ANALIS MARKET (18/6/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi meriang tak kuasa menahan tekanan dari pertemuan The Fed hari ini.

Potensi pengurangan pembelian obligasi di pasar oleh The Fed masih menjadi katalis kuat terkait dengan penurunan harga obligasi pada hari ini.

Penurunan harga obligasi ini juga sebagai salah satu penyesuaian atas kenaikkan imbal hasil US Treasury yang sebelumnya mengalami kenaikkan hampir 1%, meskipun sekarang penurunan US Treasury berpotensi untuk memberikan ruang bagi pasar obligasi dalam negeri untuk mengalami penguatan.

Pasar tidak perlu panik sebetulnya, kan ini baru ancang-ancang, meskipun sebetulnya tekanan sudah mulai terasa karena

The Fed sudah mulai menyusun rencana terkait dengan pengurangan pembelian obligasi tersebut. Ada potensi rencana tersebut akan menjadi final pada bulan July atau August, pertanyaannya sederhana. Sudahkah kita bersiap?

Kalau dikatakan bahwa taper tantrum itu masih lama, tidak juga pemirsa. Karena pada tahun 2013 pun pengumuman terjadi lebih awal, namun harga obligasinya pun sudah bergejolak meskipun pengurangannya baru terjadi pada bulan December 2013. Volatilitas pasar sudah terjadi sejak Maret 2013 hingga June 2013, karena imbal hasil obligasi harus melakukan penyesuaian untuk menjaga capital outflow-nya. Tingkat suku bunga naik sebanyak 6x, yang dimana hal tersebut juga mendorong harga obligasi terjadi penurunan, dan imbal hasil mengalami kenaikkan.

Maka dari itu, kita harus bersiap lebih baik untuk menghadapi fase nanti, karena situasi dan kondisi fundamental kita tidak seperti saat 2013 silam. Situasi dan kondisi terus berkembang, mencermati setiap situasi dan kondisi yang ada akan menjadi kunci untuk menghadapi gejolak pasar.

“Pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah. Kami merekomendasikan jual,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (18/6/2021).

Adapun cerita di akhir pekan ini akan kita awali dari;

1.AMERIKA BERSIAP

Amerika tengah bersiap di bawah komando Biden untuk mampu melawan persaingannya yang begitu ketat dengan China. Bukan tanpa sebab Biden melihat China sebagai sesuatu yang tidak bisa di lawan seorang diri, oleh sebab itu setiap ada kesempatan bagi Amerika untuk bisa melakukan pembahasan mengenai China dengan negara lain, tentu Amerika akan berusaha mempengaruhi negara lain. Hal ini lah yang dilakukan oleh Biden sejak G7, NATO, Uni Eropa, bahkan ketemu Biden bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Biden mengatakan bahwa China semakin mendominasi hingga saat ini. Biden yang berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Putin, sejauh ini berjalan dengan baik, apalagi Biden sendiri telah menerapkan beberapa aturan main dan prediktabilitas dalam hubungannya dengan Rusia. Saat ini bagi Amerika, China merupakan sebuah focus, karena hubungan Amerika dan China jauh lebih bermakna dari sekedar Amerika – Rusia. Ada kemungkinan pertemuan antara Biden dan Xi Jinping akan terjadi pada KTT G20 di Roma pada bulan October mendatang. Namun selama pertemuan dengan negara negara Quad, Amerika, Jepang, India, dan Australia, Biden terus berusaha mempengaruhi para sekutunya untuk dapat bersatu dalam melawan China. Prioritas Amerika saat ini adalah terus berusaha untuk memperkuat hubungan dengan negara negara yang memiliki visi yang sama dengan Amerika, agar dapat mempengaruhi China untuk dapat meninjau ulang setiap kebijakannya. Pendekatan yang dilakukan oleh Biden, tentu saja mendapatkan perhatian dari China. Zhao Lijian mengatakan bahwa, usaha Biden untuk mempengaruhi negara negara G7 untuk bersatu untuk melawan China merupakan sesuatu yang salah dan sakit. Negara negara G7 sebaiknya memeriksa diri mereka dan membuat resep untuk itu. Padahal bagi China, adanya Biden di Amerika dapat memberikan hubungan yang lebih baik antara Amerika dan China, karena perlakukan buruk dari Presiden Trump sebelumnya. Namun pada kenyataannya, Biden tetap membuat China tetap pada sisi yang defensive karena tetap mempertahankan tarif yang telah ditetapkan sebelumnya. Biden akan terus berusaha untuk menggalang negara negara lain baik, G7 maupun NATO untuk kembali membuka penyelidikan mengenai asal usul Covid 19. Amerika sejauh ini percaya, bahwa cara untuk memperbaiki hubungannya dengan China agar China juga dapat berubah menjadi lebih baik adalah dengan bekerjasama dengan sekutu, mitra dan teman karena posisi China yang begitu dominan dan kuat tidak bisa dikalahkan oleh Amerika seorang diri. Tentu ujung ujungnya adalah Presiden Biden dan Presiden Xi harus bertemu untuk membahas mengenai masalah ini, karena ini akan menjadi salah satu titik balik hubungan antara Amerika dan China, dan KTT G20 akan menjadi kesempatan kedua pemimpin untuk bertemu di Selandia Baru. Pemulihan ekonomi yang dipimpin oleh Amerika dan China akan memberikan dampak yang lebih besar apabila keduanya bersatu, dan hal tersebut hanya bisa dicapai apabila keduanya bersatu karena tentu akan menjadi katalis positive bagi pemulihan ekonomi di negara negara yang masih belum bisa move on dari Corona. Well, situasi dan kondisi akan kian memanas bagi keduanya meskipun baik Amerika dan China sudah melakukan conference call bersama beberapa kali diwakili oleh Liu He dan Katherine. Yuk kita lihat perkembangannya kedepannya.

