ANALIS MARKET (13/12/2021) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Jumat, 10/12/2021 lalu, IHSG ditutup menguat 8 poin atau +0.14% ke level 6.652. Sektor consumer cyclical, transport & logistic, energy, technology, industrials, infrastructure, consumer non cyclical, dan healthcare mendominasi kenaikan IHSG kemarin. Investor asing mencatatkan penjualan bersih 721.4 miliar rupiah.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat terbatas dan ditradingkan pada 6.610 – 6.690," sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (13/12/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.ARISAN BANK SENTRAL

Pekan ini akan menjadi pekan yang panjang sekaligus menentukan bagaimana tahun 2021 akan berakhir dan bagaimana tahun 2022 akan bermulai. Mengapa demikian? Pekan ini akan menjadi arisan terbesar pertemuan Bank Sentral, siapa saja sih yang akan arisan pekan ini? Bank Sentral Amerika, Bank Sentral Eropa, Bank Sentral Jepang, dan tentu saja Bank Sentral Inggris. Eits, sepertinya ada yang kelewatan. Ternyata Indonesia tidak mau kalah pemirsa, tentu saja ada Bank Sentral Indonesia. Apakah itu saja? Tentu tidak, ada Swiss, Norwegia, Meksiko, hingga Rusia. Inflasi akan mencuri perhatian, tapi wild card yang sesungguhnya akan terletak pada sejauh mana Omicron akan mengambil alih. Tentu saja ceritanya akan sama, inflasi ditambah bumbu omicron menjadi ketidakpastian yang menghambat pemulihan ekonomi global. Saat ini bias kebijakan akan terlihat semakin lebih besar pemirsa. Karena inflasi yang terus mengalami kenaikkan terlihat lebih konsisten karena adanya hambatan pasokan global, dan ketika pemulihan ekonomi belum usai, Omicron muncul sebagai variable baru. Yuk kita bahas satu persatu ya. Dari The Fed dulu, Bank Sentral yang paling berkuasa seantero jagat! Powell diperkirakan akan memberikan pernyataan mengenai percepatan Taper Tantrum daripada yang direncanakan pada bulan November lalu. Dan tentu saja, mengingat inflasi di Amerika yang tertinggi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir, bukan tidak mungkin The Fed juga akan menyampaikan kenaikkan tingkat suku bunga yang lebih cepat dari sebelumnya 2023 mungkin menjadi 2022 mendatang, atau tahun depan lebih tepatnya. Sejauh ini The Fed yang paling terlihat lebih memiliki keyakinan untuk menaikkan tingkat suku bunganya yang dimana sikap The Fed akan menjadi acuan bagi Bank Sentral lainnya. Setelah dari Amerika, kita jalan jalan ke Eropa dimana ada Bank Sentral Eropa yang di ketuai oleh Christine Lagarde. Sebelumnya Lagarde masih menyampaikan, entah yakin atau pasrah, bahwa inflasi di Eropa masih dalam tahap sementara. Kenaikkan yang terjadi tidak akan bertahan lama, semisal biaya energi atau kenaikkan yang disebabkan oleh kenaikkan pasokan dan pengiriman logistic yang terhambat. Inflasi di Eropa juga akan keluar pada minggu depan yang dimana pemirsa, inflasi di Eropa diperkirakan akan mengalami kenaikkan menjelang Natal dan Tahun Baru yang mungkin akan mendorong konsumsi mengalami kenaikkan. Hal ini yang berpotensi membuat inflasi di Eropa akan menembus di 5% yang dimana itu artinya akan menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Luar biasa bukan! Namun tampaknya Lagarde tidak akan gentar, dirinya tetap yakin bahwa inflasi akan sementara, oleh sebab itu dirinya tidak berharap untuk menaikkan tingkat suku bunga dalam waktu dekat atau hingga tahun 2023 mendatang. Besar kemungkinan Lagarde sendiri tidak akan menaikkan tingkat suku bunga tahun 2022 mendatang. Apakah benar begitu? Tampaknya tidak begitu apabila inflasi diperkirakan masih akan konsisten untuk berada di level 4% atau bahkan akan lain ceritanya apabila inflasi di Eropa berada di atas 5%. Habis dari Eropa, tentu saja kita akan jalan ke Jepang, tapi bukan untuk hanami lho ya. Tapi untuk mencari tahu apa yang akan dilakukan oleh Haruhiko Kuroda, sebagai Gubernur Bank Sentral Jepang, yang diharapkan berkolaborasi dengan pemerintahan Jepang yang baru. Saat ini berbeda dengan Amerika dan Eropa, inflasi di Jepang tidak kunjung mengalami perbaikan. Bahkan meskipun mengalami kenaikkan, niscaya tidak akan terlalu lama untuk konsisten berada di ketinggian. Mungkin Jepang untuk sementara tidak termasuk dalam hitungan, karena mungkin masih jauh dari menggapai inflasi, atau mungkin hanya sekedar mimpi. Yang mungkin menarik perhatian adalah Bank Sentral Inggris, yang dipimpin oleh Andrew Bailey. Yang sebelumnya Bank Sentral Inggris tidak akan memberikan indikasi apapun untuk menaikkan tingkat suku bunga, tapi kali ini menjadi sesuatu yang berbeda. Bank Sentral Inggris tampaknya ingin menaikkan tingkat suku bunga pada tahun depan. Apalagi nih pemirsa, inflasi Inggris yang keluar pada pekan ini juga diperkirakan akan mengalami kenaikkan dari sebelumnya 4.2% diproyeksi naik menjadi 4.8%. Terakhir kali, Inggris mampu mengalami kenaikkan inflasi setinggi ini kurun waktu 10 tahun terakhir. Dan berpotensi untuk kembali mengalami kenaikkan hingga 5%, apabila situasi dan kondisi tidak berubah. Setelah dari Jepang, kita mampir untuk makan bakmi pangsit di China. Yang kami khawatirkan adalah kenaikkan tingkat suku bunga The Fed pada tahun depan akan mendorong mata uang Dollar menjadi lebih kuat lagi, hal ini yang akan menjadi ujian bagi negara negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia. Bagi banyak Bank Sentral di seluruh dunia, kehawatirannya hanya 1, yaitu pemulihan ekonomi yang tidak merata di semua negara. Namun bagi perekonomian yang mulai menunjukan pemulihan, maka ada potensi kemungkinan yang sangat besar, bagi para Bank Sentral untuk menaikkan tingkat suku bunga setidaknya 1x pada tahun depan ya. Wild card atau Omicron akan berusaha untuk mencari permainannya sendiri, selama pemerintah mampu mengendalikan Omicron, maka harapan akan pemulihan yang konsisten akan selalu ada. Ingat lho, bukan hanya konsisten, namun juga berkelanjutan. Dari Bank Indonesia sendiri kami melihat mungkin tekanan yang muncul pada pasar obligasi dan Rupiah dalam 1 minggu terakhir akan membuat Bank Indonesia sudah mulai bersiap, sekalipun mereka memiliki jurus triple intervention. Tekanan akan tetap terasa di pasar, meskipun terbatas. Sejauh mana Bank Indonesia mampu menyakinkan pasar, sejauh itu pula volatilitas akan terjaga. Namun, apakah Bank Indonesia akan menggunakan kata-kata yang sama sehingga membuat pelaku pasar dan investor kecewa? Biarlah waktu yang akan menjawabnya nanti.

