ANALIS MARKET (26/02/2021) : Sentimen Domestik Berpotensi Jadi Katalis Pergerakan Indeks
Pasardana.id – Riset harian Samuel Aset Manajemen (SAM) menyebutkan, pasar saham global bergerak melemah pada perdagangan Kamis (25/2) kemarin.
Dow turun 559,85 poin atau 1,75% menjadi 31.402,01, begitupun S&P 500 yang turun 2,45% menjadi 3.829,34. Nasdaq Composite melemah sebesar 3,52% menjadi 13.119,43.
Dari Eropa, FTSE tercatat turun 0,11% menjadi 6.651,96 diikuti Stoxx600 yang juga turun 0,36% menjadi 411,73.
Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berada pada level RP 14.082,5, menguat.
Selain itu, komoditas utama dunia, yaitu minyak WTI dibuka turun 0,41% sedangkan Brent turun 0,09%.
Adapun diperdagangan Jumat (26/2) pagi ini, Nikkei 225 dibuka melemah 2,74% sama dengan Kospi yang dibuka turun 2,56%.
Sedangkan Indeks futures di Amerika Serikat, Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq menunjukkan pelemahan masing-masing sebesar 0,30%, 0,31% dan 0,63%
Lebih lanjut, analis SAM juga menyebutkan beberapa sentiment yang layak dicermati pelaku pasar, antara lain;
1.Dari AS, Demokrat tidak dapat memasukkan upah minimum US$ 15 per jam dalam paket bantuan virus korona US$ 1,9 triliun mereka, menurut seorang pejabat Senat, Elizabeth MacDonough. Elizabeth MacDonough menetapkan anggota parlemen tidak dapat memasukkan kebijakan tersebut dalam rekonsiliasi anggaran, CNBC mengkonfirmasi. Sebelumnya, DPR Demokrat memasukkan upah minimum U$ 15 per jam dalam kebijakan penyelamatan yang mereka rencanakan untuk disetujui Jumat. Itu akan menaikkan dasar gaji federal ke ambang batas pada tahun 2025, kemudian mengindeks kenaikan inflasi di masa depan. Belum ada kejelasan apakah para pemimpin DPR akan mengubah rencana mereka sebelum meneruskannya dan mengirimkannya ke Senat.
2.Bank Indonesia (BI) tengah menyiapkan pembentukan mata uang rupiah digital yang disebut central bank digital currency. Pembentukan mata uang digital ini dilakukan untuk mengantisipasi maraknya penggunaan mata uang kripto atau cryptocurrency, salah satunya Bitcoin. Menurut Perry, nantinya bank sentral akan menjadi pengelola, yaitu yang menerbitkan dan mengedarkan central bank digital currency tersebut ke perbankan dan teknologi finansial (fintech), baik secara wholesale maupun ritel. Secara terpisah, ekonom senior yang juga Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kunco ro berpendapat, keberadaan mata uang digital dari BI akan menjadi alternatif alat pembayaran dan instrumen investasi bagi masyarakat. BI bisa memasukkan mata uang tersebut dalam contestable market yang tetap bisa diatur apabila dijadikan portofolio investasi oleh masyarakat.
3.Kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia memberi berkah bagi pendapatan minyak dan gas (migas) negara. Kenaikan harga minyak menjadi kabar baik di tengah seretnya penerimaan negara sepanjang tahun 2021. Namun, kenaikan harga minyak dunia ini belum berdampak terhadap penerimaan pajak migas maupun penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor sumber daya alam migas.
“Beragam kondisi tersebut diatas berpotensi jadi katalis pergerakan indeks hari ini,” sebut analis SAM dalam riset yang dirilis Jumat (26/02/2021).
Melalui tulisan ini, kami kembali menyerukan kepada seluruh mitra investasi untuk selalu menjaga kesehatan, mengikuti semua protokol kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik, serta seoptimal mungkin untuk melakukan aktivitas dari rumah. Semoga kita berhasil.

