Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (12/10/2026): Buy on Weakness!

Oleh: Ria

12 Oktober 2026, 08:52
ANALIS MARKET (12/10/2026): Buy on Weakness!

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup menguat pada hari Jumat (09/10/2026), didukung oleh optimisme terhadap musim laporan keuangan kuartalan dan prospek pertumbuhan sektor kecerdasan buatan (AI).

Indeks S&P 500 naik 0,59%, Nasdaq 100 menguat 0,64%, sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,83%.

Saham Amazon melonjak 3,3%, Microsoft naik 2,4%, dan Alphabet menguat 1% di tengah ekspektasi bahwa pendapatan tahunan OpenAI akan mencapai atau melampaui US$70 miliar pada akhir tahun.

Pekan depan, perhatian investor akan tertuju pada laporan keuangan bank-bank besar AS, yang diperkirakan akan menghasilkan pendapatan gabungan dari perdagangan saham sebesar hampir US$19 miliar.

Secara mingguan, S&P 500 naik 0,9%, Nasdaq turun 0,1%, sementara Dow Jones naik 585 poin.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar global cenderung beragam; optimisme terhadap kinerja perusahaan berhadapan dengan kekhawatiran mengenai tekanan inflasi yang masih terus berlanjut. Di AS, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga bulan ini berada di kisaran 81%, sementara peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada bulan Desember diperkirakan sekitar 69%. Ekspektasi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mengantisipasi kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu yang lebih lama. Di Eropa, pasar mulai menyesuaikan proyeksi suku bunga ECB, di mana suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility rate) diperkirakan mencapai 2,72% pada bulan Desember, dibandingkan dengan tingkat saat ini sebesar 2,50%. Investor juga memantau perkembangan hubungan dagang Tiongkok-UE setelah liburan Golden Week.

GEOPOLITIK: Ketegangan AS-Iran terus menimbulkan risiko terhadap distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menyatakan tidak akan kembali menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu AS pada bulan November, dengan alasan adanya pembicaraan yang produktif dengan Teheran. Namun, risiko keamanan pelayaran tetap tinggi setelah dilaporkan adanya 11 kapal tanker yang diserang saat melintasi Selat Hormuz selama pekan yang berakhir pada 4 Oktober. Sejumlah kapal tanker juga tertahan dalam aktivitas transfer antar-kapal di luar selat, yang mendorong tarif pelayaran global ke rekor tertinggi dan mengurangi ketersediaan kapal di rute-rute lain. Di sisi lain, pemerintah AS berencana menerbitkan lisensi umum sementara yang mengizinkan sekitar 22,5 juta barel solar Rusia masuk ke pasar global setelah Presiden Vladimir Putin menyetujui pelepasan pasokan tersebut.

REGULASI & KEBIJAKAN: Bank of Japan (BOJ) menunjukkan tanda-tanda melanjutkan normalisasi kebijakan moneter. Anggota Dewan BOJ, Ayano Sato—yang sebelumnya menentang kenaikan suku bunga pada bulan September—menyatakan dukungannya terhadap pendekatan bertahap dalam menaikkan suku bunga melalui beberapa tahapan. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi akan pengetatan kebijakan lebih lanjut di Jepang. Sementara itu, di AS, fokus kebijakan tetap tertuju pada keputusan suku bunga The Fed di tengah inflasi yang masih bertahan. Perbedaan ekspektasi kebijakan moneter antara AS dan Jepang menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pergerakan nilai tukar kedua negara.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 2 tahun naik 4 basis poin (bps) menjadi 4,80% pada 9 Oktober 2026, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun naik menjadi 5,26% setelah sempat turun 6 bps pada sesi sebelumnya dari level tertinggi sejak tahun 2002. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 2 tahun turun 2 bps menjadi 1,91%, sementara imbal hasil tenor 10 tahun melemah mendekati level 3%, mencapai titik terendah dalam dua minggu. Di pasar valuta asing, Indeks Dolar AS diperdagangkan stabil di kisaran 102,1 dan berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan mingguan keempat berturut-turut, dengan peningkatan sekitar 0,2%. Yen Jepang melemah melampaui level JPY158 per dolar AS dan menuju penurunan mingguan keempat berturut-turut, mencerminkan tekanan akibat selisih suku bunga serta beban utang Jepang yang tinggi.

PASAR EROPA & ASIA: Saham-saham Eropa ditutup menguat secara luas. Indeks FTSE 100 Inggris naik 1,06% ke level 10.552, mencapai titik tertinggi sejak 30 September dan mengakhiri tren penurunan selama dua hari. Indeks DAX 40 Jerman menguat 1,13% ke 25.087, sementara CAC 40 Prancis naik 0,95% ke 7.803. Indeks STOXX Europe 600 (EU600) naik 0,97% ke 631,55.