2.APA YANG DINANTI?

Pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu yang menguat seiring dengan turunnya ketidakpastian pada pasar global dimana risiko juga cenderung lebih rendah dibandingkan pada pekan keempat November dan pekan pertama bulan Desember. Turunnya data pengangguran di amerika dari 227 ribu menjadi 184 ribu turut memberikan kelonggaran pada tensi pasar keuangan dimana naiknya serapan kerja di Amerika mulai membaik saat ini. Membaiknya kepercayaan diri pelaku pasar juga seiring dengan positifnya pertumbuhan penjualan retail bulan Oktober yang tercatat naik +6.5%. Naiknya penjualan retail seiring dengan pelonggaran aktivitas masyarakat dan juga didukung oleh membaiknya distribusi. Pada pekan ini, pelaku pasar dalam negeri akan terfokus pada rilis data neraca perdagangan dimana pertumbuhan diproyeksikan lebih lambat dibandingkan bulan Oktober. Selain itu, pelaku pasar juga akan mencermati langkah dari Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter dimana suku bunga acuan menjadi tolok ukur pelaku pasar terkait pergerakan pasar keuangan ke depan. Inflasi yang masih berada pada 1.75 dinilai masih cukup rendah, sehingga apabila Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan pada akhir Semester II ini tentu akan memberikan dampak yang signifikan pada pergerakan pasar saham maupun obligasi. Kenaikkan tingkat suku bunga bagi kami juga hanya masalah waktu hingga The Fed memberikan aba aba pada pertemuan The Fed pekan ini. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa Bank Indonesia akan mencoba untuk head of the curve dengan menaikkan tingkat suku bunga lebih awal sebelum The Fed menaikkan tingkat suku bunga. Sebagai bagian dari sebuah langkah antisipasi untuk menjaga pasar tetap stabil. Situasi dan kondisi seperti ini tentu membutuhkan pandangan dan kebijakan dari Bank Indonesia untuk menunjukkan kepada kita semua, langkah apa yang akan dilakukan oleh Bank Indonesia apabila hal tersebut terjadi. Memang benar, dampak yang akan terbatas, namun volatilitas bukan berarti menjadi tanpa batas. Secara gejolak dan tekanan, jangka pendek akan tetap terasa. Pertanyaannya adalah, akah kita siap untuk mencoba beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada nanti meskipun pemulihan ekonomi di Indonesia masih belum usai?