Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (08/9/2026): IHSG Berpotensi Mengalami Koreksi Sehat

Oleh: Ria

08 September 2026, 09:08
ANALIS MARKET (08/9/2026): IHSG Berpotensi Mengalami Koreksi Sehat

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Pasar saham AS tutup pada hari Senin (09/07/26) untuk memperingati Hari Buruh (Labor Day), sehingga tidak ada perdagangan reguler di Wall Street.

Selanjutnya, investor akan memantau respons pasar terhadap data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan serta implikasinya terhadap arah kebijakan The Fed pada bulan September.

SENTIMEN PASAR: Sentimen global cenderung beragam dengan kecenderungan sikap hati-hati, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi. Investor juga memantau kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar, yang mencerminkan meningkatnya perhatian terhadap prospek inflasi dan suku bunga.

GEOPOLITIK: Ketegangan AS-Iran meningkat setelah Ketua Parlemen Iran memperingatkan adanya potensi serangan terhadap perusahaan energi AS jika aset-aset Iran menjadi sasaran. Eskalasi ini terjadi setelah AS menyerang dan melumpuhkan tiga kapal tanker minyak Iran, sementara Iran mengisyaratkan rencana untuk menetapkan zona larangan melintas di sekitar Selat Hormuz. Penurunan lalu lintas kapal melalui jalur strategis tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak global.

REGULASI & KEBIJAKAN: Fokus kebijakan moneter global tertuju pada The Fed dan Bank of Japan (BoJ). Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat merupakan faktor penting dalam menentukan arah kebijakan The Fed pada bulan September. Sementara itu, ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ bulan ini semakin menguat, tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun naik 2 basis poin (bps) menjadi 4,37%, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun naik hampir 3 bps menjadi 4,79%. Indeks DXY bertahan di kisaran 99. Di Jepang, imbal hasil JGB tenor 10 tahun stabil di angka 2,91%, sementara imbal hasil tenor 2 tahun naik 3 bps menjadi 1,86%. Yen bergerak di kisaran JPY156/US$ setelah menguat lebih dari 2% selama sepekan terakhir.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa bergerak variatif. Indeks FTSE 100 melemah tipis, tertekan oleh saham-saham sektor konsumen seperti Unilever (-1,4%) dan BAT (-1,0%). Indeks DAX turun 0,2% menjadi 26.006,5, mengakhiri tren kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Sebaliknya, indeks CAC 40 naik 0,3% menjadi 8.306, FTSE MIB menguat 0,3% menjadi 52.230, dan Euronext100 naik 0,34% menjadi 1.917. Pasar Asia sebagian besar menguat, dipimpin oleh KOSPI yang melonjak 4,61% ke level 6.995 di tengah reli saham semikonduktor. Nikkei 225 naik 2,12% menjadi 66.400, sementara Topix menguat 0,55% menjadi 4.126. Shenzhen Component naik 1,91%, sedangkan Shanghai Composite cenderung stagnan. Di sisi lain, Hang Seng turun 0,9% menjadi 25.413 dan BSE Sensex melemah 0,5%. Indeks FKLCI Malaysia naik 0,39%, sementara STI Singapura turun 0,17%.

KOMODITAS: Harga komoditas cenderung menguat, khususnya sektor energi, di tengah risiko gangguan pasokan global. Harga minyak Brent naik 0,95% menjadi US$97,19/barel, sementara WTI menguat 1,2% menjadi US$92,57/barel, level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Harga batu bara bertahan di atas US$145/ton. Sementara itu, harga emas turun tipis 0,19% menjadi US$4.424/oz, sedangkan tembaga naik 0,78% menjadi US$6,64/lb. Nikel turun 0,86% menjadi US$16.690/ton dan timah melemah 0,16% menjadi US$54.866/ton. Harga CPO naik 0,99% menjadi MYR4.978/ton, mendekati level tertinggi sejak Desember 2024.

AGENDA HARI INI:

-Australia (AU): Indeks Keyakinan Konsumen Westpac bulan September & Indeks Keyakinan Bisnis NAB bulan Agustus.

-Tiongkok (CN): Neraca Perdagangan, Ekspor (YoY), dan Impor (YoY) bulan Agustus.

-Jerman (DE): Neraca Perdagangan bulan Juli.

INDONESIA: Komisi XI DPR RI menyetujui pagu anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tahun 2027 sebesar Rp49,80 triliun, dengan alokasi terbesar untuk program dukungan manajemen sebesar Rp45,81 triliun, diikuti oleh program pengelolaan penerimaan negara sebesar Rp3,62 triliun. Dari sisi unit eselon I, alokasi terbesar diberikan kepada Sekretariat Jenderal dan Badan Layanan Umum (BLU) LPDP sebesar Rp32,03 triliun, sementara Direktorat Jenderal Pajak menerima Rp6,27 triliun. Persetujuan anggaran ini merupakan bagian dari persiapan pelaksanaan kebijakan fiskal pemerintah pada tahun 2027.

-Selain itu, anggaran subsidi energi tahun 2027 direvisi turun menjadi Rp261,50 triliun dari sebelumnya Rp272,95 triliun, terutama karena asumsi konsumsi LPG 3 kg yang lebih rendah, yakni 8 juta ton dibandingkan 8,94 juta ton sebelumnya. Kebijakan ini berpotensi menekan daya beli kelompok berpenghasilan rendah jika kuota LPG tidak dapat memenuhi permintaan, mengingat estimasi konsumsi tahun 2026 mencapai 8,67 juta ton. Namun, jika pemerintah tetap dapat memenuhi kebutuhan LPG, dampak langsung terhadap daya beli akan relatif terbatas, meskipun selisih antara kebutuhan aktual dan anggaran berpotensi menyebabkan kurang bayar kepada Pertamina dan meningkatkan beban anggaran negara pada tahun berikutnya.

-IHSG ditutup turun 0,25% di level 6.619,67 pada perdagangan hari Senin (09/07), bergerak dalam rentang 6.610,93 – 6.667,75. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp590,18 miliar di Pasar Reguler, dengan akumulasi pembelian terbesar pada saham BUMI, PTBA, AADI, IATA, dan DMAS, sementara tekanan jual terutama terlihat pada saham TPIA, CUAN, ISAT, KLBF, dan BMRI. Nilai tukar Rupiah bertahan di kisaran Rp17.650/US$, tetap berada di bawah level Rp17.700 selama tiga sesi berturut-turut, didukung oleh penguatan cadangan devisa bulan Agustus menjadi US$146,5 miliar dan prospek fiskal yang lebih hati-hati.

-Secara teknikal, IHSG mulai membentuk swing high sebagai sinyal awal potensi koreksi, sementara indikator RSI (14) turun ke level 62, yang mengindikasikan melemahnya momentum bullish. IHSG berpotensi mengalami koreksi sehat menuju level support di 6.568 (EMA10), 6.551, dan 6.525. Namun, jika mampu rebound, indeks memiliki ruang untuk menguji kembali level resistance di 6.667–6.704 dan melanjutkan penutupan gap di 6.723.

“Kami tetap menyarankan strategi untuk mempertahankan posisi (hold) atau melakukan pembelian selektif saat harga melemah (buy on weakness) selama IHSG mampu bertahan di atas area support, dengan catatan perlu adanya kewaspadaan ekstra jika indeks menembus ke bawah level support tersebut," sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Selasa (08/9).

Berita Terkini

See More