2.PROYEKSI BANK INDONESIA

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan 7DRRR pada 3.5%, suku bunga pinjaman pada 4.25% dan suku bunga simpanan pada 2.75%. Upaya tersebut seiringan dengan komitmen Bank Indonesia dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional. Selain itu inflasi yang masih terjaga rendah dan nilai tukar yang cukup terjaga stabil menjadi pertimbangan keputusan tersebut. Melalui RDG BI yang diagendakan pada hari Kamis, suku bunga acuan akan tetap dijaga rendah dan kebijakan makroprudensial juga akan tetap longgar, hal ini tentu dengan mempertimbangkan indicator – indicator makro dalam negeri dimana indikasi kenaikan dari inflasi diproyeksikan baru akan terjadi pada awal tahun depan. Meskipun demikian, Bank Indonesia juga memastikan kebijakannya tidak akan terjadi secara drastic, sehingga pelaku pasar tetap dapat tenang. Hingga saat ini BI memandang pemulihan masih terus berlangsung di tengah berbagai ketidakpastian. Di antaranya lonjakan kasus covid di tanah air hingga perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 tumbuh 7% dan di tahun ini berada pada 4,1% hingga 5,1%. Bersama pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia akan terus memantau ketat perkembangan yang terjadi di dalam dan luar negeri. Sehingga kebijakan yang dikeluarkan dapat lebih tepat guna menjaga pergerakan pasar uang maupun pasar modal. Kami cukup senang sebetulnya ketika Bank Indonesia mengatakan bahwa mereka akan menyiapkan stimulus untuk UMKM dan sector sector yang masih belum bisa bangkit akibat pandemic seperti restaurant, café, dan hotel. Tentu hal ini akan menjadi sebuah kabar yang sangat baik, karena sector sector ini masih dalam keadaan yang mengkhawatirkan, meskipun pemulihan mulai terlihat namun dalam tingkat kecepatan yang sangat lambat. Namun kami cukup sedih, ketika Bank Indonesia tidak cukup jujur untuk mengatakan dampak yang terjadi pada pasar kita ketika 2013 silam. Memang benar, secara fundamental kita kuat untuk menahan tekanan dari The Fed, namun secara pasar gejolak tentu tidak bisa kita hindarkan pada tahun 2013. Pertanyaannya sederhana, sudahkah kita belajar dari kesalahan? Atau justru kita terlalu percaya diri untuk bisa melewati fase taper tantrum?