ANALIS MARKET (03/9/2026): IHSG Masih Berpeluang Bullish
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup menguat pada perdagangan hari Rabu (02/9), setelah tekanan di pasar obligasi dan lonjakan harga minyak mulai mereda.
Indeks S&P 500 naik 0,46% menjadi 7.666,60, Nasdaq Composite menguat 0,45% menjadi 26.217,83, sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,56% menjadi 53.061,95.
Kenaikan pasar terutama didorong oleh reli saham Dell Technologies yang melonjak hampir 16% setelah mencatatkan kinerja di atas ekspektasi berkat permintaan kuat untuk server berbasis AI, serta kenaikan 3,2% pada saham Nvidia.
Data pesanan manufaktur AS yang lebih kuat dari perkiraan juga turut mendukung sentimen pasar, meskipun data lapangan kerja sektor swasta menunjukkan adanya perlambatan.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar tetap berhati-hati di tengah data ekonomi AS yang beragam. Data ADP Employment Change menunjukkan sektor swasta AS hanya menambah 38.000 lapangan kerja pada bulan Agustus—angka yang lebih rendah dari perkiraan 47.000 dan merupakan laju penciptaan lapangan kerja paling lambat sejak Januari. Sebaliknya, pesanan baru untuk barang manufaktur naik 0,9% secara bulanan (MoM) pada bulan Juli menjadi US$663,6 miliar, melampaui perkiraan kenaikan 0,7%, sementara laporan Beige Book dari The Fed menunjukkan aktivitas ekonomi meningkat secara moderat di sebagian besar wilayah. Investor kini akan berfokus pada data Nonfarm Payrolls AS untuk bulan Agustus yang dijadwalkan rilis pada hari Jumat, sebagai petunjuk penting mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter The Fed.
GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru terhadap sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), termasuk fasilitas pertahanan udara, radar, dan komunikasi. Iran kemudian dilaporkan melakukan serangan balasan menggunakan rudal balistik yang menyasar pangkalan Marinir AS di Yordania. Eskalasi konflik AS-Iran ini memicu kekhawatiran mengenai keamanan kawasan serta potensi gangguan terhadap jalur perdagangan energi strategis di Selat Hormuz.
REGULASI & KEBIJAKAN: Perhatian investor terhadap kebijakan moneter global meningkat setelah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara memperkuat kekhawatiran bahwa suku bunga mungkin akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama. Kenaikan harga energi meningkatkan risiko inflasi, sementara data pasar tenaga kerja AS yang mulai melemah mengindikasikan perlambatan ekonomi. Kondisi ini membuat pasar semakin bergantung pada perkembangan data ekonomi—khususnya laporan ketenagakerjaan dan inflasi—dalam memprediksi langkah The Fed selanjutnya.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Pasar obligasi AS mulai stabil setelah mengalami tekanan jual yang signifikan pada sesi sebelumnya. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 1,6 bps menjadi 4,780%, sementara imbal hasil tenor 2 tahun turun 2,1 bps menjadi 4,373%. Sebelumnya, imbal hasil obligasi global sempat melonjak tajam, di mana imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menembus angka 3% untuk pertama kalinya sejak tahun 1996. Sementara itu, Indeks Dolar (DXY) bergerak sedikit melemah ke kisaran 99,5 setelah investor merespons data ADP yang lebih lemah dari perkiraan, sedangkan Yen Jepang diperdagangkan di kisaran JPY158,8 per Dolar AS setelah sempat menguat tajam di tengah spekulasi mengenai kemungkinan intervensi oleh otoritas Jepang.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa ditutup melemah. Indeks FTSE 100 Inggris turun 0,3% ke level 10.760, mencapai titik terendah dalam dua minggu terakhir. Indeks DAX 40 Jerman turun 0,3% ke kisaran 25.900, sementara indeks CAC 40 Prancis juga melemah 0,3% ke level 8.281. Indeks FTSE MIB Italia turun tipis sebesar 0,2% ke level 51.792. Tekanan di pasar Eropa terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai inflasi zona euro setelah kenaikan biaya energi mendorong inflasi ke angka 3,3%. Pasar saham Asia sebagian besar ditutup melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 2,85% ke level 64.325, Shanghai Composite turun 0,97% ke 3.941,4, dan Shenzhen Component melemah 1,88% ke 13.611,6. Indeks KOSPI Korea Selatan turun tajam sebesar 3,99% ke 6.563, sementara BSE Sensex India melemah sekitar 0,5%. Indeks Hang Seng Hong Kong bergerak relatif datar di level 25.311, sedangkan pasar Asia Tenggara mencatatkan kenaikan, dengan indeks FKLCI Malaysia naik 0,48% dan STI Singapura menguat 0,59%.
