ANALIS MARKET (30/7/2021) : IHSG Berpeluang Bergerak Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Kamis, 29/07/2021 kemarin, IHSG ditutup menguat 32 poin atau +0.53% menjadi 6.120. Sektor Infrastruktur, industri dasar, energi, property, teknologi, transportasi, konsumer siklikal, keuangan bergerak positif dan mendominasi kenaikan IHSG kali ini. Investor asing membukukan pembelian bersih sebesar 49.1 miliar rupiah.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat terbatas dan ditradingkan pada level 6.091 – 6.168,” ungkap analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (30/7/2021).

Adapun cerita hari ini akan datang dari;

1.AMERIKA, KONSISTEN LHO!

Wuiih pemirsa, meskipun pertumbuhan ekonomi Amerika jauh dibawah proyeksi pasar, namun kami tetap mengapresiasi pertumbuhan ekonomi di Amerika yang sejauh ini masih konsisten dengan mengalami kenaikkan. Melesetnya proyeksi pertumbuhan ekonomi pasar didominasi oleh karena terkendalanya supply chain yang ada di pasar, sehingga memberikan perlambatan pada kecepatan pertumbuhan ekonomi di Amerika. Permintaan rumah tangga yang kuat, masih belum bisa diimbangi dengah kehadiran pasokan yang kuat dari para perusahaan. Keterbatasan itulah yang membuat perusahaan menjadi tidak mampu untuk mengimbangi tingginya permintaan, yang dimana pada akhirnya membuat permintaan menjadi terbatas. Proyeksi yang sudah diberikan memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika akan berkisar di 8.4%, bahkan beberapa proyeksi lanjutan memproyeksikan peningkatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ke 3 mendatang di kisaran 8.4%. Banyak proyeksi yang menyatakan bahwa mereka memperkirakan bahwa rebound besar akan terjadi, sehingga akan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ke 3 mendatang. Meskipun tidak sesuai dengan ekspektasi, namun indeks di Amerika mengalami kenaikkan, hal ini yang memberikan kita sebuah gambaran bahwa perekonomian Amerika masih sejalan dengan proyeksi, meskipun dengan tingkat kecepatan yang lebih rendah. Kekurangan pasokan juga pernah disampaikan oleh The Fed kemarin, bahwa ketiadaan pasokan akan membuat kelangkaan barang terjadi. Hal ini lah yang mendorong The Fed juga untuk tetap terus memberikan dukungan terhadap pemulihan ekonomi di Amerika. Saat ini Personal Consumption juga berada di level terbaiknya, bahkan lebih dari yang diproyeksikan. Hal ini tentu mendorong bahwa masyarakat mulai meningkatkan konsumsinya, yang dimana saat ini data Personal Consumption di Amerika telah menembus 11.8% yang dimana merupakan kemajuan terbesar sejak tahun 1952. Secara data, masyarakat di Amerika cenderung menghabiskan uang secara cash selama pandemic, yang dimana nilai tabungan mengalami penurunan dari sebelumnya 20.8% menjadi 10.9%. Hal ini juga memberikan sebuah gambaran yang sangat jelas bahwa konsumsi yang tinggi akan menjadi salah satu pendorong kenaikkan inflasi, ditambah lagi apabila pasokan tidak bisa memenuhi permintaan. Hal ini juga yang harus di antisipasi oleh The Fed meskipun The Fed menutup mata terkait dengan kenaikkan inflasi. Berbicara inflasi yang tidak termasuk biaya makanan dan energi telah naik 6.1% secara YoY pada kuartal kedua kemarin, yang dimana kenaikkan tersebut merupakan kenaikkan terbesar sejak tahun 1983. Laporan tersebut memberikan indikasi bahwa perekonomian di Amerika mulai pulih dari penurunan sebelumnya yang terjadi akibat pandemic. Kedepannya, pertumbuhan ekonomi masih akan ditantang oleh meningkatnya varian delta yang terjadi di Amerika, kendala pasokan, serta lapangan kerja yang masih belum stabil meskipun penurunan pengangguran terus terjadi. Berbicara pasokan, ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan di Amerika termasuk beberapa perusahaan besar seperti Apple Inc, Fastenal Co. dan lainnya. Pemulihan ekonomi di Amerika yang sesuai harapan, tentu memberikan kita sebuah keberuntungan dimana bagi Indonesia, Amerika merupakan salah satu mitra dagang terbesar saat ini. Tentu pemulihan ekonomi di Amerika akan menjadi salah satu katrol yang bagus untuk menopang, dan mengangkat perekonomian di Indonesia yang sejauh ini masih tertatih tatih akibat adanya PPKM lanjutan serta menurunnya konsumsi serta daya beli. Tetap hati hati, dan cermati setiap situasi dan kondisi yang ada khususnya terkait dengan daya tahan perekonomian di Indonesia.

2.PASPI

Industri sawit dinilai dapat menopang pertumbuhan pendapatan daerah dan dapat menjadikan pusat pertumbuhan ekonomi baru pada tahun ini. Hal tersebut terbukti dari hasil studi yang dilakukan Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI). Direktur Eksekutif PASPI Indonesia Tungkot Sipayung mengatakan dari riset yang dilakukan pihaknya membuktikan berkembangnya aktivitas perkebunan dan industri sawit berbanding lurus dengan naiknya pendapatan masyarakat. Data PASPI Indonesia menunjukkan adanya 10 provinsi yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru seiring dengan berkembangnya industri sawit di daerah tersebut. Kesepuluh provinsi tersebut adalah Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Papua dan Papua Barat. Kabupaten yang memiliki sentra sawit perkembangannya lebih cepat dibandingkan dengan kabupaten yang tidak memiliki sawit. Ini hasil penelitian secara empiris dan hasilnya sama dengan penelitian World Bank. Ia juga menyebut selain dapat menopang laju ekonomi, keberadaan perkebunan kelapa sawit pun berdampak positif pada lingkungan sosial dan ekologi daerah tersebut. Hal ini merujuk pada riset dari Robert Henson yaitu ahli ekofisiologi asal Oklahoma City, Amerika Serikat. Penelitian Henson di Malaysia diterbitkan dalam laporan berjudul “The Rough Guide to Climate Change”. Dalam penelitian itu disebut terdapat penyerapan karbondioksida dan produksi oksigen perkebunan kelapa sawit lebih baik dibandingkan hutan. Apabila dihitung, perkebunan sawit mampu menyerap karbondioksida (CO2) sekitar 163 ton/ha/tahun. Dengan luas lahan yang dimiliki Indonesia sebesar 16,381 juta hektar, maka perkebunan sawit dapat menyerap CO2 hingga mencapai 2,67 miliar ton/tahun. Perkebunan sawit pun menyediakan konservasi tanah dan air berupa biopori alami dalam sistem perakarannya. Di luar itu, sawit juga mampu menghasilkan berbagai produk turunan yang ramah lingkungan dan energi terbarukan, seperti biodiesel, biopremium, bioplastik dan biogas. Kami melihat hal yang cukup baik apabila pengusaha juga dapat bekerja sama menjaga keseimbangan alam. Hal ini tentu dapat menjadi sebuah alasan yang kuat dalam membalikkan tuduhan bahwa industry sawit dapat mengancam kelestarian alam. Dengan adanya upaya dari pengusaha serta pemerintah dalam mendorong industry sawit dapat lebih baik. Tentu ini akan menjadi kekuatan Indonesia dalam menjadi bagian dari perekonomian terbesar dunia.