ANALIS MARKET (14/8/2026): Momentum Bullish Jangka Pendek Mulai Melemah
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih tinggi dan mencetak rekor baru pada perdagangan hari Kamis (13/08/26), didukung oleh lonjakan saham teknologi setelah data PPI AS bulan Juli tercatat lebih rendah dari perkiraan.
Indeks S&P 500 naik 0,65% ke level 7.798,99 setelah sempat menembus level 7.800 dan mencetak rekor intraday di 7.816,79; Nasdaq Composite menguat 0,81% ke 26.803,03; sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,13% ke 53.839,99.
Penurunan imbal hasil (yield) obligasi Treasury juga turut mendukung kenaikan saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung positif setelah data PPI AS bulan Juli menunjukkan tekanan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan. PPI utama (headline PPI) tercatat stagnan secara bulanan (MoM) dan naik 4,7% secara tahunan (YoY), sementara PPI inti naik 0,2% MoM dan 4,2% YoY. Data ini memperkuat ekspektasi bahwa tekanan inflasi mulai mereda, sehingga mendorong investor untuk kembali meminati saham teknologi dan aset berisiko.
GEOPOLITIK: Ketidakpastian mengenai hubungan AS-Iran masih menjadi fokus pasar, khususnya terkait prospek kesepakatan dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Perkembangan ini menjaga volatilitas pasar energi tetap tinggi, mengingat gangguan pada jalur pelayaran strategis tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak global.
REGULASI & KEBIJAKAN: Fokus kebijakan moneter kini tertuju pada keputusan Federal Reserve bulan September mendatang. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga tetap stabil meningkat menjadi sekitar 66%, sementara peluang kenaikan suku bunga turun menjadi sekitar 34%. Namun, data CPI dan PPI bulan Agustus, yang dijadwalkan rilis sebelum pertemuan bulan September, tetap menjadi penentu utama arah kebijakan selanjutnya.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) melemah ke kisaran 99,9, sementara imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun sekitar 5,6 bps menjadi 4,636% dan yield tenor 2 tahun turun 5,4 bps menjadi 4,145%. Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke kisaran 2,86%—level tertinggi dalam lebih dari sebulan—sementara Yen bergerak di kisaran JPY159,3 per Dolar AS, mendekati level psikologis 160.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa sebagian besar ditutup melemah. Indeks FTSE 100 Inggris turun lebih dari 0,5%, mencatatkan penurunan selama empat sesi berturut-turut akibat tekanan pada saham-saham terkait komoditas. Indeks DAX Jerman turun 0,12% ke 26.292, CAC 40 Prancis melemah 0,3% ke 8.651, sedangkan FTSE MIB Italia naik tipis 0,18% ke 53.693.
-Pasar Asia bergerak variatif. Nikkei 225 naik 1,16% ke 68.308 dan Topix menguat 0,89% ke 4.176, di mana Topix mencatatkan rekor baru. KOSPI melonjak 3,56% ke 6.813, didorong oleh penguatan saham-saham sektor semikonduktor. Sebaliknya, Shanghai Composite turun 0,50% ke 3.927, Shenzhen Component melemah 0,87% ke 14.289,4, dan Hang Seng turun sekitar 0,2% ke 25.397. Indeks BSE Sensex India naik sekitar 0,2% ke level 78.080.
KOMODITAS: Harga minyak melemah; WTI turun 2,47% menjadi US$81/barel dan Brent turun 2,2% ke bawah US$87/barel, tertekan oleh kenaikan stok AS dan perkiraan permintaan global yang lebih rendah. Harga emas turun 1,09% menjadi sekitar US$4.360/oz akibat aksi ambil untung setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam dua bulan. Harga tembaga turun 0,33% ke bawah US$6,55/lb karena harga yang tinggi membebani permintaan dari Tiongkok. Batu bara termal naik 0,15% menjadi sekitar US$130/ton, didorong oleh daya tariknya yang relatif lebih baik dibandingkan minyak. Harga CPO naik 0,57% menjadi MYR4.724/ton, didukung oleh ekspektasi permintaan yang kuat dari India. Harga timah berada di level US$55.818/ton, didukung oleh permintaan infrastruktur AI dan pasokan yang terbatas, sementara nikel turun 0,77% menjadi US$16.760/ton di tengah ekspektasi peningkatan pasokan dari Indonesia.
