta risiko gangguan pasokan energi turut membatasi optimisme investor.

GEOPOLITIK: Ketegangan di Timur Tengah meningkat seiring dengan kembali memanasnya konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung oleh Iran. Kementerian Energi Arab Saudi melaporkan adanya serangan terhadap gedung administrasi Saudi Aramco, menyusul serangkaian serangan oleh kelompok Houthi ke Riyadh selama sepekan terakhir. Koalisi pimpinan Arab Saudi juga dilaporkan telah menyerang terminal energi dan cadangan bahan bakar milik kelompok Houthi di Yaman. Di sisi lain, ketegangan antara AS dan Iran tetap tinggi setelah Komando Pusat AS (US Central Command) membantah klaim Iran yang menyatakan kendali atas Selat Hormuz serta ancaman untuk menenggelamkan kapal perang AS. Eskalasi ini meningkatkan risiko terhadap keamanan jalur pelayaran dan distribusi energi global.

REGULASI & KEBIJAKAN: Prospek kebijakan moneter AS menarik perhatian lebih besar setelah inflasi tahunan bulan September mencapai 3,7%, melampaui estimasi pasar sebesar 3,6%, yang terutama disebabkan oleh kenaikan harga energi. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini. Di Jepang, Bank of Japan (BOJ) dilaporkan enggan menaikkan suku bunga dua kali secara beruntun dalam bulan ini, namun tetap membuka peluang untuk melakukan penyesuaian pada bulan Desember. Perbedaan arah kebijakan antara kedua bank sentral tersebut menjadi faktor penting bagi pergerakan imbal hasil obligasi, nilai tukar, dan arus modal internasional.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun melonjak hingga 10 basis poin ke level 5,3%, mendekati posisi tertinggi sejak awal tahun 2002. Sementara itu, imbal hasil tenor 2 tahun naik 1 basis poin menjadi 4,81% pada 14 Oktober 2026. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun stabil di kisaran 3%, sedangkan tenor 2 tahun bertahan di angka 1,93%. Di pasar valuta asing, Indeks Dolar AS menguat sebesar 0,7% ke level 102,88, level tertinggi sejak April 2025. Sebaliknya, Yen melemah ke kisaran JPY158,5 per Dolar AS, menghapus kenaikan yang dicapai pada sesi sebelumnya.

PASAR EROPA & ASIA: Bursa saham Eropa ditutup lebih tinggi. Indeks FTSE 100 Inggris naik lebih dari 0,7% ke level tertinggi dalam tiga minggu, didorong oleh saham sektor farmasi, energi, dan barang konsumsi. Indeks DAX 40 Jerman naik 0,2% menjadi 25.299, sementara indeks CAC 40 Prancis menguat 0,6% menjadi 7.873, didukung oleh kinerja saham sektor barang mewah dan industri. Indeks STOXX Europe 600 juga naik 0,43% menjadi 637,76. Sebagian besar bursa Asia melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,05% menjadi 67.744, mencatatkan penurunan selama lima sesi berturut-turut. Indeks Shanghai Composite terkoreksi 0,89% menjadi 3.767,2, sementara indeks Shenzhen Component anjlok 1,97% menjadi 12.110,6. Indeks BSE Sensex India melemah 0,3% menjadi 72.781,9 akibat aksi ambil untung, sementara indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,1% menjadi 24.314. Indeks KOSPI Korea Selatan terkoreksi 0,44% menjadi 6.009, memperpanjang penurunannya hingga enam sesi. Sebaliknya, indeks FKLCI Malaysia naik 0,27% menjadi 1.628, sementara indeks STI Singapura turun 0,13% menjadi 5.423.

KOMODITAS: Harga minyak Brent naik tipis 0,01% menjadi US$105,69/barel, sementara minyak mentah menguat 1,01% menjadi sekitar US$95/barel di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Harga batu bara turun 0,03% menjadi US$150/ton, sementara emas melemah 1,33% ke bawah US$4.105/ounce akibat penguatan Dolar AS. Harga tembaga turun menjadi US$666,05/lb, dengan perubahan sebesar -0,97%, di tengah gangguan pertambangan di Chili. Minyak sawit Malaysia naik 0,66% menjadi di atas MYR4.427/ton, harga timah melemah menjadi US$50.446/ton, sementara nikel turun 0,49% menjadi US$15.510/ton akibat kelebihan pasokan dan penguatan Dolar AS.

