Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (10/9/2026): IHSG Memiliki Ruang untuk Kembali Menguat

Oleh: Ria

10 September 2026, 08:27
ANALIS MARKET (10/9/2026): IHSG Memiliki Ruang untuk Kembali Menguat

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Rabu (26/09/09) setelah investor kecewa dengan pengumuman program pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah AS (Treasury) yang nilainya lebih kecil dari perkiraan.

Indeks S&P 500 turun 0,48% ke level 7.636,36, Nasdaq Composite melemah 0,64% ke 26.253,34, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,77% ke 52.380,66.

Saham Apple turun 0,3% setelah memperkenalkan iPhone Duo, versi lipat pertama dalam jajaran produk iPhone.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung negatif menjelang rilis data inflasi AS, yang akan menjadi acuan utama bagi arah kebijakan The Fed. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan tanggal 16 September masih berada di kisaran 60%. Investor akan memantau data Indeks Harga Produsen (PPI) dan Indeks Harga Konsumen (CPI), di mana tingkat inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko.

GEOPOLITIK: Ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat seiring berlanjutnya aktivitas militer kedua negara, yang memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak melalui Selat Hormuz. AS dilaporkan telah menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran, sementara Iran merespons dengan serangkaian serangan terhadap kapal dan fasilitas yang terkait dengan AS. Kondisi ini memperkecil peluang penyelesaian konflik dalam waktu dekat dan meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.

REGULASI & KEBIJAKAN: Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana untuk membeli kembali obligasi pemerintah (Treasury) tenor 10–20 tahun senilai hingga US$6 miliar—naik dari sebelumnya US$2 miliar—namun angka ini masih di bawah ekspektasi pasar yang mengharapkan setidaknya US$10 miliar. Kebijakan ini bertujuan untuk membantu meredakan tekanan di pasar obligasi. Sementara itu, The Fed akan memantau data inflasi terkini sebelum menentukan arah kebijakan suku bunganya pada pertemuan bulan September.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun naik 4,2 bps menjadi 4,85%—level tertinggi sejak Oktober 2023—sementara imbal hasil tenor 2 tahun naik 2,7 bps menjadi 4,43%. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan tekanan yang meningkat di pasar obligasi menyusul pengumuman pembelian kembali (buyback) oleh Departemen Keuangan AS. Di sisi lain, indeks DXY turun ke kisaran 98,6, mencatatkan pelemahan selama tiga sesi berturut-turut, sementara Yen menguat ke kisaran JPY153/USD. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke kisaran 2,88%, sedangkan imbal hasil tenor 2 tahun turun 2 bps menjadi 1,84%.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa ditutup lebih rendah di tengah tekanan yang meningkat dari pasar energi. Indeks FTSE 100 turun lebih dari 1% ke level terendah dalam tujuh minggu, DAX 40 turun 1,7% menjadi 25.554, CAC 40 melemah 1,9% menjadi 8.162, dan FTSE MIB turun 0,5% menjadi 51.875. Sementara itu, indeks EU600 terkoreksi 1,42% menjadi 640,40.

-Pasar Asia bergerak variatif. Nikkei 225 turun 0,19% menjadi 65.143 di tengah menguatnya Yen, sementara Shanghai Composite naik 0,28% menjadi 3.951,5 dan Shenzhen Component menguat 0,15% menjadi 13.723,3. KOSPI naik 1,40% menjadi 7.052, didukung oleh penguatan saham-saham sektor semikonduktor. Sebaliknya, Hang Seng turun 0,2% menjadi 25.275, STI Singapura turun 0,66% menjadi 5.730, dan BSE Sensex India melemah sekitar 1,1% menjadi 74.764. Indeks KLCI Malaysia bergerak relatif datar di level 1.714.

