ANALIS MARKET (30/6/2020) : Pasar Obligasi Bervariatif, Investor Menanti Hasil Lelang

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi masih bergerak menguat untuk obligasi 5y, namun mengalami pelemahan untuk obligasi berdurasi 10y, 15y, dan 20y.

Ditengah semakin meningkatnya ketidakpastian, tentu hal tersebut membuat pasar obligasi menjadi semakin rentan untuk mengalami fluktuasi, apalagi ditambah dengan hadirnya lelang esok hari yang membuat pasar obligasi mengalami pelemahan.

Biasanya sih gitu, untuk mendapatkan imbal hasil yang tinggi pada saat lelang esok hari.

Lelang kali ini ditengah situasi dan kondisi yang penuh dengan tekanan, tentu lelang kali ini akan bajir dengan penawaran yang berminat terhadap obligasi jangka pendek.

Obligasi jangka panjang kami melihat ada potensi untuk mendatang penawaran, tapi seperti biasa tidak akan seheboh obligasi jangka pendek.

Kami berharap lelang kali ini memberikan intensi bagi para pelaku pasar dan investor, karena kalau melihat pergerakan harga obligasi yang cenderung tidak bergerak kemana mana, ditambah lagi dengan tidak adanya pergerakan dari porsi kepemilikkan asing.

Kami melihat bahwa asing masih cenderung wait and see terkait dengan situasi dan kondisi saat ini.

Amerika dan China juga kembali bersitegang yang membuat tampaknya investor asing masih cenderung mengamati untuk mulai masuk ke dalam pasar, karena sewaktu waktu tingginya tensi antara Amerika dan China dapat membuat kesepakatan tahap pertama gagal.

Pertanyaannya adalah, ketika tensi dan ketidakpastian meningkat, apakah obligasi Indonesia menjadi pilihan bagi para pelaku pasar dan investor menjadi tempat untuk berinvestasi?

Lebih lanjut analis Pilarmas menilai, diperdagangan Selasa (30/6) pagi ini, pasar obligasi diperkira akan dibuka bervariatif dan akan bergerak setelah hasil lelang keluar. Total penawaran yang masuk akan berkisar IDR 50 T – IDR 75 T, lebih dari itu masih menunjukkan bahwa keyakinan terhadap perekonomian Indonesia masih tinggi, dan hanya menunggu moment untuk masuk. Daya serap pemerintah tinggi atau tidak melalui lelang tersebut akan memberikan pengaruh terhadap pergerakan Rupiah hari ini.

Adapun cerita di akhir bulan July ini akan kita awali dari;

1.PERINGATAN POWEL

Jerome Powell kembali memberikan pesan kepada dunia bahwa betapa pentingnya untuk menjaga tingkat penularan virus corona didalam pemulihan ekonomi Amerika yang mengalami kontraksi dalam beberapa dekade. Powell mengatakan bahwa kita telah berada dalam fase baru yang lebih penting dan melakukan banyak hal lebih cepat dari yang kita harapkan. Lonjakan kegiatan perekonomian juga disambut baik dan tetap memberikan tantangan baru, yaitu menjaga virus agar tetap terkendali. Dalam rilisnya, The Fed mengatakan bahwa The Fed dan Treasury telah bekerja sama untuk meluncurkan 9 program pinjaman darurat yang ditujukan untuk memberikan kredit untuk usaha skala menengah. Tindakan tersebut dilakukan untuk membantu menurunkan biaya pinjaman dan menjaga system keuangan untuk tetap stabil ditengah situasi dan kondisi yang berada dalam tekanan, dan memberikan dorongan kepada pasar saham agar bergerak menguat lebih tinggi. Tidak hanya itu saja, anggota parlemen Amerika sejauh ini juga telah menyetujui hampir $3 triliun untuk mendukung usaha kecil dan memberikan tunjangan asuransi kepada jutaan pekerja yang telah kehilangan pekerjaannya. Powell mengatakan bahwa dirinya optimis ketika melihat geliat aktivitas perekonomian meskipun ada lebih dari 20 juta orang di Amerika telah kehilangan pekerjaan mereka. Kedepannya perekonomian tidak pasti, namun keberhasilan kita tergantung dari bagaimana kita mengendalikan virus. Pada akhirnya tentu kami senang, akhirnya Om Powell juga bisa memberikan pemahaman bahwa pengendalian merupakan hal yang terpenting ketika vaksin virus belum dapat ditemukan. Bangkitnya perekonomian Indonesia tidak hanya semata mata berdasarkan geliat ekonominya saja, namun juga berdasarkan keberhasilan pemerintah untuk melakukan mitigasi resiko. Sebagai penutup Powell juga mengatakan bahwa jangan menarik stimulus yang sudah diberikan, karena kebijakan yang akan diambil tentu akan memberikan pengaruh terhadap pemulihan ekonomi kedepannya.