-Saham-saham Asia bergerak bervariasi. Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup hampir tidak berubah di angka 69.031 setelah memulihkan sebagian besar penurunan intraday-nya. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 1,79%, atau 426 poin, ke 24.211, sementara Shanghai Composite relatif stabil di 3.813,8 dan Shenzhen Component naik 0,17% ke 12.641,9. Indeks BSE Sensex India menguat 1,23% ke 72.472. Sebaliknya, indeks saham Singapura turun 0,20% ke 5.402, melanjutkan penurunannya selama tiga sesi berturut-turut. Indeks KOSPI Korea Selatan terkoreksi 2,62% ke 6.626 pada hari Kamis. Sementara itu, indeks FKLCI Malaysia naik 0,46% ke 1.608.

KOMODITAS: Harga komoditas bergerak bervariasi, terutama dipengaruhi oleh dinamika pasokan, permintaan, dan aktivitas perdagangan. Harga minyak Brent tercatat di level US$104,43 per barel, sementara minyak mentah AS (WTI) berada di kisaran US$91,85 per barel, naik 0,39% pada hari Jumat. Secara mingguan, harga minyak menguat sekitar 0,2%. Harga emas melonjak lebih dari 1,47% ke kisaran US$4.193,87 per ons, mencapai level tertinggi dalam satu minggu. Kontrak berjangka tembaga AS naik 1,88% menjadi di atas US$6,66 per pon, mendekati rekor US$6,80 per pon di tengah kekhawatiran mengenai pasokan global. Harga batu bara berada di kisaran US$148,85 per ton, dengan perubahan tercatat sebesar -0,40%, setelah Mahkamah Agung Australia menolak banding terkait rencana perluasan tambang di New South Wales. Harga minyak kelapa sawit Malaysia berada di kisaran MYR4.362 per ton, dengan perubahan tercatat sebesar -1,93%, setelah sempat mengalami kenaikan yang didukung oleh penguatan harga minyak nabati di Dalian dan Chicago serta adanya pembelian dari India. Sementara itu, harga timah naik 3,03% menjadi US$53.006/ton pada 9 Oktober 2026, sedangkan harga nikel berada di kisaran US$15.622/ton dengan perubahan tercatat sebesar +0,44%, di tengah tekanan akibat pasokan yang melimpah.

AGENDA HARI INI:

-India (IN): Tingkat Inflasi YoY bulan September.

-Amerika Serikat (AS): Pidato pejabat The Fed (Pidato Fed Hammack).

-Internasional: Pertemuan Tahunan IMF–Bank Dunia.

INDONESIA: Pemerintah mencatat pembiayaan utang neto sebesar Rp494,3 triliun hingga September 2026, atau 59,4% dari target APBN, terutama melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) senilai total Rp497,5 triliun. Pada periode yang sama, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp492,3 triliun, tumbuh 41,7% YoY dan setara dengan 84,4% dari target, didorong oleh setoran Satgas PKH, harga minyak mentah yang lebih tinggi, serta kenaikan harga batu bara dan mineral. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan bahwa pembiayaan APBN tetap sesuai rencana, dengan penerbitan utang yang dilakukan secara hati-hati mengikuti kondisi pasar.

-Selain itu, Indonesia dan Mesir menyepakati empat perjanjian kerja sama bilateral selama kunjungan Presiden Abdel Fattah El-Sisi ke Jakarta pada 11 Oktober 2026, yang mencakup kemitraan strategis, pembebasan visa bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas, kerja sama statistik, serta urusan kelautan dan perikanan. Kedua negara juga membahas potensi kolaborasi di bidang investasi, industri pertahanan, perdagangan, dan ekonomi, meskipun nilai investasi dan target perdagangan belum diumumkan.

-IHSG ditutup menguat 1,04% di level 6.093,76 pada perdagangan hari Jumat (9/10). Di tengah kenaikan ini, investor asing mencatat jual bersih (net sell) sebesar Rp29,63 miliar di seluruh pasar dan Rp141,50 miliar di pasar reguler. Secara year-to-date (YTD), akumulasi penjualan bersih asing mencapai Rp111,13 triliun. Aliran dana asing terutama masuk ke saham ENRG, EMAS, ARCI, ICBP, PTRO, TPIA, SINI, ERAA, GGRM, dan DSSA. Sementara itu, tekanan jual asing terbesar tercatat pada saham GOTO, BBRI, TLKM, PACK, AADI, BBNI, ASII, ITMG, HRTA, dan INCO. Di pasar valuta asing, nilai tukar USD/IDR melemah 0,07% ke level Rp17.917 pada 9 Oktober 2026. Secara lebih luas, Rupiah telah melemah 1,82% dalam sebulan terakhir dan 7,90% dalam setahun terakhir.

-Secara teknikal, IHSG berhasil rebound dan bertahan di atas level support FR 61,80% (6.033), dengan indikator RSI (14) mulai naik ke level 39,8. Jika IHSG berhasil menguat, indeks berpotensi menguji kembali level 6.134 (EMA10), diikuti oleh level 6.179 dan 6.214. Sebaliknya, jika gagal bertahan di atas support 6.033, IHSG diperkirakan rentan menguji support di 5.979; jika level ini tertembus, penurunan dapat berlanjut ke support berikutnya di 5.898 / 5.887.

“Kami menyarankan investor untuk melakukan pembelian saat harga melemah (buy on weakness) dan menunggu munculnya kembali sinyal beli yang kuat,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Senin (12/10).

Berita Terkini

See More