KOMODITAS: Pergerakan komoditas didominasi oleh kenaikan pada sektor energi dan aset safe haven. Harga minyak Brent naik 4,12% menjadi US$101,90 per barel, sementara WTI naik 4,27% menjadi sekitar US$97 per barel, didorong oleh meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat konflik AS-Iran. Harga emas naik 1,05% menjadi US$4.401 per ons di tengah pelemahan dolar AS dan kekhawatiran inflasi yang meningkat. Harga tembaga naik 0,52% menjadi US$6,77 per pon, sedangkan nikel menguat 0,72% menjadi US$16.875 per ton namun tetap tertekan oleh tingginya tingkat persediaan. Harga timah turun 0,51% menjadi US$54.862 per ton, sementara CPO melemah 0,20% menjadi MYR4.966 per ton. Harga batu bara berada di kisaran US$147,60 per ton (per 8 September), relatif stabil di tengah dinamika permintaan energi global dan risiko pasokan.

INDONESIA: Pemerintah menargetkan rasio utang pemerintah terhadap PDB berada di kisaran 40,31%–40,64% pada tahun 2027 sebagai salah satu indikator kinerja pengelolaan pembiayaan dan risiko negara. DJPPR (Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko) juga menargetkan pemenuhan kebutuhan pembiayaan sebesar 100% dengan biaya dan risiko yang terkendali, sementara imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) diproyeksikan berada di kisaran 6,5%–7,3% (dengan titik tengah 6,9%), sejalan dengan asumsi dasar makroekonomi. Pemerintah juga menargetkan indeks keberhasilan 100% untuk pendalaman pasar SBN domestik dan terus memperluas basis investor SBN ritel, yang saat ini telah mencapai sekitar 1,081 juta investor. Penerbitan SBN ritel ditargetkan sebesar Rp160–Rp170 triliun pada tahun 2026, meningkat dari Rp152 triliun pada tahun 2025.

-Selain itu, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mendesak pemerintah untuk memberikan insentif yang lebih kompetitif bagi sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT), menyusul rencana BKPM untuk mengganti skema tax holiday. Kadin mengusulkan perpanjangan masa tax holiday menjadi 15 tahun, mengingat besarnya kebutuhan modal dan panjangnya proses penelitian serta pengembangan untuk proyek-proyek EBT. Pelaku usaha juga memandang peningkatan bankability (kelayakan pembiayaan bank) dan kepastian struktur proyek sebagai hal yang penting untuk mempermudah proyek EBT dalam memperoleh pembiayaan perbankan. Dukungan fiskal dan moneter yang lebih kompetitif serta konsistensi kebijakan dinilai penting untuk meningkatkan daya tarik investasi EBT dalam jangka panjang.

-IHSG turun 0,12% ke level 6.678,20 pada hari Rabu (09/09/26), bergerak di kisaran 6.642,15–6.707,31, dengan investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp621,40 miliar di Pasar Reguler. Akumulasi asing terbesar terjadi pada saham ANTM, AADI, BBRI, PTBA, dan INDY, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada saham BBCA, BMRI, CPIN, ASII, dan TPIA. Nilai tukar Rupiah menguat hingga di bawah Rp17.600/USD, didukung oleh membaiknya posisi eksternal dan peningkatan cadangan devisa ke level tertinggi dalam lima bulan pada bulan Agustus. Selain itu, sentimen domestik membaik, dengan keyakinan konsumen mencapai level tertinggi dalam tiga bulan pada bulan Agustus, yang didukung oleh kondisi keuangan rumah tangga dan prospek ekonomi yang lebih positif.

-Secara teknikal, IHSG mengalami koreksi wajar setelah sempat menguat, meskipun tren kenaikan (uptrend) masih terjaga. Indikator RSI (14) turun ke level 65, namun masih menunjukkan momentum bullish yang cukup kuat. IHSG memiliki ruang untuk kembali menguat dan menguji area gap di level 6.723, dengan target berikutnya di kisaran 6.787–6.858 jika berhasil menembus level tersebut. Sebaliknya, koreksi lanjutan berpotensi membawa indeks menguji level support di 6.636, 6.605 (EMA10), hingga ke 6.566.

“Kami mempertahankan strategi hold atau selective buy on weakness, dengan kewaspadaan tinggi jika IHSG menembus level support tersebut,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (10/9).

Berita Terkini

See More