Inflasi|suku bunga acuan|Bank Indonesia (BI)|BI Rate|volatile food|EBC Financial Group (EBC)|Sana Ur Rehman

Inflasi Pangan Melonjak 5,03%, Ruang BI Pangkas Suku Bunga Terancam

Oleh: Harry

15 Oktober 2026, 14:11
Inflasi Pangan Melonjak 5,03%, Ruang BI Pangkas Suku Bunga Terancam

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Inflasi pangan bergejolak (volatile food) Indonesia melonjak menjadi 5,03% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026, jauh di atas inflasi umum sebesar 3,28%.

Kenaikan harga pangan di tengah ancaman El Niño hingga April 2027 memunculkan risiko tekanan inflasi yang lebih berkepanjangan, sekaligus berpotensi mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Menurut EBC Financial Group (EBC), kenaikan harga pangan perlu diwaspadai jika mendorong masyarakat dan pelaku usaha memperkirakan harga barang dan jasa lainnya turut meningkat.

Ekspektasi tersebut berisiko mengubah lonjakan harga sementara menjadi tekanan inflasi yang menetap.

“BI sudah menegaskan kebijakannya tidak merespons lonjakan harga yang bersifat sementara. Namun, jika pelaku usaha dan rumah tangga mulai berekspektasi harga akan terus naik, guncangan pangan yang sifatnya sementara bisa berubah menjadi tekanan yang menetap,” ujar Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, dalam keterangan tertulis, Kamis (15/10).

Meski demikian, inflasi inti justru melandai menjadi 2,84% pada September 2026 dari 2,92% pada bulan sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan tekanan harga masih terkonsentrasi pada pangan dan belum meluas ke seluruh perekonomian.

Inflasi umum juga masih berada dalam sasaran BI sebesar 1,5%–3,5%.

Risiko berikutnya datang dari ekspektasi kenaikan harga di tingkat peritel.

Survei Penjualan Eceran BI mencatat Indeks Ekspektasi Harga untuk Februari 2027 meningkat menjadi 177,9 dari 166,0 pada periode sebelumnya.

Kenaikan indeks tersebut menunjukkan peritel memperkirakan tekanan harga akan berlanjut.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan El Niño berlangsung hingga akhir April 2027.

Pada dasarian II Oktober, sebanyak 66,09% wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan rendah.

Gangguan cuaca ini berpotensi menekan pasokan pangan, meskipun belum dapat dipastikan sebagai penyebab kenaikan ekspektasi harga peritel.

Studi Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan, lonjakan harga kebutuhan pokok dapat meningkatkan ekspektasi inflasi dan membuatnya bertahan tinggi selama bertahun-tahun.

Kelompok berpendapatan rendah juga cenderung menanggung inflasi lebih besar karena porsi belanja pangan dan energi mereka lebih tinggi.

Namun, kondisi Indonesia saat ini belum menunjukkan krisis biaya hidup. Inflasi umum masih terkendali, inflasi inti melandai, dan ekspektasi inflasi dinilai tetap terjangkar.

Karena itu, kenaikan ekspektasi harga peritel menjadi risiko yang perlu dipantau, bukan indikasi bahwa krisis telah terjadi.

Diketahui, BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada 23 September 2026.

Jika ekspektasi kenaikan harga meluas dan bertahan, ruang BI untuk memangkas suku bunga berpotensi menyempit.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi pergerakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan nilai tukar rupiah.

Rehman mengatakan, perkembangan inflasi bulanan, Survei Penjualan Eceran BI, dan data curah hujan BMKG menjadi indikator penting untuk memantau risiko tersebut.

“Jika ekspektasi harga terus naik selama El Niño berlangsung, masalah cuaca bisa berubah menjadi masalah harga yang lebih panjang. Jika berhenti naik, ini hanya akan menjadi lonjakan harga pangan jangka pendek,” ujarnya.

Berita Terkini

See More