Hadapi Kontraksi Ekonomi, Pemerintah Percepat Realisasi Belanja Guna Pulihkan Ekonomi Nasional

foto : istimewa

Pasardana.id - Berdasarkan angka yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini (5/8), ekonomi Indonesia pada triwulan II 2020 terkontraksi sebesar 5,32 persen dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu.

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2020 dibandingkan dengan semester I-2019 terkontraksi 1,26 persen.

“Di seluruh dunia maupun di Indonesia, penyebaran wabah Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Dampak krisis kesehatan memberikan efek domino terhadap aspek sosial, ekonomi, serta keuangan seiring dengan pembatasan aktivitas masyarakat dalam rangka membatasi penyebaran wabah,” tutur Menko Airlangga pada Konferensi Pers Strategi Pemulihan Ekonomi Nasional dan Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi di Jakarta, Rabu (5/8).

Menko Perekonomian menyebutkan, upaya Pemerintah untuk bertahan di tengah Pandemi Covid-19 setelah mengalami kontraksi di triwulan II 2020 ini adalah bahwa Pemerintah melakukan langkah extraordinary untuk mendorong ekonomi agar dapat bertahan di triwulan III dan IV tahun 2020.

Langkah tersebut perlu diambil agar Indonesia terhindar dari resesi.

“Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha termasuk BUMN harus ikut berpartisipasi,” ujar Airlangga.

Strategi utama dalam mempercepat pemulihan ekonomi adalah melalui peningkatan belanja pemerintah.

Optimalisasi belanja pemerintah melalui implementasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), peningkatan daya beli masyarakat dan dukungan di sektor, diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi di triwulan III dan IV.

Pemerintah pun telah membentuk “Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional”.

Pembentukan Komite tersebut akan meningkatkan koordinasi dan pelaksanaan kebijakan dalam menangani pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional sehingga perencanaan dan eksekusi kedua target kesehatan dan ekonomi dapat berjalan beriringan dan tercapai sekaligus.

Program penanganan Covid-19 yang lebih serius dan terstruktur diharapkan akan memulihkan kepercayaan masyarakat dan rumah tangga untuk melakukan aktivitasnya termasuk belanja/konsumsi/investasi.

Sementara itu, penanganan dari aspek Kesehatan, meliputi ; memperbanyak 3T (Testing,Tracing,Treat)  dan kampanye 3M (Mencuci tangan, Masker, Menjaga jarak) secara luas kepada masayrakat dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Selain itu, pengadaan obat dan persiapan produksi dan distribusi vaksin hingga satu tahun ke depan harus dilakukan.

“Melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional, Pemerintah berkomitmen untuk tetap mempertahankan daya beli masyarakat dan permintaan dalam negeri. Daya beli masyarakat akan terjaga melalui bansos dan subsidi, sementara dukungan yang diberikan kepada dunia usaha akan menjaga permintaan dalam negeri,” tutur Airlangga.

Lebih lanjut, dalam rangka mempercepat pemulihan ekonomi, perlu upaya optimalisasi implementasi Program PEN dalam memberikan dukungan kepada masyarakat dan kepada dunia usaha.

Saat ini, upaya akselerasi implementasi modalitas PEN telah dilakukan dalam bentuk restrukturisasi dan penjaminan kredit modal kerja UMKM dan korporasi padat karya; serta penempatan dana pemerintah di bank umum mitra dan BPD untuk selanjutnya kredit dikucurkan kepada sektor riil, UMKM dan dunia usaha.

Selain itu juga berupa dukungan bagi pemerintah daerah, salah satunya melalui pinjaman daerah, serta dukungan insentif listrik bagi industri, bisnis, dan sosial.

Menko Perekonomian juga mengungkapkan, pemerintah Indonesia bertekad bertahan dalam badai dan mengambil langkah dan program yang dikelompokkan dalam 3 kelompok, yaitu:

Pertama, Indonesia aman dan sehat, dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat.

Kedua, Indonesia berdaya dan bekerja, untuk menumbuhkan daya beli dan lapangan pekerjaan

Ketiga, Indonesia bertumbuh dan bertransformasi, ketika kita justru harus memanfaatkan peluang dari pandemi ini.