AGENDA HARI INI:
-Amerika Serikat (AS): Data Penjualan Ritel bulan Juli (MoM) dan data awal Sentimen Konsumen Michigan bulan Agustus.
-Indonesia (ID): Pemaparan kinerja institusi dan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, serta penyampaian Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2027 beserta Nota Keuangannya oleh Presiden Republik Indonesia.
INDONESIA: Besarnya skala belanja pemerintah membuka peluang strategis untuk mendorong ekonomi yang lebih hijau dan inklusif. Total Rencana Umum Pengadaan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah mencapai sekitar Rp1.193,6 triliun pada tahun 2025, sehingga keputusan terkait barang, vendor, dan standar pengadaan dapat berdampak luas terhadap perekonomian, UMKM, tenaga kerja, dan lingkungan. Kolaborasi antara RMIT University dan BINUS University juga mendorong penggunaan AI, transparansi data, dan pengadaan berkelanjutan untuk meningkatkan evaluasi vendor, mengelola risiko, dan memperkuat ketahanan rantai pasok. Sementara itu, pemerintah berupaya memperkuat ekosistem emas nasional dari hulu ke hilir. Indonesia memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton, namun produksinya hanya mencapai sekitar 17 ton pada semester pertama tahun 2026, jauh di bawah rata-rata tahunan yang berkisar 100 ton. Pemerintah menyoroti potensi perdagangan melalui jalur non-prosedural dan mendorong peningkatan ketertelusuran (traceability), standar LBMA, tata kelola pertambangan, serta penyerapan emas oleh Bank Indonesia. Cadangan emas Bank Indonesia saat ini hanya sebesar 87,1 ton, atau 7,7% dari total cadangan, sehingga peningkatan cadangan emas domestik dianggap sebagai potensi penstabil tambahan di tengah gejolak ekonomi global.
-IHSG ditutup turun 1,13% di level 6.301,77. Sepanjang perdagangan hari Kamis (13/8), IHSG bergerak di kisaran 6.281,57 – 6.390,33. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp1,39 triliun di Pasar Reguler dan Rp1,41 triliun di seluruh pasar. Arus masuk dana asing terutama tertuju pada BBCA, BBRI, BBNI, GGRM, dan EMAS, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada TPIA, PTRO, BRPT, DSSA, dan ASII. Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah relatif stabil di kisaran Rp17.870/US$ seiring pergerakan dolar AS yang cenderung datar menjelang rilis data PPI AS bulan Juli. Di dalam negeri, perhatian tertuju pada komitmen pemerintah untuk menjaga defisit anggaran negara tahun 2026 di bawah 3% dari PDB, yang didukung oleh pertumbuhan penerimaan pajak lebih dari 23% secara tahunan (year-on-year) pada periode Januari–Juli 2026. Sementara itu, Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, yang akan disampaikan hari ini, diperkirakan akan tetap mempertahankan kebijakan yang berbasis pada konsumsi domestik.
-Secara teknikal, IHSG membentuk candle bearish setelah kembali gagal menembus level resistansi 6.377; indeks ditutup sedikit di bawah EMA10 (6.306,90), namun masih bertahan di atas EMA20 (6.251,87) dan EMA50 (6.269,92). Kondisi ini mengindikasikan bahwa momentum bullish jangka pendek mulai melemah, meskipun struktur higher low tetap terjaga selama IHSG mampu bertahan di atas area EMA20–EMA50. Indikator RSI (14) pada level 54,43 masih berada di wilayah netral-bullish, sehingga membuka peluang bagi penguatan lebih lanjut. Selama indeks bertahan di atas level 6.270–6.252, peluang untuk kembali menguji level 6.377 tetap terbuka, dengan target lanjutan di kisaran 6.460–6.550, sementara resistansi utama berikutnya berada di sekitar 6.723. Sebaliknya, jika IHSG turun menembus level 6.270–6.252, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju level 6.186 (area gap) hingga 6.105.
“Kami menyarankan strategi akumulasi saat harga melemah (accumulate on weakness) selama IHSG bertahan di atas 6.252, atau melakukan pembelian saat terjadi penembusan (buy on breakout) jika indeks berhasil menembus level 6.377, disertai penerapan trailing stop apabila indeks ditutup di bawah level 6.252,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (14/8).





