ANALIS MARKET (01/3/2021) : Sentimen Eksternal Berpotensi Jadi Katalis Pergerakan Indeks Hari Ini
Pasardana.id – Riset harian Samuel Aset Manajemen (SAM) menyebutkan, pasar saham global mayoritas bergerak melemah pada perdagangan Jumat (26/2) lalu, saat Nasdaq Composite mengalami kenaikan 0,56% menjadi 13.192,34.
Dow turun 469,64 poin atau 1,50% menjadi 30.932,37, begitupun S&P 500 yang turun 0,47% menjadi 3.811,15.
Dari Eropa, FTSE tercatat turun 2,53% menjadi 6.483,43 diikuti Stoxx600 yang juga turun 1,64% menjadi 404,99.
Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada level RP 14.260,0, melemah.
Selain itu, komoditas utama dunia, yaitu minyak WTI dibuka naik 1,77% sedangkan Brent turun 2,54%.
Sementara itu, diperdagangan Senin (01/3) pagi ini, Nikkei 225 dibuka menguat 2,80% sedangkan Kospi libur. Indeks futures di Amerika Serikat, Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq menguat masing-masing sebesar 0,68%, 0,75% dan 0,87%
Lebih lanjut analis SAM juga menyebutkan beberapa sentiment yang layak dicermati diperdagangan hari ini, antara lain;
1.Pemulihan ekonomi Tiongkok melambat pada bulan Februari karena pabrik tutup selama liburan Tahun Baru Imlek dan pembatasan kegiatan terkait virus mengurangi aktivitas yang biasanya merupakan musim perjalanan yang sibuk. Indeks manajer pembelian manufaktur (PMI) turun ke level terendah dalam sembilan bulan terakhir menjadi 50,6 dari 51,3 pada Januari karena turunnya pesanan ekspor, Biro Statistik Nasional mengatakan Minggu (28/2). Angka tersebut lebih rendah dari estimasi median 51 dalam survei ekonom Bloomberg.
2.Rencana Presiden Joe Biden untuk paket stimulus Covid-19 sebesar 1,9 triliun dollar AS (Rp 27.228 triliun) telah disetujui oleh DPR. Melansir BBC pada Sabtu (27/2/2021), pemungutan suara disetujui oleh hampir semua anggota partai Demokrat. Sekarang, RUU sedang diajukan ke Senat dengan suara sejauh ini terbagi rata, yang dapat memblokir jalan penggandaan upah minimun AS menjadi 15 dollar AS (Rp 214.958) per jam.
3.Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono mengatakan, bahwa tiap bank sentral memiliki motivasi yang berbeda dalam menerbitkan mata uang digital atau central bank digital currency (CBDC). Bagi negara berkembang seperti Indonesia, penerbitan CBDC lebih dipengaruhi oleh faktor untuk memperoleh efisiensi sistem pembayaran domestik dan keuangan inklusif serta memitigasi praktik perbankan bayangan (shadow banking). Sedangkan motivasi penerbitan CBDC negara maju didorong kebutuhan untuk mendukung keamanan pembayaran dan stabilitas keuangan, memitigasi private digital currency, dan merespons penggunaan uang kartal menjadi key driver utama negara-negara tersebut dalam melakukan eksplorasi.
“Beragam kondisi tersebut diatas berpotensi jadi katalis pergerakan indeks hari ini,” sebut analis SAM dalam riset yang dirilis Senin (01/3/2021).
Melalui tulisan ini, kami kembali menyerukan kepada seluruh mitra investasi untuk selalu menjaga kesehatan, mengikuti semua protokol kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik, serta seoptimal mungkin untuk melakukan aktivitas dari rumah. Semoga kita berhasil.

