ANALIS MARKET (30/11/2020) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Jumat, 27/11/2020 lalu, IHSG ditutup menguat 23 poin atau 0,40% menjadi 5,783. Sektor perkebunan, property, pertambangan, perdagangan, infrastruktur, industri konsumsi bergerak positif dan menjadi kontributor terbesar pada penguatan IHSG kemarin. Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar 1 triliun rupiah.

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.BOLLYWOOD TERKEJUT!

Bollywood terkejut, hati berdenyut. Tatkala data pertumbuhann ekonomi India yang keluar kemarin menunjukkan perbaikan, namun masih berada dalam territory negative. Yang itu artinya pada akhirnya India pun harus menyerah terhadap wabah virus corona yang membuat perekonomiannya mengalami resesi pertamanya. Pada akhirnya data pertumbuhan ekonomi yang keluar kemarin akan menjadi salah satu tolok ukur bagi pertemuan Bank Sentral India yang akan berlangsung pada pekan ini pada tanggal 4 December mendatang. Sejauh ini Bank Sentral sangat mendukung dan melakukan apapun yang diperlukan untuk mendorong perekonomian India untuk dapat bertahan, namun pada kenyataannya perekonomian tidak dapat bertumpu hanya kepada Bank Sentral, namun juga harus ada kaki kedua yaitu pemerintah. Pemulihan ekonomi di India mungkin tidak akan merata, sama seperti beberapa negara yang lain yang merasakan efek akibat wabah virus corona. Apakah mungkin India akan pulih? Dengan situasi dan kondisi saat ini yang masih berada dalam tekanan yang cukup berat, kami memperkirakan bahwa fase pemulihan akan berlangsung lebih lama. Harapannya adalah pemerintah dapat segera memberikan bantuan melalui kebijakan fiscal untuk mendorong perekonomian agar dapat pulih lebih cepat. Insentif pajak serta memberikan kebijakan baru di bidang manufacture yang akan membuat pemulihan ekonomi berlangsung lebih cepat, namun tidak lupa bahwa pengendalian wabah virus corona masih menjadi kunci. Entah mau sampai kapan negara negara yang terkena wabah virus corona termasuk kita dapat segera menyadarinya untuk membuat system pengendalian wabah virus corona sehingga dapat membuat perekonomian bisa berjalan sebagaimana mestinya. Dengan situasi dan kondisi saat ini, mungkin tahun 2021 akan menjadi tahun yang sulit, namun tidak sesulit tahun 2020 namun memberikan harapan yang lebih baik. Sejauh ini berdasarkan data yang tersedia, sector pertanian dan perekonomian di pedesaan masih memberikan prospek yang lebih baik. Hal ini membuat pemerintah akan mendorong lebih banyak stimulus untuk daerah daerah tersebut. Dari data yang tersedia berdasarkan komponen data pertumbuhan ekonomi India, sector manufacture masih mengalami kenaikkan 0.6% secara YoY pada kuartal ke dua, setelah sebelumnya mengalami penurunan yang cukup dalam pada kuartal satu. Kontraksi yang terjadi pada sector perdagangan grosir, hotel, transportasi, dan jasa komunikasi sudah menjadi lebih baik pada kuartal ke 2 yang dimana hal tersebut memberikan gambaran adanya kenaikan belanja konsumen, namun yang masih menjadi kekhawatiran adalah lockdown di India yang masih terus dilakukan untuk mengendalikan penyebaran wabah virus corona sehingga ada potensi sector ini akan mengalami tekanan kembali kedepannya. Kontraksi yang mengkhawatirkan justru terjadi disektor keuangan, real estate, dan layanan Informasi dan teknologi yang turun lebih dalam dari sebelumnya -5.3% menjadi -8.1%. Tadinya kami harapkan bahwa di sector real estate dapat bertahan, namun pada kenyataannya sector property selalu lebih pahit. Sektor keuangan dan layanan informasi dan teknologi pun justru tidak bisa menjadi bantalan penyambung perekonomian India. Administrasi layanan masyarakat dan pertahanan juga mengalami penurunan, hal ini menjadi sebuah gambaran bahwa belanja pemerintah juga mengalami penurunan namun dapat di imbangi dengan kenaikkan layanan social yang diberikan oleh pemerintah. Saat ini India sudah menjadi negara tertinggi kedua setelah Amerika dengan 9.3 juta kasus yang menyebar. Hal ini akan menjadi tantangan utama bagi negara dengan ekonomi terbesar ketiga di Asia, apakah dapat bertahan atau tidak yang menjadikan ini sebuah pertaruhan perekonomian di masa depan bagi India. Sejauh ini pemerintah dan Bank Sentral telah memberikan stimulus dengan total 30 triliun rupee atau $405 miliar atau setara dengan 15% dari GDP. Bank sentral India juga sudah memangkas tingkat suku bunga sebanyak 115 bps tahun ini, dan akan mencoba melakukan meeting kembali pada pekan ini. Meningkatnya daya beli masyarakat India akan menjadi salah satu point penting saat ini karena dapat mendorong pemulihan lebih cepat. Semua Bollywood dapat bangkit sehingga perekonomiannya dapat kembali bergoyang.

