ANALIS MARKET (04/8/2021) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Selasa, 03/08/2021 kemarin, IHSG ditutup menguat 34 poin atau +0.56% menjadi 6.130. Sektor transportasi, industrials, keuangan, infrastruktur, konsumer siklikal, teknologi, industri dasar bergerak positif dan mendominasi kenaikan IHSG kali ini. Investor asing membukukan pembelian bersih sebesar 126 miliar rupiah.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat terbatas dan ditradingkan pada level 6.090 – 6.167,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (04/8/2021).

Adapun cerita di hari Rabu ini akan kita awali dari;

1.BANK SENTRAL AUSTRALIA, GALAU!

Baru kemarin kita membahas bahwa Bank Sentral Australia tampaknya sedang gundah gulana untuk tidak melakukan pengurangan pembelian obligasi mingguannya, namun pada pertemuan Bank Sentral Australia kemarin, mereka membuat sebuah pernyataan yang mengejutkan. Pasalnya nih, Bank Sentral Australia tetap menunjukkan sikap yang bullish yang dimana mereka tetap akan pada rencana semula untuk melakukan pengurangan pembelian obligasi di pasar, karena mereka yakin bahwa perekonomian akan cepat pulih meskipun adanya tekanan dari peningkatan kasus Covid 19 yang membuat Sydney harus berada dalam posisi lockdown. Gubernur Bank Sentral Australia, Philip Lowe mengatakan bahwa Bank Sentral Australia akan tetap berada di posisi dimana mereka akan mengurangi porsi pembelian obligasi mingguan, dari sebelumnya A$5 miliar menjadi A$4 miliar, dan akan kembali berkurang pada bulan September menjadi A$3 miliar, meskipun tingkat suku bunga acuan masih berada di rate yang sama. Kami cukup tertegun sebenarnya mendengar Lowe menyampaikan bahwa mereka akan tetap memulai pengurangan pembelian obligasi di pasar, meskipun kami sendiri baru mendengarkan bahwa mereka akan tetap melakukan pembelian obligasi atau justru meningkatkan pembelian obligasi untuk menopang perekonomian yang tengah tertekan akibat kenaikkan Covid 19. Apakah ini artinya para Bank Sentral di seluruh dunia tengah khawatir apabila The Fed melakukan Taper Tantrum lebih dulu atau justru ini menunjukkan sikap yang pre emptive terhadap langkah The Fed? Padahal Lowe sendiri berjanji untuk tidak mendahului The Fed dalam membuat kebijakan moneter. Lowe tidak ingin melakukan pelonggaran stimulus karena Bank Sentral Australia sendiri ingin menghindari kenaikkan tingkat suku bunga lebih awal setelah krisis keuangan global sebelumnya. Lowe mengatakan bahwa meskipun penyebaran Covid 19 sangat cepat, namun Bank Sentral yakin bahwa hal tersebut dapat segera teratasi, sehingga perekonomian dapat bangkit lebih cepat. Perekonomian masih terus mendapatkan manfaat dari dukungan kebijakan tambahan ditambah dengan penetrasi vaksin akan mendorong pemulihan ke arah yang lebih cepat. Pengurangan pembelian obligasi lebih lanjut mungkin akan terlihat usai bulan September mendatang pemirsa, apakah akan tetap dilanjutkan pengurangan menjadi A$2 miliar atau tidak, namun Lowe menyakinkan kita, asal tidak plin plan seperti kemarin ya pemirsa, bahwa tingkat suku bunga tidak akan di naikkan hingga 2024 karena situasi dan kondisi tidak akan memenuhi syarat untuk itu. Keputusan yang mengejutkan oleh Bank Sentral Australia memberikan sebuah keyakinan baru bahwa dengan adanya mata uang yang lebih lemah, imbal hasil yang lebih rendah, didukung oleh kebijakan moneter yang ada, perekonomian Australia dapat tetap bertahan dan mendapatkan cukup dukungan untuk segera bangkit dari situasi dan kondisi yang ada saat ini. Namun Philip Lowe masih memberikan angin terhadap kita bahwa potensi perubahan kebijakan masih akan tetap terbuka lebar, karena kebijakan masih akan tetap fleksibel khususnya terkait dengan kebijakan pembelian obligasi di pasar untuk berjaga jaga apabila situasi dan kondisi memburuk. Saat ini salah satu factor utama yang mungkin mendorong kepercayaan Bank Sentral Australia untuk tetap sesuai dengan rencana mereka adalah bahwa pasar ketenagakerjaan mulai mengalami perbaikan, sehingga Bank Sentral Australia melihat bahwa tingkat pengangguran akan mengalami penurunan hingga 4.25% pada tahun 2021 dan akan kembali turun hingga 4% pada tahun 2023 mendatang. Bank Sentral juga memberikan beberapa kebijakan baru ketika Lowe menyampaikan beberapa hal kepada anggota parlement. Apabila situasi dan kondisi seperti ini bertahan seperti yang disampaikan oleh Lowe, maka kami melihat bukan tidak mungkin tingkat suku bunga akan mengalami kenaikkan lebih awal pada tahun 2023 mendatang. Karena apabila tingkat suku bunga akan mengalami kenaikkan pada tahun 2024 mendatang, ini akan memberikan kesulitan tersendiri bagi Bank Sentral Australia karena terlalu lama dalam menaikkan tingkat suku bunga. Pemulihan ekonomi di Australia sendiri di yakini akan pulih lebih cepat pasca lockdown, sama seperti sebelumnya bahkan ketika perekonomian Australia masih dalam posisi lockdown. Solidnya perekonomian Australia khususnya data ketenagakerjaan membuat Lowe yakin bahwa Australia mampu bertahan untuk melewati masa masa sulit seperti sekarang ini, apalagi tingkat pengangguran sudah mencapai kepala 4%. Lowe akan mencoba untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mengembalikan inflasi kepada target awal Bank Sentral Australia yaitu 2% - 3%. Lonjakan harga komoditas sejauh ini membuat perekonomian di Australia dapat bertahan. Kami hanya berharap bahwa Lowe konsisten terkait dengan apa yang di ucapkan, karena tentu saja dampaknya akan berakibat kepada pemulihan ekonomi di Australia secara keseluruhan. Well, kami yakin Australia akan bangkit lebih cepat selama kaki tidak salah untuk melangkah.

