ANALIS MARKET (18/8/2021) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Senin, 16/08/2021 IHSG ditutup melemah 51 poin atau -0.84% menjadi 6.087. Sektor teknologi, transportasi, kesehatan, industri dasar, konsumer siklikal, infrastruktur, industrial, konsumer non siklikal, keuangan, property, energi bergerak negatif dan mendominasi penurunan IHSG kali ini. Investor asing membukukan pembelian bersih sebesar 555 miliar rupiah.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah terbatas dan ditradingkan pada level 6.040 – 6.180,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (18/8/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.MENJELANG RISALAH

Menjelang risalah, memang membuat banyak orang gelisah pemirsa. Tapi ini bukan hanya membahas mengenai risalah, tapi Powell, Ketua The Fed mengatakan bahwa pandemic telah membuat anak anak muda, menjadi generasi yang luar biasa, yang dimana mereka akan lebih cepat matang dan memberikan dampak besar terhadap masyarakat. Namun sekali lagi The Fed mengatakan bahwa, pandemic belum berakhir. Saat ini pandemic masih membayangi pemulihan ekonomi. Powell mengatakan bahwa pandemi ini telah memaksa kita untuk melihat dunia secara berbeda dari yang dulu, yang dimana kita semua dipaksa untuk memikirkan apa yang terpenting dalam hidup ini imbuh Powell. Sebelum risalah diberikan, Powell memiliki kesempatan untuk menyampaikan beberapa kebijakan dan prospek perekonomian di Jackson Hole, dimana hal tersebut merupakan konfrensi tahunan Bank Sentral yang biasanya menjadi tolok ukur. Ini merupakan titik dimana perubahan sejarah akan terjadi, namun masyarakat dapat menggunakan perubahan tersebut untuk menjadi pelajaran dalam menggerakan perubahan. Meskipun Amerika dapat menang dari Covid, namun Powell masih enggan mengatakan bahwa Amerika dapat mendeklarasikan bahwa Amerika menang atas Covid 19. Saat ini posisinya adalah vaksinasi di Amerika mulai melambat, yang dimana justru menjadi rasa khawatir tersendiri bagi Powell, karena penyebaran variant delta ini sangat kuat dan berbahaya. Sejauh ini, The Fed telah memiliki tools yang kuat untuk membantu menciptakan perekonomian yang kuat, namun seperti apapun kuatnya tools tersebut, kebijakan fiscal lebih kuat dan lebih tepat sasaran. Kami melihat sejauh ini The Fed sendiri masih berhati hati, khususnya dari sisi Powell, karena sampai dengan hari ini, Powell sendiri masih mengkhawatirkan kekuatan pemulihan dari perekonomian di Amerika. Hal ini tercermin dari menurunnya penjualan ritel di Amerika pada bulan July kemarin yang dimana ternyata penurunan tersebut lebih dalam dari yang kami perkirakan. Hal ini memberikan sebuah gambaran bahwa masyarakat telah lebih menyadari karena harga mulai mengalami kenaikkan yang mendorong inflasi juga terus beranjak naik. Penjualan ritel turun hingga 1.1% dimana tadinya kami berharap masih adanya kenaikkan dari penjualan ritel. Namun yang menarik adalah, masyarakat tampaknya tidak lagi berbelanja mengenai pengeluaran, namun lebih kepada pelayanan atau jasa. Pengeluaran untuk restaurant mengalami peningkatan, meskipun pada kecepatan yang lebih stabil dibandingkan sebelumnya yang lonjakannya begitu luar biasa. Namun pengeluaran untuk pelayanan atau jasa tersebut, tampaknya mulai kembali berkurang karena meningkatnya kasus delta, sehingga mendorong pengeluaran untuk services atau pelayanan akan berkurang. Penjualan kendaraan bermotor dan dealer suku cadang mengalami penurunan hingga 3.9% pada bulan July setelah sebelumnya turun 2.2% pada bulan sebelumnya. Kami melihat inflasi mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Om Powell, ini semua masih sementara. Karena tanpa adanya intervensi kebijakan dari The Fed pun, kekhawatiran meningkatnya Covid 19 variant Delta membuat masyarakat agak sedikit menahan keinginannya untuk melakukan pengeluaran. Setelah dari sini, focus selanjutnya adalah menanti risalah dari The Fed yang akan keluar sesaat lagi, ditambah dengan symposium di Jackson Hole pada pekan mendatang yang akan menjadi sebuah titik balik akan melangkah kemanakah The Fed setelah ini.

2.6 FOKUS

Pergerakan IHSG masih diwarnai oleh tekanan pada sebagian besar saham dengan kapitalisasi pasar besar menjelang rilis data neraca perdagangan pada hari Rabu. Pelaku pasar mencermati pembahasan dari RUU APBN yang disampaikan oleh presiden pada rapat besama MPR. Dalam rapat RUU APBN 2022 presiden menyampaikan enam fokus utama dalam pengelolaan uang negara. Pertama yaitu melanjutkan upaya pengendalian virus corona dengan tetap memprioritaskan sector kesehatan. Kedua, menjaga keberlanjutan program perlindungan sosial bagi masyarakat miskin dan rentan. Belakangan ini pemerintah menyalurkan subsidi upah bagi pekerja yang terdampak virus corona. Ketiga, memperkuat agenda peningkatan SDM yang unggul, berintegritas dan berdaya saing. Keempat, melanjutkan pembangunan infrastruktur dan meningkatkan kemampuan adaptasi teknologi. Kelima, peguatan desentralisasi fiscal untuk peningkatan dan pemerataan kesejahteraan antar daerah. Keenam, melanjutkan reformasi penganggaran dengan menerapkan zero base budgeting untuk mendorong agar belanja negara dapat lebih efisien, selain itu dapat memperkuat sinergi pusat dan daerah, fokus terhadap program prioitas dan berbasis hasil, serta antisipasi terhadap kondisi ketidakpastian. Selain itu, Pemerintah menargetkan nilai tukar rupiah pada 2022 mencapai kisaran Rp14.350 per dolar Amerika. Perkiraan ini sejalan dengan pemulihan ekonomi Indonesia yang terus berlanjut dan akselerasi program vaksinasi Covid-19 pada tahun depan. Berdasarkan Buku II Nota Keuangan, pemerintah memandang ekspektasi investor terhadap normalisasi kebijakan Amerika Serikat kemungkinan besar akan mulai terlihat pada 2022 melalui aksi investor dalam upaya kembali ke instrument investasi yang aman atau safe heaven. Pemerintah dan otoritas moneter akan terus mewaspadai potensi tekanan pasar keuangan global akibat upaya normalisasi kebijakan Pemerintah Amerika Serikat seiring dengan pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang diperkirakan lebih cepat dari perkiraan. Pada 2022, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5 hingga 5,5%, inflasi pada tingkat 3%, dan suku bunga SBN 10 tahun pada kisaran 6,82%.