ANALIS MARKET (07/4/2021) : IHSG Berpeluang Bergerak Bervariatif dengan Potensi Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Selasa, 06/04/2021 kemarin, IHSG ditutup menguat sebesar 32 poin atau sebesar 0.54% ke level 6.002. Sektor pertambangan, property, perdagangan, infrastruktur, industri dasar, aneka industri, keuangan, perkebunan bergerak positif dan menjadi kontributor pada kenaikan IHSG. Sementara investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar 315 miliar rupiah.

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.DIVERGEN

Wuiih, sudah seperti nama film pemirsa. Nah kali ini seperti yang dijanjikan kemarin, IMF pada akhirnya merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 3 bulan, namun IMF seperti biasa selalu mengatakan dengan kata tapiii, pertumbuhan tidak akan merata, dan ketidaksetaraan antara negara maju dan berkembang akan semakin melebar. Ekonomi global sendiri diproyeksi akan tumbuh sebanyak 6% pada tahun ini, naik dari tahun lalu yang hanya berkisar 5.5%. Kenaikkan tersebut akan menjadi yang terbesar dalam kurun waktu 4 dekade terakhir, setelah sebelumnya terjadi kontraksi sebesar 3.3% tahun lalu. IMF melihat bahwa negara negara maju tidak terlalu terpengaruh dengan kehadiran virus tahun ini, dibandingkan dengan negara negara yang berpenghasilan rendah ataupun negara berkembang yang terkena dampak cukup parah. IMF mengatakan bahwa para pembuat kebijakan ketika ingin mengurangi kebijakan fiskalnya diharapkan dapat dilakukan secara bertahap untuk menghindari distorsi fiscal yang terlalu jauh. Para bankir diharapkan memberikan arah yang lebih jelas kedepannya terkait dengan kebijakan moneter yang dapat menganggu pergerakan money flow di seluruh dunia. IMF juga mendorong negara negara yang lebih kaya untuk dapat membantu negara negara yang miskin untuk mengentaskan kemiskinan yang diakibatkan oleh Covid 19. Terkait dengan stimulus yang diberikan oleh Biden kemarin yang dimana nilainya $1.9 triliun, akan membantu mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi AS akan mengalami kenaikkan ke tingkat pra pandemic di tahun ini, dan tentu saja akan memberikan implikasi positif juga terhadap para mitra dagangnya. Dan itu artinya, Amerika akan menjadi satu satunya negara yang memiliki perekonomian besar yang mampu melampui tingkat outputnya apabila tidak ada pandemic. Untuk tahun 2022 sendiri, IMF memproyeksikan kenaikkan pertumbuhan global dari sebelumnya 4.2% menjadi 4.4%. Tapi sebagai catatan, masih banyak negara maju yang tidak akan kembali kepada tingkatan outputnya sebelum pandemic terjadi hingga tahun 2022 berakhir. Negara maju dan berkembang masih membutuhkan waktu untuk pulih hingga tahun 2023 mendatang, dan perekonomian dunia pada tahun 2024 akan menjadi jauh lebih kecil dari yang sekarang. Prospek pemulihan memang akan menghadirkan tantangan tersendiri bagi negara negara maju dan berkembang, namun kecepatan untuk dapat pulih kembali kepada kemampuan negara masing masing. Untuk membantu mengatasi hal tersebut, IMF akan focus terhadap penerbitan asset cadangan sebesar $650 miliar yang di usulkan oleh IMF sebelumnya yang dimana hal tersebut bertujuan untuk membantu meningkatkan likuiditas global, dan membantu negara negara berkembang serta berpenghasilan rendah untuk membantu mendapatkan utang guna mengatasi pandemic. IMF juga mengkomentari terkait dengan perekonomian yang bergantung terhadap industry pariwisata masih akan menghadapi prospek pemulihan yang sangat sulit, karena masih terganggu oleh jadwal penerbangan yang belum maksimal sehingga industry ini masih akan sulit untuk bertumbuh. Beberapa point yang menjadi perhatian adalah bahwa negara negara maju akan tumbuh naik dari sebelumnya 4.3% menjadi 5.1% tahun ini. Negara berkembang akan tumbuh, naik dari sebelumnya 6.3% menjadi 6.7%. Pertumbuhan ekonomi Amerika akan mengalami kenaikkan dari sebelumnya 5.1% menjadi 6.4%. Stimulus akan mendorong kenaikkan produksi di Amerika secara kumulatif dari sebelumnya 5% menjadi 6% selama 3 tahun. Kawasan Eropa akan berkembang dari sebelumnya 4.2% menjadi 4.4%, Jepang akan naik dari sebelumnya 3.1% menjadi 3.3%. India sendiri akan naik dari sebelumnya 11.5% menjadi 12.5%. Ini Indonesia belum terlihat pemirsa, semoga bisa segara terlihat ya berapa proyeksi dari IMF untuk kita tahun ini. IMF juga memperingatkan bahwa inflasi global dapat berubah menjadi tidak stabil dalam kurun waktu beberapa bulan mendatang. Volume perdagangan diperkirakan akan kembali meningkat naik dari sebelumnya 8.1% menjadi 8.4% tahun ini. Namun ingat, IMF memberikan peringatan lho bahwa perekonomian global masih akan menemukan beberapa hambatan, khususnya bagi pemerintah yang terus melakukan pelonggaran kebijakan fiscal karena nantinya akan menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan di masa yang akan datang. Dan apabila tidak ditangani dengan baik, kelak akan menimbulkan masalah yang tidak diinginkan. Nah, yang menarik adalah ketika IMF mengatakan bahwa China akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi global pada tahun tahun mendatang. China akan berkontribusi sebesar 1/5 dari total peningkatan GDP di seluruh dunia dalam kurun waktu 5 tahun mendatang. GDP global diperkirakan akan naik dari $28 triliun menjadi $122 triliun dalam kurun waktu periode tersebut. Kenaikkan ini setelah dunia mengalami penurunan sebesar $2.8 triliun tahun lalu. Amerika dan India akan menjadi contributor terbesar ke 2 dan 3, diikuti dengan Jepang dan German. Dan sebagai penutup, IMF mengatakan bahwa kenaikkan tingkat suku bunga berkembang akan menjadi sebuah ancaman lho pemulihan bagi pasar Emerging Market. Tapi hari ini atau nanti, suka atau tidak suka, kita harus hadapi. Oleh sebab itu, kami berharap bagi Emerging Market, khususnya Indonesia mampu pulih lebih cepat untuk menghadapi kenaikkan tingkat suku bunga Amerika nanti, khususnya Taper Tantrum.

