Kasus Covid-19 Masih Tinggi, Pemulihan Ekonomi Indonesia Diprediksi Berjalan Lambat

Foto : istimewa

Pasardana.id - Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Bhima Yudhistira memperkirakan, bahwa pemulihan ekonomi Indonesia akan berjalan lebih lambat dibandingkan proyeksi.

Pasalnya, tingkat kasus positif Covid-19 masih tinggi, yang berpotensi menghambat laju aktivitas perekonomian.

"Ada vaksin tetapi kasus harian tinggi, akhirnya banyak yang khawatir tertular virus ketika belanja, jalan-jalan atau makan di luar rumah. Kinerja konsumsi rumah tangga bisa kontraksi cukup dalam di kuartal I 2021. Awalnya ada optimisme, tapi sepertinya pemulihan ekonomi berjalan lebih lambat dari ekspektasi," ujar Bhima, Senin (25/1/2021) lalu.

Merujuk pada situs resmi Kawal Covid-19, per Selasa (26/1), jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah melampaui angka 1 juta.

Menurut Bhima, realisasi ini akan berdampak pada rasa takut masyarakat untuk beraktivitas seperti biasa.

Kebijakan pembatasan aktivitas sosial dan ekonomi pun berpotensi untuk diterapkan secara lebih ketat.

Rentetan efek ini diproyeksikan menyebabkan konsumsi rumah tangga yang menjadi tulang punggung struktur perekonomian Indonesia mengalami kontraksi pada kuartal pertama 2021.

Bhima menerangkan, kasus harian yang masih tinggi serta penerapan pembatasan sosial akan berdampak pula pada masyarakat yang menahan diri untuk berbelanja. Bahkan menurutnya, saat ini pemilik rekening di bawah Rp 100 juta turut melakukan penghematan.

"Sebelumnya, kelas atas yang tahan uang di bank terlihat dari pertumbuhan simpanan yang tinggi. Saat ini ada kecenderungan pemilik rekening di bawah Rp 100 juta berhemat, bahkan yang sudah diberi insentif tunai dari pemerintah juga tidak langsung membelanjakan uangnya," jelas Bhima.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebutkan, perekonomian Indonesia semakin pulih dari pandemi. Keyakinan ini tergambarkan dari tren positif beberapa indikator.

Salah satu indikator yang disebutkan Airlangga adalah indeks keyakinan konsumen. Indeks ini sudah berada di level 96,5 pada bulan lalu.

"Kita harapkan bisa terus terprogress sampai 100 persen," ucapnya dalam Webinar Akselerasi Pemulihan Ekonomi Indonesia baru-baru ini.

Sentimen positif juga terlihat pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada bulan ini, Perbaikan ini menunjukkan bahwa kepercayaan dari investor terhadap situasi Indonesia sudah meningkat dibandingkan saat awal pandemi.

"Kita lihat juga terkait dengan rupiah dengan indeks 100 per 31 Maret 2020. Indonesia adalah salah satu negara yang mampu menjaga pergerakan nilai tukar dibandingkan dengan negara-negara lain," tutur Airlangga.

Dengan berbagai indikator ini, Airlangga optimistis, perekonomian Indonesia pada 2021 akan mampu tumbuh sekitar 4,5 - 5,5 persen.

Proyeksi ini jauh lebih baik dibandingkan perkiraan kontraksi 2,2 - 1,7 persen sepanjang 2020 lalu.