PT Pertamina (Persero)|Net Zero Emission 2060|transisi energi|Energi Baru dan Terbarukan|CORE Indonesia

Pertamina Tancap Gas Hadapi Gejolak Energi Global, Migas Tetap Diperkuat, EBT Digenjot

Oleh: Harry

08 September 2026, 19:26
Pertamina Tancap Gas Hadapi Gejolak Energi Global, Migas Tetap Diperkuat, EBT Digenjot

foto: dok. Pertamina

Pasardana.id — Gejolak geopolitik global yang berpotensi mengganggu rantai pasok dan mendorong harga energi membuat ketahanan energi menjadi bagian penting dari strategi ekonomi nasional.

Di tengah kondisi tersebut, PT Pertamina (Persero) menerapkan strategi dual growth dengan menjalankan dua jalur pertumbuhan secara bersamaan.

Pertama, memperkuat bisnis eksisting (legacy business), khususnya minyak dan gas (migas).

Kedua, mengembangkan bisnis rendah karbon melalui energi baru dan terbarukan (EBT) serta teknologi rendah karbon.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron mengatakan, transisi energi tidak hanya ditujukan untuk menekan emisi, tetapi juga memastikan Indonesia memiliki sumber energi yang semakin beragam, berkelanjutan, dan berasal dari potensi domestik.

“Bagi Pertamina, transisi energi bukan hanya mengenai bagaimana menurunkan emisi, tetapi juga memastikan bahwa Indonesia memiliki sumber energi yang semakin beragam, berkelanjutan, dan berasal dari potensi dalam negeri,” kata Baron dalam keterangan tertulis, Selasa (8/9).

Untuk memperkuat ketahanan energi, Pertamina terus meningkatkan produksi migas dan mengoptimalkan aset kilang guna menjaga pasokan energi di tengah perubahan kebutuhan dan dinamika pasar.

Pada saat yang sama, Perseroan mengembangkan panas bumi, energi surya, bahan bakar nabati, carbon capture, utilization and storage (CCUS), serta hidrogen rendah karbon.

Melalui Pertamina Geothermal Energy (PGE) (IDX: PGEO), kapasitas terpasang panas bumi yang dikelola Pertamina mencapai 1.932 megawatt (MW), terdiri dari 727 MW yang dikelola langsung dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama.

Kapasitas tersebut setara sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi terpasang nasional.

Sementara itu, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal menilai strategi dual growth tepat karena Pertamina perlu mempertahankan migas sebagai penopang kebutuhan energi domestik sekaligus menyiapkan sumber pertumbuhan baru.

Menurutnya, pengembangan EBT penting mengingat migas merupakan sumber energi tidak terbarukan dengan cadangan terbatas. Indonesia juga memiliki potensi EBT yang besar, mulai dari surya, hidro, angin hingga panas bumi.

Namun, Faisal menilai transisi dari migas menuju EBT perlu dilakukan secara bertahap atau safe transition, sehingga bisnis migas tetap menopang kinerja perusahaan sembari ekosistem energi baru dibangun.

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong percepatan pengembangan EBT untuk memperkuat swasembada energi.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengatakan, dinamika geopolitik dapat mengganggu pasokan energi dan berdampak pada harga energi, inflasi, biaya produksi hingga beban subsidi pemerintah.

“Energi baru terbarukan merupakan bagian dari program prioritas pemerintah ... untuk mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada energi,” ujar Yuliot saat membuka IndoEBTKE ConEx 2026, Rabu (2/9).

Kementerian ESDM mencatat, bauran EBT nasional pada semester I 2026 baru mencapai 17,3%, sementara pemerintah menargetkan peningkatannya menjadi 30% pada 2034.

Dengan strategi dual growth, Pertamina berupaya menjaga bisnis migas sebagai fondasi ketahanan energi saat ini sekaligus membangun sumber energi dan pertumbuhan baru menuju target Net Zero Emission 2060.

“Perjalanan tersebut diarahkan untuk memastikan kebutuhan energi hari ini tetap terpenuhi sembari membangun fondasi energi masa depan menuju Net Zero Emission 2060,” kata Baron.

Berita Terkini

See More