Tentang RUU Omnibus Law, Faisal Basri : Jauh Panggang Dari Api

Foto : istimewa

Pasardana.id - Ekonom dari Universitas Indonesia Faisal Basri menentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law yang diusulkan oleh pemerintah.

Dirinya menilai landasan awal pembentukan RUU Omnibus Law yaitu percepatan investasi sebagai hal yang keliru. 

Dirinya menentang dan menilai RUU Omnibus Law bukan strategi untuk transformasi ekonomi.

Bahkan, menurutnya percepatan investasi dengan Omnibus Law diibaratkan jauh panggang dari api.

"Jadi menurut saya jauh panggang dari api kalau Omnibus Law ini," ujarnya di Jakarta, Kamis (27/2/2020).

Tak hanya itu, Faisal menilai Investasi dalam negeri tidak terlalu buruk.

"RUU ini awalnya percepatan investasi. Jadi tesis awalnya saja sudah runtuh, Investasi kita tidak jelek-jelek sekali," lanjutnya.

Ia membenarkan, investasi di Indonesia kerap jeblok, namun hanya di tahun pemilu. Rinciannya yaitu; minus 18,2 persen pada pemilu 1999, minus 45,49 persen pada 2004, 3,29 pada 2009, 4,45 persen pada 2014, dan bertahan 4,45 pada 2019.

“Karena barangkali (investor) nunggu-nunggu.” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi Investasi dalam negeri pada triwulan IV (Oktober-Desember) 2019 sebesar Rp 208,3 triliun.

Angka ini meningkat 12 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018.

Sementara tahun ini, BKPM menargetkan realiasasi Investasi PMDN dan PMA pada sebesar Rp886,3 triliun atau naik 9,6 persen dari tahun lalu.

Selanjutnya, sepanjang periode 2020-2024 BKPM membidik rata-rata pertumbuhan Investasi sebesar 11,7 persen secara tahunan.