Jelang Presidensi 20 di Bali, Pesan Erick Thohir ke PLN : Tidak Boleh Mati Lampu

Foto : Dok. PLN

Pasardana.id - Jelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali pada Oktober 2022, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir meninjau keandalan pasokan listrik PT PLN (Persero) di wilayah tersebut.

Pasalnya, rangkaian pertemuan tingkat tinggi tersebut berlangsung hampir satu tahun di Pulau Bali dengan Indonesia sebagai tuan rumah.

"Tinggal dari sekarang mulai bikin latihan-latihan kecil. Selama sembilan bulan ini saya percaya mesti latihan," katanya dalam keterangan resmi, Senin, (27/12).

Erick meminta para petugas agar tidak kecolongan ketika pertemuan puncak yang dihadiri kepala negara dunia digelar pada Oktober 2022.

Di antaranya; penginapan, venue tempat pertemuan kepala negara, hingga berbagai fasilitas lainnya.

"Itu yang paling penting. Dengan alasan apa pun tidak boleh mati lampu," imbuh Erick.

Lebih lanjut Erick mengapresiasi persiapan PLN yang sudah dilakukan dari jauh hari untuk menyukseskan KTT G20.

Menurut dia, persiapan KTT G20 yang dilakukan oleh PLN sudah sangat memuaskan.

Sementara itu, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menilai, kesuksesan penyelenggaraan G20 Indonesia akan menjadi bukti komitmen PLN dalam mendukung transisi energi berkelanjutan.

"Untuk itu, atas arahan Pak Menteri, PLN harus melakukan persiapan yang matang. Dari pasokan energi primer, pembangkit, transmisi, sampai ke venue-nya," tutur Darmawan.

Untuk memastikan keandalan pasokan listrik selama KTT G20, PLN akan menerjunkan 550 petugas siaga untuk mengamankan pembangkit sampai dengan lokasi venue acara setiap hari.

Mayoritas dari personel ini bertugas mengamankan jalur distribusi sebanyak 436 orang.

Sementara 28 petugas di antaranya, akan siaga di pembangkit Bali dan Jawa, 52 personel akan mengamankan transmisi, 18 petugas piket patroli jaringan, dan 16 orang piket pengatur beban.

"Untuk memastikan keandalan pasokan listrik 24 jam selama kegiatan KTT G20 berlangsung, PLN pun membagi para petugas ini menjadi tiga shift," jelasnya.

Selain itu, PLN juga akan menyiagakan 12 unit mobil Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB), 26 Unit Gardu Bergerak (UGB) dengan total kapasitas 7.660 kilo Volt Ampere (kVA), 55 unit Uninterruptible Power Supply (UPS) berkapasitas 5.370 kVA, 31 unit Genset Mobile berdaya 4.490 kVA.

Selain itu, ada juga 59 unit mobil, 23 unit reaksi cepat, serta 104 unit sepeda motor untuk pelayanan teknik (Yantek).

Dari sisi suplai daya, Darmawan menegaskan, sistem kelistrikan di Bali sudah siap untuk menyelenggarakan pergelaran KTT G20.

Dengan daya mampu sistem sebesar 1.322,1 Mega Watt (MW), beban puncak tertinggi pada 2021 tercatat sebesar 754,6 MW. Sehingga masih ada cadangan daya atau reserve margin sebesar 567,8 MW atau 42,9 persen.

"Khusus KTT G20, kita akan tingkatkan 40 persen, sambil kita tingkatkan utilisasi aset," tegas Darmawan.

Saat ini, katanya, PLN sudah melakukan proses relokasi pembangkit dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Gratis ke Pembangkit Listrik tenaga gas (PLTG) Pesanggaran sebesar 100 MW.

Proses ini ditargetkan rampung pada Oktober 2022, sehingga pada waktu KTT berlangsung total daya mampu sistem di Bali akan memiliki kapasitas sebesar 1.422,1 MW.

"Kalau perlu (beban puncak) meningkat. Sehingga KTT G20 menjadi berkah bagi PLN," ucapnya.

PLN juga akan menambah jumlah SPBU listrik menjadi 21 unit lantaran 500 delegasi akan menggunakan mobil listrik di area KTT G20.

Seluruh SPKLU yang akan dibangun ini merupakan tipe Fast Charging dengan rincian 12 unit tipe 25 kilo Watt (kW) dan sembilan unit tipe 50 kW.