2.KISAH SI MINYAK HITAM

Ingat lho ya pemirsa, ini minyak hitam bukan minyak sayur. Pada akhirnya setelah sekian lama nih ya pemirsa, para Menteri akan berkumpul dalam acara OPEC+ yang akan diadakan minggu ini yang akan diadakan di Wina, Austria. OPEC+ harus memberikan kepastian, ingat lho bukan hanya hubungan saja yang membutuhkan kepastian, duileee, ini harga minyak juga membutuhkan kepastian. Apakah akan ada penundaan peningkatan produksi atau tidak pada bulan January nanti. Sejauh ini permintaan akan minyak dan solar di pasar sudah mulai pulih dengan kisaran 90%, namun konsumsi bahan bakar pesawat masih mengalami penurunan sekitar 50%. OPEC+ diperkirakan akan membahas mengenai ketidakmerataan pemulihan perekonomian di masing masing negara, sehingga membuat situasi dan kondisi kian semakin pelik. Selain itu mereka juga akan membahas mengenai kualitas minyak mentah. Terkait dengan produksi minyak mentah dari Arab Saudi, Rusia, dan produsen besar lainnya sudah melakukan pengurangan, namun Libya mulai kembali masuk ke dalam pasar yang dimana membuat supply mengalami kenaikkan namun masalahnya konsumsi minyak di laut utara berkurang. Yang membuat harga minyak berpotensi mengalami penurunan kembali. Hal ini yang membuat para anggota OPEC+ menjadi sakit kepala, karena situasinya semakin rumit. Sehingga lagi lagi, para anggota OPEC+ hanya bisa melakukan menaikkan atau menurunkan tingkat kapasitas produksi secara keseluruhan. Sejauh ini konsumsi minyak di Asia menurut kami masih menjadi penolong seperti China, India, Jepang, dan Korea selatan, sedangkan Eropa dan Amerika masih lemah dalam sisi permintaan. Ada perbaikan, namun tidak merata, ada harapan namun masih ada ketidakpastian. Sejauh ini harga minyak masih jauh lebih baik, dan berpotensi semakin baik menjelang Natal dan Tahun baru. Kehadiran vaksin mungkin akan menjadi salah satu harapan harga minyak akan mengalami kenaikan tahun depan, meskipun distribusi vaksin masih antah berantah kapan dapat dilakukan di seluruh dunia. Namun apabila vaksin berhasil, tentu akan menjadi salah satu point yang sangat baik untuk keseimbangan harga minyak, dimana supply dan demand akan bertemu. OPEC sendiri percaya bahwa persediaan global akan mengalami peningkatan sebanyak 200.000 per hari pada kuartal pertama 2021. Sejauh ini sebagian peserta masih setuju untuk mempertahankan pembatasan produksi hingga kuartal pertama tahun depan. Namun Uni Emirat Arab dan Kazakhstan masih menentang hal tersebut. Apabila nantinya kesepakatan untuk pemotongan produksi di revisi, maka mereka akan kembali menghasilkan minyak sebanyak 1.9 juta barel per hari dari produksi yang sebelumnya di hentikan yang dimana kenaikkan produksi tersebut akan membuat harga minyak mengalami penurunan dan merusakan harga minyak saat ini yang dimana sedang berada dalam harga yang cukup stabil. Kedepannya pasar masih akan menunggu rapat tertutup pada hari Senin dan Selasa untuk memberikan kejelasan kepada kita semua apa yang akan mereka lakukan kedepannya.

3.ANTARA USAHA DAN DOA

Anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 yang ditetapkan sebesar Rp356,5 triliun dinilai tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Jumlah tersebut jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan anggaran program PEN 2020 yang sebesar Rp695,2 triliun. Berdasarkan data tersebut, terdapat pemotongan lebih dari 50% pada komponen UMKM dan insentif usaha yang dinilai akan mempengaruhi pemulihan ekonomi di 2021. Kami melihat anggaran program PEN yang lebih yang lebih kecil pada 2021 tidak akan cukup mendorong, baik pada sisi penawaran maupun permintaan. Sehingga, di khawatirkan juga keyakinan konsumen belum akan pulih pada tahun depan. Selain itu permasalahan dari meningkatnya pengangguran dinilai menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Hal ini memicu daya beli masyarakat yang melambat sebagai dampak dari meningkatnya jumlah pengangguran. Pemerintah mencatat angka pengangguran di Indonesia per Agustus 2020 bertambah sebanyak 2,67 juta orang menjadi 9,77 juta orang. Jumlah tersebut menyebabkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami kenaikan menjadi 7,07% dari 5,23% pada Agustus 2019. Sementara itu, jumlah angkatan kerja yang terdampak Covid-19 tercatat ada sebanyak 29,12 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2,56 juta orang merupakan pengangguran, 700.000 orang bukan angkatan kerja, 1,77 juta orang sementara tidak bekerja, dan 24 juta orang bekerja dengan jam yang lebih rendah. Mengacu dari data tersebut untuk mengembalikan daya beli masyarakat yang hilang sebagai dampak dari pandemi covid-19, pemerintah perlu menekan angka pengangguran di tahun mendatang. Dengan asumsi adanya ekspansi dari bisnis riil sektor, setidaknya ada 4 hingga 5 juta tenaga kerja yang harus terserap. Jumlah ini 50% dari jumlah pengangguran yang bertambah pasca pandemi covid-19. Tentu harapannya adalah bahwa proses pemulihan dapat berjalan dengan baik, namun proses pemulihan ini membutuhkan pengawalan. Syukur syukur kalau memang vaksin sudah ada, mobilitas akan mengalami peningkatan, bisnis akan berjalan, tingkat tenaga kerja akan naik, daya beli akan pulih, dan ekonomi kembali bangkit. PEN dalam jumlah kecil pun kami yakin akan lebih dari cukup untuk mendorong perekonomian. Bagaimana kalau skenario terbaik tersebut gagal?

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat terbatas dan ditradingkan pada level 5,662 – 5,828,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (30/11/2020).