2.KIRA KIRA BISA ENGGA YA?

Menjelang momentum lebaran, pelaku pasar saat ini memiliki harapan yang tinggi terhadap pulihnya daya beli masyarakat pada kuartal II 2021 ini. Kondisi perekonomian yang belum stabil selama pandemi membuat sejumlah emiten retail memutuskan untuk menghentikan operasional meski momen Ramadhan dan lebaran di depan mata. Saat ini sinyal pemulihan konsumsi dinilai belum cukup kuat dan memengaruhi keputusan bisnis pelaku usaha, sehingga hal tersebut menghambat ekspansi dari emiten retail. Saat ini proses vaksinasi, pengetatan aturan mudik lebaran dan dihentikannya bantuan social secara tunai dinilai ikut mempengaruhi indicator tersebut. Masifnya aksi penutupan gerai dinilai dapat berpengaruh pada persaingan dimana pelaku usaha juga akan cenderung melakukan seleksi kembali gerai – gerai yang akan dikelola secara optimal. Hal ini cukup berdampak pada emiten retail seperti supermarket dan hypermarket. Berdasarkan dari survei Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia, saat ini pelaku usaha mulai mempertimbangkan dan menganalisa tren konsumsi suatu daerah termasuk kebiasaan berbelanja masyarakat. Dampak dari pandemic masih cukup terasa hingga kuartal II tahun ini. Terlebih kami melihat emiten retail juga mendapat tekanan dari gaya hidup masyarakat yang mulai beralih ke ecommerce dimana produk impor yang lebih murah ikut mengambil porsi pasar. Selain itu, emiten retail juga langsung bersinggungan dengan konsumen dimana dinamika yang terjadi di masyarakat selama pandemi secara otomatis akan terus menentukan kelanjutan dari bisnis. Momentum Ramadan dan Idulfitri diakui bisa menjadi momentum bagi bisnis ritel untuk meraih keuntungan. Kami melihat penyaluran bantuan langsung tunai dari pemerintah bisa tepat waktu sehingga dapat menopang daya beli masyarakat. Pencairan tunjangan hari raya kepada aparatur sipil negara juga diharapkan tidak ditunda, sehingga hal ini dapat berdampak pada naiknya daya beli masyarakat dan pemulihan emiten retail di kuartal II tahun ini

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak bervariatif dengan potensi menguat terbatas dan ditradingkan pada level 5.944 – 6.066,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (07/4/2021).