Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (30/9/2026): IHSG Berpeluang Teknikal Rebound Jika Tekanan Jual Mereda

Oleh: Ria

30 September 2026, 08:26
ANALIS MARKET (30/9/2026): IHSG Berpeluang Teknikal Rebound Jika Tekanan Jual Mereda

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup sedikit lebih rendah pada hari Selasa (29/09/26), meskipun sempat pulih dari level terendah sesi perdagangan setelah tekanan di pasar obligasi Treasury mereda menyusul komentar bernada dovish dari salah satu pejabat Federal Reserve.

Indeks S&P 500 turun 0,17% ke level 7.670,84, Nasdaq Composite melemah 0,09% ke 26.797,54, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,26% ke 51.349,92.

Di sisi lain, saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) berhasil ditutup lebih tinggi setelah laporan media menyebutkan bahwa Anthropic sedang bersiap untuk melakukan IPO dengan target valuasi lebih dari US$2 triliun.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung beragam, di mana investor memantau tekanan di pasar obligasi, prospek inflasi, dan arah kebijakan Federal Reserve. Data ekonomi yang lebih lemah turut menambah tekanan, terutama setelah indikator keyakinan konsumen AS turun ke level terendah dalam lebih dari 12 tahun. Di sisi lain, tema AI tetap menjadi penopang utama bagi indeks saham utama, khususnya saham semikonduktor dan kelompok "Magnificent 7". Namun, kekhawatiran mengenai peningkatan utang perusahaan untuk membiayai pengembangan infrastruktur AI, potensi perlambatan dalam pengembangan AI, serta tekanan pada saham semikonduktor dan perusahaan yang memiliki eksposur terhadap pusat data (data center) terus membebani pasar.

GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi salah satu kekhawatiran utama pasar. Kemajuan dalam pembicaraan antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz masih terbatas. Kondisi ini mempertahankan kekhawatiran akan tingginya harga energi, yang dapat mendorong kenaikan inflasi dan meningkatkan tekanan terhadap kebijakan moneter AS. Di sisi lain, laporan mengindikasikan adanya pembicaraan tidak langsung antara pejabat AS dan Iran melalui perantara, sementara arus minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan masih terus berjalan dalam skala terbatas.

REGULASI & KEBIJAKAN: Fokus kebijakan tetap tertuju pada Federal Reserve, yang diperkirakan masih akan menghadapi tekanan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat guna mengendalikan inflasi. Pasar swap memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed sebesar hampir satu poin persentase dalam setahun ke depan, sementara kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan kekhawatiran akan inflasi. Data aktivitas bisnis AS yang tumbuh pada laju tercepat sejak Juli 2021 juga memperkuat ekspektasi mengenai potensi pengetatan kebijakan lebih lanjut. Namun, tingginya biaya pinjaman dapat membebani pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun kembali naik menjadi 5,28% pada hari Selasa (29/09), bertahan di level tertinggi sejak 2007, sementara imbal hasil Treasury tenor 2 tahun turun menjadi 4,88%. Kenaikan imbal hasil tenor panjang mencerminkan meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed, di tengah kekhawatiran mengenai inflasi, defisit fiskal, dan peningkatan utang pemerintah AS. Indeks Dolar AS menguat ke level 101,4, mencapai titik tertinggi dalam tiga bulan, didukung oleh ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed lebih lanjut dan aktivitas ekonomi AS yang relatif kuat. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke kisaran 3,08%, sementara mata uang Yen stabil di kisaran JPY157 per Dolar AS setelah adanya intervensi verbal dari pemerintah Jepang.

PASAR EROPA & ASIA: Saham-saham Eropa bergerak variatif. Indeks FTSE 100 Inggris berbalik melemah lebih dari 0,5% dan berada di level terendah dalam lebih dari dua minggu. Indeks DAX Jerman ditutup sedikit lebih tinggi di level 25.375 setelah sebagian besar keuntungan awalnya terpangkas. Indeks CAC 40 Prancis turun 0,5% menjadi 8.036 dan berada di level terendah dalam 18 minggu. Sementara itu, indeks STOXX Europe 600 turun 0,09% ke level 638,08. Bursa saham Asia sebagian besar melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,6% ke 65.481, sedangkan Topix terkoreksi 1,72% ke 4.041 akibat tingginya imbal hasil obligasi global dan kekhawatiran akan inflasi yang dipicu oleh harga energi. Indeks Shanghai Composite naik 0,18% ke 3.830,5 dan Shenzhen Component menguat 0,34% ke 12.902, didukung oleh ekspektasi adanya stimulus kebijakan. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,5% atau 119 poin ke 24.524 seiring investor memantau pergerakan harga minyak dan tingginya imbal hasil obligasi global. Indeks KOSPI Korea Selatan turun 0,27% ke 6.871. Di wilayah Asia lainnya, indeks BSE Sensex India turun sekitar 0,3%, FKLCI Malaysia melemah 1,56%, dan STI Singapura turun 0,25%.

