ANALIS MARKET (24/8/2021) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Menguat

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Senin, 23/08/2021 kemarin, IHSG ditutup menguat 79 poin atau +1,31% menjadi 6,109. Sektor teknologi, energi, property, infrastruktur, konsumer siklikal, kesehatan, transportasi, keuangan, konsumer non siklikal, industri dasar, industrials bergerak positif dan mendominasi kenaikan IHSG kali ini. Investor asing membukukan penjualan bersih sebesar 1,1 miliar rupiah.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat dan ditradingkan pada level 6,081 – 6,181,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Selasa (24/8/2021).

Adapun di hari Selasa ini akan kita awali dari;

1.INDIA LAGI SALE!

India saat ini sedang berencana pemirsa untuk mengumpulkan uang sebanyak 6 triliun rupee atau $81 miliar dari penjualan asset infrastructure milik negara India dalam kurun waktu 4 tahun ke depan untuk membantu meningkatkan keuangan pemerintah yang bertujuan untuk menutup deficit anggarannya. Rencana tersebut akan mencakup penjualan asset jalan raya, kereta api, bandara, saluran transmisi listrik dan pipa gas. Hal ini tentu saja memicu keprihatinkan karena India sampai harus melakukan penjualan asset negara hanya untuk menutup deficit anggarannya. Menteri Keuangan, Nirmala Sitharaman dijadwalkan akan membuat blueprint dari rencana tersebut kemarin. Penjualan yang direncanakan tersebut sejalan dengan rencana dari Perdana Menteri Narendra Modi untuk melakukan kebijakan divestasi strategis, dimana negara akan mempertahankan porsi kepemilikkannya hanya di beberapa sector yang teridentifikasi, dan sisanya akan dilakukan privatisasi. Sejauh ini, pemerintah telah menganggarkan sebanyak 1.75 triliun rupee dari penjualan tersebut pada tahun ini hingga Maret 2022 mendatang untuk menutupi penurunan dari short fall pajak yang terjadi akibat pandemi. Sejauh ini proposal divestasi yang lebih luas tahun ini termasuk penawaran umum perdana Perusahaan Asuransi Jiwa. Tidak hanya itu saja, India juga akan melakukan penjualan saham di Bharat Petroleum Corp. dan Air India Ltd. Sitharaman diperkirakan akan mengumumkan rencananya dalam waktu dekat untuk memonetisasi asset infrastructure yang dipegang oleh 11 kementrian. Pendapatan dari hasil monetisasi jalan diperkirakan sebesar 1.6 triliun rupee, dari kereta api sebesar 1.5 triliun rupee. Untuk listrik diperkirakan akan mencapai 1 triliun rupee, jaringan pipa gas 590 miliar rupee, dan asset telekomunikasi sebesar 400 miliar rupee. Gudang umum, penerbangan sipil, infrastructure pelabuhan, stadion olahraga, dan asset pertambangan diperkirakan akan menghasilkan hampir 1 triliun rupee. Pemerintah sejauh ini memiliki asset yang sangat berharga dan hal ini tentu saja akan menarik minat dari investor. Rencana monetisasi diperkirakan akan disampaikan oleh Sitharaman dalam pidato anggaran tahunannya, yang dimana berfungsi sebagai peta jalan inisiatif dari penjualan asset pemerintah. Apa yang dilakukan oleh India, kami melihat sejauh ini merupakan salah satu cara yang memang harus ditempuh, setelah sebelumnya India terkena wabah Covid 19 gelombang ke 2 yang dimana mendorong keprihatinan dari berbagai negara. Gelombang ke 2 inilah yang membuat perekonomian India menjadi drop, karena gelombang ke 2 cukup menekan perekonomian. Pendapatan dari penjualan asset tersebut adalah kunci untuk mempersempit deficit anggaran negara, yang dimana Sitharaman mengharapkan menjadi 6.8% dari GDP, menurun dari tahun sebelumnya yang berada di 9.3%. Dengan adanya dukungan dari pemerintah, diharapkan hal ini akan membuat perekonomian India menjadi jauh lebih baik karena deficit berada di angka yang cukup tinggi. Sebetulnya bagaimana sih posisi perekonomian India saat ini? Sebetulnya kalau kita lihat per bulan August ini saja, sebetulnya perekonomian India secara perlahan mulai berangsur membaik. Kita lihat saja, data data seperti PMI Manufacturing mulai berada di atas 50, dari sebelumnya 48.1 menjadi 55.3 yang dimana memberikan sebuah gambaran bahwa perekonomian India mulai menuju fase ekspansif dari sisi manufacture. Namun PMI seperti services dan composite memang mengalami kenaikkan, tapi belum mampu menembus level 50. Pemulihan dari sisi services dan composite diperkirakan akan lebih lama kalua kita bandingkan dari sisi manufacture. Dari sisi Inflasi pun, India masih terjaga dengan baik, hanya saja memang mengalami penurunan dari sebelumnya 6.26% menjadi 5.59%, namun masih dalam batas toleransi. Pertemuan Bank Sentral India kemarin pun masih tidak mengubah tingkat suku bunga sebagai bagian dari kebijakan yang akomodatif. Mereka juga masih akan terus mencoba untuk melakukan pembelian obligasi di pasar sebagai bagian dari stimulus untuk mendukung perekonomian. India sedang tertatih, mungkinkah kita bisa mencoba mengambil kesempatan ini untuk bisa masuk ke dalam pasokan global ditengah situasi dan kondisi seperti saat ini?

