Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (18/8/2026): Tren Bullish Jangka Pendek Masih Terjaga

Oleh: Ria

18 Agustus 2026, 08:57
ANALIS MARKET (18/8/2026): Tren Bullish Jangka Pendek Masih Terjaga

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Senin (17/8/26), seiring langkah investor untuk mengambil jeda setelah mencatatkan rekor kenaikan pada pekan sebelumnya.

Indeks S&P 500 turun 0,52% ke level 7.745,06, Nasdaq Composite melemah 0,32% ke 26.644,91, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,51% ke 53.459,78.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung negatif akibat kembali naiknya harga minyak di tengah belum adanya kemajuan berarti dalam penyelesaian konflik Timur Tengah. Sementara itu, data inflasi AS bulan Juli yang lebih moderat, ditambah dengan data tenaga kerja dan penjualan ritel yang relatif lemah, membuat pasar menilai bahwa The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil pada bulan September. Probabilitas suku bunga tidak berubah berada di kisaran 67%, sedangkan peluang kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) turun menjadi sekitar 33%. Fokus investor kini beralih ke risalah rapat FOMC bulan Juli serta laporan kinerja keuangan dari Home Depot dan Walmart.

GEOPOLITIK: Ketegangan AS-Iran masih menjadi perhatian setelah gencatan senjata selama 60 hari berakhir tanpa adanya kesepakatan damai atau rencana konkret mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Kedua belah pihak masih berbeda pendapat mengenai syarat pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut, sementara AS berencana menerapkan langkah-langkah ekonomi terhadap Iran. Kondisi ini menjaga risiko gangguan pasokan energi tetap tinggi.

REGULASI & KEBIJAKAN: Risalah rapat FOMC bulan Juli akan menjadi fokus utama untuk memantau arah kebijakan moneter selanjutnya. Dalam rapat tersebut, tiga anggota FOMC memilih untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 bps, sementara mayoritas anggota memilih untuk mempertahankan suku bunga. Investor akan mencermati apakah risalah tersebut menunjukkan sikap yang lebih hawkish.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik melampaui 4,7% pada hari Senin (17/8), mendekati level tertinggi dalam 19 bulan di angka 4,75%, sementara yield tenor 2 tahun bertahan di level 4,19%. Di pasar valuta asing, indeks DXY turun ke kisaran 99,5 selama tiga hari berturut-turut, Euro menguat ke sekitar US$1,160, dan Yen menguat ke kisaran JPY159/US$. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak ke angka 2,93%—level tertinggi sejak tahun 1996—di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa sebagian besar melemah. Indeks FTSE 100 turun 0,28%, DAX 40 melemah 0,4% ke level 26.339, CAC 40 turun 0,7% ke 8.580, FTSE MIB relatif stabil dengan kenaikan 0,01%, sementara STOXX Europe 600 turun 0,22%.

-Pasar Asia sebagian besar menguat. Nikkei 225 naik 0,74% ke 69.220, Shanghai Composite menguat 1,41% ke 3.982,7, Shenzhen Component melonjak 2,44% ke 14.704,3, dan Hang Seng naik 1,3% ke 25.435. Indeks Sensex India turun 0,4%, FKLCI Malaysia melemah 0,09%, sedangkan STI Singapura naik 0,43%.

KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas didominasi oleh kenaikan pada sektor energi dan emas. Harga minyak WTI naik 3,17% menjadi sekitar US$85/barel dan Brent menguat 3,01% menjadi US$91,2/barel. Harga emas naik 0,98% menjadi sekitar US$4.418/oz, sementara harga tembaga bergerak di atas US$6,7/lb. Harga timah naik ke kisaran US$56.000/ton, sedangkan nikel turun 0,36% ke kisaran US$16.750/ton. Harga batu bara termal relatif stabil di angka US$129,3/ton dan CPO Malaysia naik 0,15% menjadi MYR4.717/ton.

AGENDA HARI INI:

-Australia (AU): Perubahan Indeks Keyakinan Konsumen Westpac bulan Agustus.

-Inggris Raya (GB): Tingkat Pengangguran bulan Juni.

-Jerman (DE): Indeks Sentimen Ekonomi ZEW bulan Agustus.

-Amerika Serikat (US): Izin Mendirikan Bangunan (awal) dan Pembangunan Rumah Baru (Housing Starts) bulan Juli.

INDONESIA: Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6% pada tahun 2027, lebih tinggi dibandingkan target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026 sebesar 5,4%. Optimisme ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi semester pertama tahun 2026 sebesar 5,45% dan realisasi investasi sekitar Rp1.010 triliun, yang menciptakan sekitar 1,4 juta lapangan kerja. Pemerintah juga menaikkan target realisasi investasi tahun 2027 menjadi Rp2.322 triliun dari target tahun 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun, sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi 5,8%–6,5%. Investasi menjadi semakin penting dalam mendukung pertumbuhan, sebagaimana tercermin dari pertumbuhan investasi kuartal II-2026 sebesar 6,87%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,06%. Selain itu, pemerintah terus mendorong hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah domestik. Realisasi investasi hilirisasi pada semester pertama tahun 2026 mencapai Rp300,1 triliun, atau 29,7% dari total investasi nasional, tumbuh 6,9% secara tahunan (year-on-year), dengan sektor mineral masih mendominasi sebesar Rp206,5 triliun. Sebanyak 75,7% investasi hilirisasi berlokasi di luar Pulau Jawa, khususnya di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Ke depannya, hilirisasi akan diperluas ke sektor perkebunan, kehutanan, minyak dan gas, semikonduktor, bioetanol, produk turunan kelapa, dan rumput laut.

-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,59% di level 6.401,89 pada hari Jumat (14/8), setelah bergerak di kisaran 6.267,41–6.401,89. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp396,50 miliar di Pasar Reguler dan Rp1,03 triliun di seluruh pasar, dengan aliran masuk dana terbesar terjadi pada saham TINS, BBRI, ANTM, BUMI, dan VKTR, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada saham TPIA, CUAN, ISAT, BREN, dan ASII. Sementara itu, nilai tukar Rupiah menguat dan bergerak di bawah Rp17.800/US$ pada hari Senin (17/8) dalam kondisi perdagangan yang sepi akibat libur Hari Kemerdekaan.

-Secara teknikal, IHSG kembali berhasil menembus level resistansi 6.377 dan bertahan di atas EMA10 (6.324), EMA20 (6.266), serta EMA50 (6.275). Kondisi ini mengindikasikan bahwa tren bullish jangka pendek masih terjaga dan momentum penguatan kembali meningkat setelah IHSG berhasil mempertahankan pola higher low serta menembus level resistansi terdekat. Indikator RSI (14) naik ke level 59,32, masih berada di zona netral-bullish dan belum menunjukkan kondisi overbought, sehingga masih terdapat ruang untuk penguatan lebih lanjut. Jika IHSG mampu bertahan di atas level 6.377, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.454, kemudian ke kisaran 6.500–6.600 sebagai level resistansi berikutnya. Sebaliknya, jika terjadi koreksi dan IHSG gagal mempertahankan area 6.377, indeks berpotensi menguji level EMA10 di 6.324, dengan level support selanjutnya di kisaran 6.275–6.266 (EMA50 dan EMA20).

“Kami menyarankan investor untuk melakukan strategi Hold atau Accumulate on weakness selama IHSG bertahan di atas 6.377, sembari memantau konfirmasi penembusan (breakout) menuju level 6.454. Investor dapat menerapkan strategi trailing stop apabila IHSG kembali turun ke bawah level 6.377,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Selasa (18/8).

Berita Terkini

See More