AGENDA HARI INI:

-Britania Raya (GB): PDB (bulan ke bulan/MoM) bulan Agustus.

-Amerika Serikat (AS): Indeks Harga Produsen (PPI) dan Penjualan Ritel (keduanya MoM) bulan September.

INDONESIA: Bank Indonesia (BI) mendorong pengembangan produk keuangan syariah yang lebih beragam untuk menangkap tingginya permintaan dari investor global. Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa sukuk menarik bagi investor dari negara-negara non-Muslim—termasuk AS dan Eropa—karena dianggap berkelanjutan dan didukung oleh aset dasar (underlying asset). Sejak 2018, penerbitan Sukuk Hijau (Green Sukuk) Indonesia di pasar global telah mencapai US$7,7 miliar, sementara penerbitan di pasar domestik mencapai Rp108,9 triliun. Diversifikasi instrumen syariah berpotensi memperluas basis investor, memperdalam pasar keuangan domestik, serta mendukung pembiayaan untuk proyek-proyek berkelanjutan. Dalam jangka panjang, peningkatan partisipasi investor global juga dapat memperkuat arus masuk modal, meskipun dampaknya terhadap nilai tukar rupiah dan imbal hasil (yield) obligasi akan tetap bergantung pada kondisi pasar global serta persepsi terhadap risiko Indonesia.

-Selain itu, pemerintah menargetkan penetapan Upah Minimum tahun 2027 paling lambat akhir November 2026, dengan proses yang saat ini masih menunggu regulasi baru terkait ketenagakerjaan. Formula pengupahan akan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan indeks alfa yang ditentukan oleh Dewan Pengupahan—dengan menyeimbangkan kepentingan pekerja dan pengusaha—serta rasio upah minimum terhadap standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Bagi pasar, kenaikan upah minimum berpotensi mendukung daya beli dan konsumsi rumah tangga, namun di sisi lain dapat meningkatkan biaya tenaga kerja dan menekan margin perusahaan, terutama di sektor-sektor yang padat karya. Besaran kenaikan upah dan kejelasan regulasi akan menjadi faktor penting bagi ekspektasi inflasi, prospek laba emiten, serta keputusan investasi bisnis.

-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,29% ke level 5.943,02 pada perdagangan hari Rabu (14/10). Meski demikian, investor asing masih mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp1,13 triliun di seluruh pasar, yang terdiri dari Rp104,01 miliar di pasar reguler serta Rp1,03 triliun di pasar tunai dan negosiasi. Secara tahun berjalan (year-to-date/YTD), akumulasi nilai jual bersih asing telah mencapai Rp111,29 triliun. Aliran dana asing terutama masuk ke saham BBCA, BRPT, TINS, MEDC, PWON, PGAS, SMGR, ASII, AALI, dan ACES, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada saham BBRI, BMRI, ADMR, ITMG, PTBA, DSSA, BUMI, EMAS, AADI, dan ERAA. Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah menguat tipis ke kisaran Rp17.890 per Dolar AS setelah bergerak dalam rentang terbatas selama beberapa sesi terakhir. Bank Indonesia terus melakukan intervensi melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan offshore Non-Deliverable Forward (NDF) untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

-Secara teknikal, IHSG telah menyentuh area resistensi terdekatnya namun belum mampu bertahan di atas level tersebut. Indikator RSI (14) naik ke level 34,2. Jika penguatan berlanjut, IHSG berpeluang menguji level 5.979, 6.009, hingga 6.120. Sebaliknya, jika gagal menembus level 5.979 atau justru turun di bawah level dukungan (support) 5.906, indeks berpotensi melemah menuju level 5.850. Jika tekanan terus berlanjut, level dukungan berikutnya berada di area 5.805–5.774, yang merupakan zona celah harga (gap zone).

“Kami merekomendasikan strategi buy on weakness, dengan peluang trading buy jika pergerakan IHSG menunjukkan kecenderungan naik Kembali,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (15/10).

Berita Terkini

See More