KOMODITAS: Harga komoditas bergerak bervariasi. Harga minyak Brent turun 2,24% ke kisaran US$102 per barel, sementara minyak mentah WTI melemah 3,53% menuju US$89 per barel setelah AS kembali memerintahkan pelepasan cadangan minyak strategis (SPR) dan ekspor minyak Arab Saudi mulai pulih. AS akan menawarkan hingga 40 juta barel dari SPR melalui skema pertukaran yang pada akhirnya diharapkan dapat mengembalikan sekitar 200 juta barel ke dalam cadangan dalam kurun waktu satu tahun. Harga emas naik 1,60% ke level di atas US$4.180/ons seiring investor menantikan data ekonomi AS untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga The Fed. Harga tembaga turun ke kisaran US$6,5/pon di tengah kekhawatiran mengenai prospek permintaan dari Tiongkok. Harga batu bara naik 1,56% menjadi di atas US$146/ton akibat pengetatan pasokan global dan peningkatan permintaan. Harga timah naik ke kisaran US$53.786/ton, sementara harga nikel turun 1,11% ke kisaran US$15.985/ton akibat ketersediaan pasokan yang masih melimpah. Harga minyak kelapa sawit Malaysia turun 0,86% ke bawah level MYR4.624/ton.

INDONESIA: Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) secara resmi mengesahkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2027 menjadi undang-undang dengan rancangan kebijakan fiskal yang ekspansif. Defisit anggaran ditetapkan sebesar 2,4% dari PDB, dengan target pendapatan negara mencapai Rp3.435,1 triliun dan belanja negara sebesar Rp4.106,3 triliun. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6%, inflasi 2,5%, dan nilai tukar Rupiah di kisaran Rp17.500 per Dolar AS. Sejumlah alokasi anggaran prioritas juga telah disiapkan, termasuk Rp824 triliun untuk pendidikan, Rp539,7 triliun untuk perlindungan sosial, Rp195,3 triliun untuk ketahanan pangan, dan Rp735 triliun untuk transfer ke daerah.

-Selain itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong hilirisasi batu bara berkalori rendah menjadi metanol, yang nantinya dapat digunakan dalam rantai pasok energi, termasuk sebagai bahan campuran bahan bakar. Pemerintah telah memulai proyek percontohan di Kutai Timur, Kalimantan Timur, dan berencana mereplikasi pengembangan tersebut di sejumlah wilayah lain, termasuk Sumatra Selatan yang memiliki cadangan batu bara berkalori rendah yang cukup besar. Metanol yang dihasilkan dari pengolahan batu bara juga akan dialokasikan sebagai bahan pendukung produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) melalui pencampuran dengan minyak kelapa sawit, guna mendukung program wajib biodiesel pemerintah.

-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,43% di level 6.121,70. Sepanjang perdagangan hari Selasa (29/09), investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp536,70 miliar, dengan akumulasi jual bersih sejak awal tahun (year-to-date) mencapai Rp105,63 triliun. Aliran dana asing terutama masuk melalui saham BBRI, TPIA, BRMS, EMAS, dan DEWA, sementara tekanan jual asing terbesar tercatat pada saham BMRI, TLKM, BBCA, PTBA, dan ADRO. Nilai tukar Rupiah menguat tipis ke level 17.947 setelah sempat diperdagangkan di atas level 18.000.

-Secara teknikal, setelah menyentuh level support-nya, IHSG berhasil mencatatkan rebound teknikal. Indikator RSI (14) turun ke angka 31, mendekati area jenuh jual (oversold), yang mengindikasikan momentum bearish cukup kuat sekaligus membuka kembali peluang terjadinya rebound teknikal jika tekanan jual mulai mereda. Jika IHSG kembali melemah, penurunan tersebut dapat kembali menguji level 6.033,38 (FR 61,80%) dan 5.987. Sebaliknya, jika indeks berhasil menguat dan menembus level 6.150, indeks berpotensi kembali ke level 6.186, lalu ke kisaran 6.227–6.241.

“Kami melihat adanya peluang untuk melakukan pembelian saat harga turun (buy on weakness) namun tetap menyarankan kehati-hatian jika tekanan terus berlanjut,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (30/9).

Berita Terkini

See More