ANALIS MARKET (04/3/2026): IHSG Berpotensi Kembali Tertekan
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih rendah pada hari Selasa (03/03/26) setelah konflik Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran semakin meluas, memicu kekhawatiran inflasi akibat melonjaknya harga energi.
S&P 500 turun 0,94% menjadi 6.816,63, Nasdaq Composite anjlok 1,02% menjadi 22.516,69, dan Dow Jones Industrial Average turun 0,83% menjadi 48.501,27.
Sepanjang sesi, indeks-indeks tersebut merosot lebih dari 2% sebelum mengurangi kerugian menjelang penutupan.
Penurunan terjadi secara luas di semua sektor S&P 500, dengan sektor material dan industri memimpin pelemahan.
Indeks volatilitas VIX naik menjadi 23,57, level tertinggi sejak November, mencerminkan meningkatnya kecemasan investor.
Secara teknis, S&P 500 juga ditutup di bawah rata-rata pergerakan 100 hari untuk pertama kalinya sejak November.
-Beberapa saham individual menunjukkan pergerakan yang kontras. Micron Technology dan Newmont turun sekitar 8%, sementara Target melonjak hampir 7% setelah memproyeksikan pertumbuhan penjualan 2026 sebesar 2%, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 1,76%, menunjukkan bahwa konsumen AS tetap relatif tangguh meskipun menghadapi tekanan daya beli.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar global didominasi oleh mode penghindaran risiko setelah konflik Timur Tengah memasuki hari keempat dengan peningkatan serangan antara AS, Israel, dan Iran. Serangan Iran terhadap fasilitas energi dan kapal tanker di wilayah Teluk, bersama dengan ancaman untuk menutup Selat Hormuz—yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan energi dunia—meningkatkan kekhawatiran atas gangguan pasokan global. Investor mulai menilai bahwa konflik tersebut dapat berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan semula, meningkatkan risiko inflasi energi sekaligus membebani pertumbuhan global. Lonjakan harga minyak dipandang sebagai guncangan pasokan energi yang berpotensi mendorong inflasi global dan memaksa bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu yang lebih lama.
-Di tengah ketidakpastian geopolitik yang tinggi, investor cenderung meningkatkan likuiditas. Dana pasar uang global menerima arus masuk sebesar USD 47,9 miliar, terbesar sejak 17 Februari, sementara dana ekuitas AS mencatat arus keluar sebesar USD 9,6 miliar dan dana ekuitas global mencatat arus keluar sebesar USD 9,1 miliar. Fenomena ini menciptakan pola pasar yang tidak biasa di mana saham, obligasi, dan emas jatuh secara bersamaan, menunjukkan bahwa investor memprioritaskan uang tunai. Analisis pasar menyebut kondisi ini sebagai "perebutan uang tunai", di mana pelaku pasar menjual berbagai aset untuk meningkatkan likuiditas di tengah volatilitas yang tinggi.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Pasar obligasi global mengalami aksi jual karena investor khawatir bahwa konflik yang berkepanjangan akan mendorong inflasi energi dan menunda pemotongan suku bunga. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun naik menjadi sekitar 4,063%, sementara imbal hasil 2 tahun mencapai 3,599%, kenaikan dua hari terbesar sejak Juni. Di Eropa, imbal hasil obligasi 2 tahun Inggris naik menjadi 3,732% setelah sempat mencapai 3,84%, kenaikan 2 hari terbesar sejak Oktober 2024. Imbal hasil obligasi 2 tahun Jerman juga naik menjadi 2,236%, level tertinggi dalam setahun.
-Ekspektasi kebijakan moneter juga berubah secara signifikan. Pasar tidak lagi sepenuhnya memperkirakan penurunan suku bunga Federal Reserve hingga September. Kontrak berjangka Fed Fund menunjukkan probabilitas sekitar 56% bahwa Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juni. Untuk Bank of England, peluang penurunan suku bunga turun menjadi sekitar 30% dari sebelumnya 75%.
-Dolar AS menguat tajam sebagai aset safe-haven dan mencapai level tertinggi multi-bulan terhadap Euro, Pound Sterling, dan Yen Jepang. Indeks Dolar naik menjadi 99,04. Euro turun menjadi USD 1,1613, Yen Jepang melemah menjadi sekitar 157,68/Dolar, dan Pound Sterling turun menjadi USD 1,3359.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa menghadapi tekanan tajam dengan STOXX 600 turun 3,1%, mendekati titik terendah tahun 2026. DAX Jerman turun 3,6%, CAC 40 Prancis turun 3,5%, dan FTSE 100 Inggris turun 2,8%. Sentimen negatif juga dipicu oleh inflasi Zona Euro yang naik menjadi 1,9% YoY pada Februari dari 1,7%, di atas ekspektasi pasar.
-Di Asia, indeks MSCI Asia Pacific turun 3,5%. Korea Selatan menjadi pasar dengan kinerja terburuk setelah KOSPI anjlok antara 4,3% dan 7,2% karena aksi ambil untung pada saham teknologi seperti Samsung Electronics dan SK Hynix. Di Jepang, Nikkei 225 dan TOPIX turun lebih dari 2% menyusul data ekonomi domestik yang beragam dan komentar hawkish dari Bank Sentral Jepang mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Pasar saham Tiongkok relatif lebih stabil, dengan indeks CSI 300 dan Shanghai Composite hanya turun sekitar 0,2% karena investor menunggu sinyal stimulus dari pertemuan politik tahunan "Dua Sesi" yang berlangsung pada 4–11 Maret. Indeks Hang Seng Hong Kong sedikit turun 0,2%, didukung oleh saham-saham energi seperti PetroChina dan CNOOC.
