Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|FAC Sekuritas

ANALIS MARKET (30/9/2026): IHSG Diperkirakan Masih Bergerak dalam Tekanan

Oleh: Ria

30 September 2026, 08:51
ANALIS MARKET (30/9/2026): IHSG Diperkirakan Masih Bergerak dalam Tekanan

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian FAC Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan kemarin (29/9), IHSG ditutup melemah 26,16 poin (- 0,42%) ke level 6.121,70.

Pelemahan IHSG disebabkan adanya tekanan eksternal dan meningkatnya volatilitas di pasar domestik.

Dari eksternal, kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS meningkatkan kekhawatiran bahwa suku bunga global akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama.

Kondisi ini semakin menekan sentimen pasar seiring pelemahan Rupiah hingga mendekati Rp18.000/US$ dan harga minyak yang masih tinggi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dari sisi domestik, penerapan aturan baru BEI yang menurunkan batas minimum harga saham menjadi Rp1 per saham turut meningkatkan volatilitas pada sejumlah saham dan mendorong aksi jual.

Kemudian, penetapan APBN 2027 dengan defisit 2,4% terhadap PDB menjadi perhatian fiskal, meski bukan faktor utama yang menekan IHSG pada perdagangan kemarin.

Sementara itu, Wall Street tadi malam ditutup melemah, tercermin dari DJIA (-0,26%), S&P 500 (-0,16%), & Nasdaq (-0,09%).

Pelemahan tersebut dipicu oleh kenaikan yield US Treasury ke level tertinggi dalam beberapa tahun, yang membuat valuasi saham menjadi kurang menarik.

Tekanan tersebut diperkuat oleh harga minyak yang tetap tinggi, sehingga meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membuat pasar memperkirakan suku bunga The Fed akan bertahan tinggi lebih lama.

Selain itu, pernyataan Presiden New York Fed John Williams bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin diperlukan tahun ini semakin memperkuat sentimen hawkish.

“Untuk perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan masih bergerak dalam tekanan dengan kecenderungan bearish, seiring investor terus mencermati perkembangan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak, penerapan batas minimum Rp1 saham domestik, serta nilai tukar rupiah,” sebut analis FAC Sekuritas dalam riset Rabu (30/9).

Berita Terkini

See More