2.BELUM BERAKHIR

Direktur Jenderal WHO mengatakan bahwa penyebaran wabah virus corona semakin meningkat diseluruh dunia karena banyak negara yang membuka kembali perekonomiannya. Meskipun banyak negara yang membuat kemajuan, namun secara angka yang terkontaminasi virus corona sebenarnya sedang mengalami peningkatan. Tedros mengatakan bahwa kita ini semua mengatakan bahwa ini telah berakhir, namun pada kenyataannya bahwa ini belum berakhir. Sejauh ini virus tersebut telah menginfeksi lebih dari 10.1 juta orang di seluruh dunia dan telah menewaskan lebih dari 502.000 orang sejauh ini, dan lebih dari 23% dari 189.077 kasus baru berasal dari Amerika. Beberapa negara saat ini tengah mengalami lonjakan kasus dan tentu saja masih banyak orang yang rentan terkena virus corona ini. Negara negara harus berkumpul untuk belajar dan berbagi pengalaman dari negara yang satu kepada negara yang lain, dan saat ini kita masih kurang dalam hal solidaritas global. Tedros mengingatkan bahwa yang terburuk belum datang. L Sebuah pertanda tampaknya bahwa wabah virus corona masih akan memberikan gelombang berikutnya yang dapat menekan kembali perekonomian. Di Indonesia sendiri kami melihat kemungkinan terjadinya V Shaped dalam perekonomian masih mungkin terjadi meskipun memiliki tingkat probabilitas yang kecil. Mengapa demikian? Karena lonjakan virus yang terjadi dalam setiap hari nya memberikan penekanan bahwa virus tersebut masih belum dapat dikendalikan dan dapat menekan perekonomian karena adanya penurunan daya beli. Nomura sendiri memberikan perkirakan bahwa ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi hingga 3.2% tahun ini, dimana deficit akan meningkat menjadi 7.5% dari GDP.

3.AMERIKA VS CHINA, ANTARA AKU DAN DIA

Amerika dan China kembali membuat kehangatan di tengah tengah pasar yang diselimuti ketidakpastian. Amerika dan China kembali membuat daftar hitam perusahaan dari kedua negara tersebut, mulai dari melarang penerbangan hingga mengusir jurnalis. Kali ini perlawanan akan sengit dan terjadi di bawah meja yang dimana kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Ada cukup banyak perusahaan perusahaan Amerika yang berinvestasi jangka panjang di China, karena pasarnya begitu menjanjikan dan begitu besar. China sejauh ini akan terus menghindari langkah langkah yang membuat situasi dan kondisi menjadi boomerang bagi mereka. Kali ini kami melihat bahwa sentimen mengenai China akan membuat China tampaknya juga memilih kepada siapa China akan jatuh hati terkait dengan pemilihan Presiden yang akan datang. Apakah Trump dengan luka lamanya, atau Biden dengan cinta barunya. Sentimen tentang China mungkin akan menjadi salah satu bahan pemilu dari kedua belah pihak dalam kampanye mendatang. Amerika sejauh ini telah memblokir China Mobile Ltd, sebuah operator seluler terbesar di dunia dari China Mobile Ltd. untuk masuk ke dalam pasar Amerika. Tidak hanya itu saja, armada pemerintah Amerika juga telah menghancurkan drone buatan China dan mulai memperkecil transformator buatan China pada jaringan Listrik di Amerika. Tidak hanya itu saja, berita yang selalu kita dengar tentang Huawei, juga selalu ada diantara China dan Amerika tatkala Trump menginginkan untuk membatasi pergerakan Huawei. Sebagai balasannya, China mencegah maskapai penerbangan Amerika untuk memasuki China selama lebih dari 2 bulan, setelah sebelumnya Amerika memberikan pembatasan visa terhadap jurnalis China, dan dibalas kemudian oleh China dengan mengusir jurnalis Amerika. Dan yang membuat nyala api semakin panas adalah ketika Pentagon mengatakan bahwa Huawei merupakan salah satu perusahaan yang dimiliki atau dikendalikan oleh militer China, sehingga membuat pengawasan terhadap Huawei semakin meningkat. Sontak hal ini membuat China marah dan menuduh bahwa Pemerintah Amerika telah melanggar prinsip ekonomi pasar. Serasa masih kurang hangat, Amerika juga mencegah pembelian peralatan dari China yang dimana peralatan tersebut akan digunakan untuk mengganti komponen yang sudah tua dalam jaringan Listrik negara. Perusahaan yang memasuk komponen tersebut adalah Jiangsu Huapeng Transformer yang dimana mereka mengatakan bahwa mereka telah memberikan supply suku cadang ke Amerika selama hampir 15 tahun tanpa ada satu pun yang dibatalkan. Ini merupakan pembatalan pertama kali. Kami melihat Trump semakin berusaha menekan China meskipun tidak mengkhianati kesepakatan dagang yang pertama, tapi kami melihat bahwa apa yang dilakukan Trump akan berpotensi untuk memberikan dorongan kesepakatan tersebut dapat dibatalkan kapan saja. Tidak hanya itu saja, meningkatnya ketegangan antara Amerika dan China tentu saja dapat memperlambat pemulihan ekonomi, karena dengan terhambatnya rantai pasokan dari China, tentu akan membuat manufacture di Amerika juga tentu akan mengalami kendala. Pertanyaannya adalah, apakah bisa, Amerika melepas China dari rantai pasokan industry di Amerika?

“Menyikapi beragam kondisi tersebut diatas, kami merekomendasikan ikuti lelang hari ini, pasang obligasi jangka pendek 75%, dan 25% untuk obligasi jangka panjang,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Selasa (30/6/2020).