2.WAAH.. BAGAIMANA INI?

Anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk mengatasi krisis kesehatan dan ekonomi di masa pandemi dinilai belum efektif tertuju kepada permasalahan yang ada di masyarakat saat ini. pemerintah sebelumnya menaikkan anggaran PEN dari Rp699,43 triliun menjadi Rp744,75 triliun. Tambahan sebesar Rp55,2 triliun tersebut merupakan hasil dari refocusing anggaran-anggaran kementerian/lembaga yang ditujukan untuk prioritas penanganan Covid-19 dan ekonomi masyarakat. Di sisi lain, pemerintah mencatat terdapat penambahan 30.738 kasus harian baru Covid-19 di Indonesia per 2 Agustus 2021, sehingga total kasus positif di Indonesia terkini berjumlah 3,4 juta sejak kasus pertama diumumkan pada Maret 2020. Sementara itu, total kesembuhan mencapai 2,8 juta, dan pasien meninggal mencapai 95.723 orang data tersebut per 2 Agustus 2021. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyampaikan realisasi anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di semester I-2021 yang mencapai sebesar Rp 305,5 triliun. Angka tersebut setara dengan 41,02% dari total pagu sebesar Rp 744,75 triliun. Realisasi dana tersebut telah tersalurkan dalam lima program hingga akhir Juli 2021. Pertama, realisasi anggaran kesehatan sebesar Rp 65,5 triliun, setara 30,47% dari pagu Rp 214,95 triliun. Kedua, realisasi anggaran perlindungan sosial sebesar Rp 91,84 triliun, setara dengan 48,89% terhadap total anggaran Rp 187,84 triliun. Ketiga, realisasi dukungan program Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan korporasi sebesar Rp 52,52 triliun setara dengan 32,58% dari pagu Rp 161,2 triliun. Keempat, realisasi program prioritas sebesar Rp 47 triliun, setara dengan 39,85% terhadap total anggaran sebesar Rp 117,94 triliun. Kelima, realisasi insentif dunia usaha sebesar Rp 43,35 triliun, atau sama dengan 68,9% terhadap pagu sebesar Rp 62,83 triliun. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yaitu Airlangga Hartanto juga menyampaikan strategi ke depandari sisi kesehatan pemerintah akan mempercepat dan menambah vaksinasi dan testing per hari di daerah-daerah supaya mencapai target yang telah ditetapkan. Sementara dari sisi perlindungan akan dipercepat selama periode kuartal III-2021, hal tersebut sejalan dengan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).