Kemenhub Terapkan Sistem OPS Dorong Dekarbonisasi Pelayaran

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mulai menerapkan sistem On-shore Power Supply (OPS) sebagai upaya melakukan dekarbonisasi pelayaran.

Hal tersebut dilakukan sebagai langkah untuk mendorong pengelolaan pelabuhan yang berprioritas pada wawasan lingkungan (ecoport).

Untuk diketahui, fasilitas OPS merupakan jaringan listrik dari darat yang dipasang di dermaga dengan tujuan dipergunakan untuk kapal yang bersandar di pelabuhan. Fasilitas ini menggantikan sumber energi kapal yang sebelumnya menggunakan mesin kapal berbahan bakar minyak menjadi sumber energi listrik.

Dalam keterangan tertulisnya, saat meninjau Pelabuhan Tanjung Priok, Kamis (15/9/2022), Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, Arif Toha mengatakan, saat ini sudah terdapat 20 pelabuhan di Indonesia yang menerapkan sistem OPS.

Salah satunya diterapkan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

"Ini merupakan upaya kami untuk memastikan bahwa pelayanan berlangsung secara aman dan memadai sebelum dikeluarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Laut tentang On-shore Power Supply pada Pelabuhan/Terminal di Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan, dalam melakukan pengelolaan pelabuhan yang ramah lingkungan, pelabuhan harus mampu beradaptasi dengan perubahan dunia yang mengacu pada konsep sustainability port development atau greenport.

Untuk itu, sistem OPS tersebut dimaksudkan menjadi aksi mitigasi untuk mengurangi gas rumah kaca di sektor pelayaran.

Arif juga bilang, sebagai regulator, Ditjen Perhubungan Laut mendukung langkah memasukkan program OPS sebagai salah satu kebijakan utama.

Dijelaskan, pihaknya akan segera menerbitkan surat edaran pelaksanaan penyambungan tenaga listrik di darat sebagai kerangka hukum.

Ia pun meyakini OPS lebih efisien dalam biaya dan operasional kapal dan akan membawa manfaat besar pada perlindungan lingkungan.

Ada beberapa langkah yang dilakukan sebelum menerbitkan Surat Edaran antara lain masa uji coba, pembahasan OPS, sosialisasi draft surat edaran, kesepakatan dan sosialisasi tarif serta pemberlakuan mandatori OPS.

“Saat ini, sudah terdapat 20 lokasi pelabuhan di Indonesia yang sudah memiliki OPS yang dipersiapkan untuk melayani kebutuhan kapal-kapal pada saat sandar di pelabuhan,” tuturnya.

Lebih lanjut, telah dilakukan pula kerja sama antara PT Lamong Energi Indonesia dengan PT ITS Tekno Sains untuk menyusun kajian efisiensi dari layanan OPS terhadap kapal dan pelabuhan.

Berdasarkan hasil kajian layanan OPS mampu memberikan efisiensi energi untuk kapal (kWh) sebesar 70- 95 persen dan efisiensi biaya (rupiah) sebesar 80-93 persen.

Sementara dari sisi emisi gas buang kapal (SOx dan NOx), mampu memberikan pengurangan emisi (gram) di pelabuhan atau terminal sebesar 75-93 persen, di mana emisi ini dihasilkan oleh kapal ketika sandar.

Pada dasarnya, pengurangan emisi gas buang oleh kapal sangat ditentukan oleh kategori mesin serta tahun pembuatan mesin bantu kapal, sehingga nilai efisiensi di masing-masing terminal bisa berbeda bergantung dari kapal yang sandar.

Sedangkan dari sisi efisiensi layanan, penggunaan OPS selain memberikan manfaat untuk lingkungan, juga memberikan efisiensi biaya bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional kapal pada saat sandar di pelabuhan.

“Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pelabuhan, kualitas lingkungan, daya saing pelabuhan dan fungsi ekonomi pelabuhan salah satunya dengan pemanfaatan fasilitas On-shore Power Connection,” tandas Arif.