-Di Asia Tenggara, Indeks Straits Times Singapura naik 0,9% didukung oleh saham-saham energi, sementara indeks ASX 200 Australia turun 1,3% menjelang rilis data PDB kuartal keempat, yang diperkirakan akan lemah setelah defisit transaksi berjalan melebar.
KOMODITAS: Harga minyak melonjak tajam karena ancaman gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Minyak mentah Brent naik menjadi sekitar USD 81–82/barel, sementara US WTI naik ke kisaran USD 74–75/barel setelah sebelumnya melonjak hampir 10% dalam perdagangan harian dan mencapai level tertinggi sejak 2024–2025. Iran telah mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, dan konflik tersebut telah menyebabkan kerusakan pada beberapa kapal tanker dan menghentikan sebagian besar lalu lintas pengiriman. Beberapa perusahaan pelayaran global, seperti Maersk, telah menangguhkan operasi di rute tersebut. Lonjakan harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi global karena energi merupakan komponen penting dalam biaya produksi dan transportasi.
-Di pasar logam mulia, harga emas justru turun karena penguatan Dolar dan aksi ambil untung. Harga emas spot turun sekitar 3,9–4,5% menjadi kisaran USD 5.083–5.115 per ons. Perak turun sekitar 6–8% menjadi USD 81–83 per ons dan platinum turun sekitar 9%.
PERANG DAGANG: Ketegangan geopolitik juga mulai memicu gangguan perdagangan global, terutama di sektor energi dan logistik. Ancaman terhadap Selat Hormuz berpotensi mengganggu sekitar 20% pasokan minyak global serta volume LNG dunia yang signifikan.
-Gangguan pengiriman ini juga menyebabkan lonjakan tarif angkutan dan harga energi.Selain itu, konflik tersebut telah menyebabkan penutupan beberapa pusat penerbangan utama di Timur Tengah, seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, dengan lebih dari 21.300 penerbangan dibatalkan dan puluhan ribu penumpang terlantar.
REGULASI & KEBIJAKAN: Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa U.S. Development Finance Corporation akan menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan untuk perdagangan maritim yang melintasi Teluk, khususnya pengiriman energi.Trump juga menyatakan bahwa Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz jika perlu untuk memastikan kelancaran aliran pasokan energi global.
AGENDA EKONOMI HARI INI:
-Australia: PDB Kuartal 4.
-Jepang: PMI Jasa Februari, Kepercayaan Konsumen Februari, Pidato Gubernur Bank Sentral Jepang Kazuo Ueda.
-CHINA: PMI Manufaktur Februari, PMI Jasa Februari.
-Eropa: Inggris & PMI Jasa Zona Euro Februari, Pidato oleh pejabat Bank Sentral Eropa Luis de Guindos & Piero Cipollone.
-Amerika Serikat: PMI Februari, ISM Jasa Februari, ADP Ketenagakerjaan Februari
INDONESIA: Menanggapi permintaan MSCI terkait transparansi saham publik yang beredar bebas di Indonesia, KSEI bersama BEI telah mulai menyampaikan laporan data kepemilikan saham investor di atas 1% di perusahaan publik, sesuai dengan Keputusan Dewan Komisaris OJK No. 1/KDK.04/2026 dan surat penetapan OJK mengenai penyediaan data kepemilikan saham kepada publik. Data ini dikumpulkan oleh KSEI per tanggal 27 Februari 2026, bersumber dari sistem tanpa saham melalui Sub Rekening Sekuritas (SRE) di C-BEST dan saham yang tercatat di sistem eBAE, termasuk investor yang belum memiliki Kartu Identitas Investor Tunggal (SID). Dalam beberapa kasus, klasifikasi investor lokal atau asing belum tersedia karena beberapa kepemilikan saham masih tercatat dalam rekening saham khusus yang belum memuat identitas investor secara detail.
INDEKS KOMPOSIT JAKARTA: Seperti yang diprediksi oleh riset Kiwoom Sekuritas, JCI akhirnya menembus level psikologis 8.000 setelah terkoreksi 77 poin/minus hampir 1% ke angka 7.939,77, karena penjualan bersih asing sebesar Rp 1,17 triliun (pasar RG), meskipun di seluruh pasar tercatat pembelian bersih sebesar Rp 3,45 triliun. Penjualan asing terbanyak terjadi pada saham-saham berikut: ANTM, BBRI, AADI, MDKA, INCO (transaksi di atas & sekitar Rp 100 miliar), sementara masih ada pembelian pada BMRI, PTBA, ENRG, UNTR, TLKM, meskipun dalam jumlah yang jauh lebih kecil. Kurs rupiah bergerak sekitar 16.872/USD.
“Secara teknis, JCI hanya selangkah lagi mencapai area Support di 7.900 – 7.840; persiapkan portofolio Anda untuk kemungkinan penurunan yang lebih dalam (Bearish Flag). Volatilitas akan tetap tinggi selama 2 minggu ke depan; sikap TUNGGU & LIHAT masih sangat disarankan,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (04/3).