KOMODITAS: Pergerakan komoditas didominasi oleh kenaikan di sektor energi dan logam mulia. Minyak Brent bertahan di atas US$95/barel, naik sekitar 1,03%, sementara WTI berada di atas US$91/barel, menguat 0,88% setelah naik selama tiga sesi berturut-turut. Harga batu bara naik 1,21% menjadi sekitar US$146/ton, mencapai level tertinggi dalam sebelas minggu di tengah kuatnya permintaan energi dan risiko pasokan. Emas menguat 1,3% ke atas US$4.384/oz, didukung oleh pelemahan Dolar AS dan penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury). Tembaga naik tipis 0,06% menjadi US$6,5/lb, sedangkan timah turun 1,07% menjadi sekitar US$54.633/ton. Nikel menguat 1,32% menjadi US$16.895/ton, sementara harga minyak kelapa sawit Malaysia turun 0,30% ke bawah MYR4.950/ton.
AGENDA HARI INI:
-Australia (AU): Neraca Perdagangan bulan Juli.
-Amerika Serikat (AS): ISM Services PMI bulan Agustus.
INDONESIA: Pemerintah dan Komisi XI DPR menyepakati asumsi dasar makroekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2027, dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0%, inflasi 2,5%, nilai tukar Rupiah di angka Rp17.500 per dolar AS, dan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 6,9%. Pemerintah juga menargetkan tingkat kemiskinan di kisaran 6,0%–6,5%, tingkat pengangguran terbuka 4,30%–4,87%, penciptaan lapangan kerja baru sebanyak 2,57–3,49 juta, serta GNI per kapita sebesar US$5.800–US$5.840. Target pertumbuhan 6% ini mencerminkan ambisi pemerintah untuk mengakselerasi perekonomian dari pola pertumbuhan yang sebelumnya berada di kisaran 5%, meskipun pencapaian target tersebut tetap menjadi tantangan mengingat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (YoY) pada kuartal II-2026, melambat dari 5,61% pada kuartal sebelumnya. Akselerasi pertumbuhan memerlukan peningkatan investasi produktif, kapasitas produksi, produktivitas, serta peran sektor swasta agar target tersebut dapat dicapai secara berkelanjutan.
-Selain itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis bahwa pertumbuhan kredit perbankan dapat menembus angka di atas 20% di tengah membaiknya likuiditas sistem keuangan. Pertumbuhan uang primer (M0) sebesar 18,3% pada Juli 2026 dinilai mengindikasikan kondisi likuiditas yang cukup kuat, sementara penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dalam sistem perbankan juga turut memberikan tambahan likuiditas. Dengan pertumbuhan kredit yang baru mencapai 13,58% per Juli 2026, Purbaya melihat masih terdapat ruang yang signifikan untuk mengakselerasi ekspansi kredit apabila kondisi likuiditas tetap terjaga. Kondisi ini berpotensi mendorong pertumbuhan sektor swasta dan pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi yang signifikan di atas 6%, meskipun realisasinya masih bergantung pada efektivitas transmisi likuiditas menjadi kredit, investasi, dan aktivitas sektor riil.
-IHSG ditutup turun 0,06% di level 6.595,78 pada perdagangan hari Rabu (09/02), setelah bergerak di kisaran 6.561,00 – 6.629,54. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp235,16 miliar di Pasar Reguler, dengan aliran dana masuk terbesar ke saham BBRI, BBCA, BMRI, SINI, dan TAPG, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada saham TLKM, ADRO, ASII, PTRO, dan TINS. Nilai tukar Rupiah melemah ke kisaran Rp17.780 per Dolar AS, tertekan oleh penguatan Dolar AS ke level tertinggi dalam hampir tiga minggu serta kenaikan harga minyak, yang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat.
-Secara teknikal, IHSG masih bergerak mendatar (sideways). Indikator RSI (14) sedikit turun ke level 63,8, mengindikasikan bahwa momentum bullish masih memiliki ruang untuk berlanjut. Selama IHSG mampu bertahan di atas EMA10 di area 6.510, peluang penguatan tetap terbuka untuk menguji kembali level resistansi 6.635 dan menutup area gap di level 6.733, dengan area gap berikutnya berada di level 6.858. Sebaliknya, jika terjadi aksi ambil untung (profit-taking), IHSG dapat terkoreksi kembali menuju level support di 6.551, 6.510 (EMA10), dan 6.454.
“Kami menyarankan strategi yang layak dipertimbangkan adalah mempertahankan posisi (hold) atau melakukan average up secara selektif selama IHSG mampu bertahan di atas area support, sementara investor perlu meningkatkan kewaspadaan jika indeks menembus level support tersebut," beber analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (03/9).