2.KONSISTENSI PEMULIHAN

Kinerja pemulihan dari neraca perdagangan menjadi fokus pelaku pasar guna mendukung trend pertumbuhan ekonomi ke depan. Defisit transaksi berjalan diperkirakan masih berpotensi melebar hingga akhir 2021, namun kami melihat defisit neraca perdagangan tetap dalam level yang terkendali. Kinerja saat ini menunjukkan bahwa akun eksternal cukup sehat dalam mendukung stabilitas Rupiah. Pada lain sisi kekhawatiran terkait dengan penarikan stimulus moneter atau tapering oleh the Fed meningkat akhir-akhir ini, dampak yang ditimbulkan tidak akan sedalam taper tantrum pada 2013. Surplus barang di neraca transaksi berjalan diperkirakan akan menyusut di tengah kemajuan pemulihan ekonomi Indonesia dan percepatan vaksinasi Covid-19. Penurunan surplus, cenderung lebih bertahap dari yang diantisipasi sebelumnya karena pengenaan PPKM darurat/level 3-4 mempertahankan surplus neraca perdagangan untuk beberapa waktu. Kinerja ekspor diperkirakan tetap solid karena harga komoditas yang relatif tinggi dan pemulihan ekonomi global yang semakin cepat. Sementara, kinerja impor diperkirakan akan tertahan pada Juli hingga Agustus 2021 karena penerapan pembatasan masyarakat yang ketat. Secara keseluruhan, Kami menurunkan perkiraan CAD 2021 dari -1,88% dari PDB menjadi 1,06% dari PDB. Itu tetap relatif lebih sempit daripada tingkat rata-rata 5 tahun pra-pandemi sebesar -2,22% dari PDB. Surplus neraca dagang diproyeksikan mencapai kisaran US$ 5 miliar hingga US$ 7 miliar pada 2021, capaian terebut naik dari surplus US$ 2,6 miliar pada 2020. Berdasarkan data pada kuartal II/2021, Bank Indonesia mencatat neraca pembayaran Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 0,4 miliar. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2021 mencapai US$137,1 miliar, relatif sama dibandingkan posisi pada akhir Maret 2021. Bank Indonesia mencatat, transaksi berjalan pada kuartal II/2021 mengalami defisit sebesar US$ 2,2 miliar atau setara dengan 0,8% dari PDB, meningkat jika dibandingkan dengan defisit sebesar US$ 1,1 miliar atau 0,4% dari PDB pada kuartal sebelumnya. Sejalan dengan itu, transaksi modal dan finansial mengalami surplus sebesar US$1,9 miliar atau mencapai 0,7% dari PDB, melanjutkan capaian surplus pada kuartal sebelumnya sebesar US$ 5,5 miliar.